ARASYNEWS.com — Hijrah dapat berarti berpindah meninggalkan tempat, tempat yang buruk, tidak aman, atau tempat yang melarang kita taat kepada Allah menuju lingkungan yang mendukung ibadah. Dapat juga melakukan perubahan pada diri untuk menjadi lebih baik.
Berubah sikap dari perbuatan dosa menuju ketaatan, serta memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih patuh pada ajaran Islam.
Namun, seringkali kita memaknai hijrah secara sempit—sekadar perpindahan Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam melalui ayat-ayat Al-Qur’an dan sabda Rasulullah ﷺ, hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas, lebih dalam, dan sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini.
Hijrah dalam Al-Qur’an bukan sekadar pindah atau mengganti tempat. Ia adalah perjalanan hati, transformasi jiwa, dan keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang tidak diridhai Allah menuju kehidupan yang lebih baik. Meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan tekanan yang dialami.

Ayat Al-Qur’an tentang hijrah untuk pindah ke tempat atau kondisi yang lebih baik tercantum dalam beberapa Surah yang tertulis di dalam Al-Qur’an.
Ayat-ayat ini menjelaskan janji Allah berupa tempat yang luas, rezeki yang banyak, serta balasan rahmat bagi siapa saja yang berhijrah di jalan-Nya.
Surah An-Nisa Ayat 100,
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Artinya: “Siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Menjelaskan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah karena tertindas akan mendapatkan tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak di bumi.
Barang siapa keluar dari rumahnya dengan niat berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian mendapatinya, maka pahalanya sungguh telah ditetapkan di sisi Allah.
Ayat ini menjadi patokan utama dalam pembahasan hijrah. Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk memberikan semangat kepada kaum muslimin yang ragu meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Allah menjanjikan muraghaman (tempat berlindung) yang luas dan sa’atan (kelapangan rezeki) bagi siapa pun yang berhijrah karena-Nya.
Surat An-Nahl Ayat 41
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ۖ وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.”
Menyatakan bahwa orang yang berhijrah karena dizalimi atau dianiaya akan diberikan tempat yang baik di dunia.
Balasan di akhirat jauh lebih besar jika mereka mengetahui dan bersabar.
Diturunkan ayat ini berkenaan dengan hijrahnya para sahabat yang meninggalkan Makkah setelah mengalami penganiayaan dari kaum Quraisy. Allah menjanjikan dua bentuk pahala sekaligus: hasanah fid-dunya (kebaikan di dunia) berupa ketenteraman dan kedudukan yang baik, serta pahala akhirat yang jauh lebih besar.
Surat Al-Baqarah Ayat 218
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Menyebutkan bahwa orang-orang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah adalah mereka yang mengharapkan rahmat Allah.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya yang mau berubah.
Ayat ini dengan indah merangkai tiga amal mulia: iman, hijrah, dan jihad. Dalam tafsirnya, ayat ini menjelaskan bahwa hijrahnya seseorang yang memiliki tujuan hanya untuk mencari ridha dan rahmat dari Allah, serta berjihad hanya mengharapkan ampunan dari Allah semata.
Surah at Taubah ayat 20
Allah ﷻ berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.”
Ayat ini menegaskan bahwa hijrah itu bentuk jihad—perjuangan total dengan harta dan jiwa. Mereka yang beriman, kemudian berhijrah, lalu berjihad, akan memperoleh derajat tertinggi di sisi Allah dan meraih kemenangan sejati.
Surah at Taubah ayat 100
Allah ﷻ berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.”
Ayat ini merupakan puncak kemuliaan bagi para muhajirin dan anshar. Allah secara khusus menyebut mereka sebagai as-sabiqunal awwalun (yang terdahulu lagi pertama-tama), dan menjanjikan keridhaan-Nya serta surga yang kekal. Ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan hijrah dalam pandangan Allah.
Surah Al-Anfal ayat 72, 74, 75
Allah ﷻ berfirman dalam tiga ayat beruntun di Surah Al-Anfal yang menjelaskan bahwa iman yang sejati dibuktikan dengan hijrah dan jihad di jalan Allah. Orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijrah tidak memiliki ikatan kewarisan dengan orang-orang yang berhijrah, sampai mereka berhijrah juga.
Selain itu ada beberapa lainnya lagi surah yang menyebutkan dan menjelaskan tentang hijrah. Yang menjanjikan pengampunan dan surga bagi orang-orang yang berhijrah dan disakiti di dunia di jalan Allah.
Hijrah akan terus menjadi jalan bagi siapa pun yang mendambakan kehidupan yang lebih dekat dengan-Nya.

Disisi lain, Hijrah juga mencakup makna dimensi batiniah: meninggalkan maksiat menuju ketaatan, meninggalkan kelalaian menuju kesadaran, dan meninggalkan kebiasaan buruk menuju akhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
ﻭَﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮُ ﻣَﻦْ ﻫَﺠَﺮَ ﻣَﺎ ﻧَﻬَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪ
“Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa inti hijrah terletak pada keberanian meninggalkan dosa. Seseorang belum disebut sebagai muhajir sejati jika ia hanya berpindah tempat, namun masih membawa serta kebiasaan buruk dan maksiat dalam dirinya.
Setiap waktu yang berlalu adalah kesempatan untuk memulai hijrah baru menuju ridha Allah SWT.
“Wallahu a’lam bish-shawab” (وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ), “Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya”.
[]
Sc. Qurancordobacom