Orang Miskin Tapi Pura-pura Kaya, dan Orang Kaya Tapi Pura-pura Miskin
ARASYNEWS.com — Dalam Islam, kaya dan miskin bukanlah ukuran kemuliaan. Keduanya adalah ketetapan dan bentuk ujian dari Allah SWT agar manusia saling melengkapi dan diuji amal perbuatannya. Kemuliaan seseorang di sisi Allah hanya dinilai dari tingkat ketakwaannya.
Kaya dan miskin merupakan bagian dari takdir. Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan penuh hikmah.
Kaya atau miskin juga bukan tolok ukur kasih sayang. Memiliki harta banyak atau sedikit tidak berarti Allah lebih mencintai atau membenci seseorang.
Mereka yang berusaha atau tidak maka dapat merubah nasib hidupnya atas izin Allah.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati (merasa cukup dan qana’ah), bukan sekadar banyaknya harta benda.
Bentuk Ujian bagi Orang Kaya
-Ujian syukur: Orang kaya diuji apakah ia bersyukur dan menggunakan hartanya di jalan yang benar.
-Kewajiban berbagi: Ada hak orang lain (seperti zakat, infak, dan sedekah) yang dititipkan Allah di dalam harta orang kaya.
-Pertanggungjawaban: Harta akan ditanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan di akhirat kelak.
Bentuk Ujian bagi Orang Miskin
-Ujian kesabaran: Orang miskin diuji untuk tetap sabar, tidak berputus asa dari rahmat Allah, dan tetap berikhtiar.
-Keutamaan di akhirat: Orang fakir dan miskin yang beriman dijanjikan kemudahan hisab dan mendahului masuk surga dibandingkan orang kaya karena beban pertanggungjawaban harta yang lebih ringan.
Lantas, bagaimana dengan orang yang berpura-pura?
- Orang Kaya tapi Berpura-pura Miskin
Dalam Islam, berpura-pura miskin padahal memiliki kemampuan finansial atau fisik adalah perbuatan haram karena termasuk tindakan dusta, menipu orang lain, dan mengambil hak zakat atau sedekah yang seharusnya diperuntukkan bagi fakir miskin yang benar-benar membutuhkan.
Berbohong mengenai kondisi ekonomi demi dikasihani atau mendapat harta merupakan bentuk kemunafikan dan penipuan sosial. Mengambil hak orang lain, mengambil zakat, infak, atau sedekah padahal dirinya mampu, ini dikategorikan memakan harta yang bukan haknya.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa seseorang yang meminta-minta padahal ia kaya, sama halnya dengan mengumpulkan bara api neraka bagi dirinya.
Rasulullah SAW, bersabda:
“Setiap daging yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih layak baginya.” (H.R. Tirmidzi).
Selain itu, berpura-pura miskin untuk menipu orang lain tidak hanya merugikan orang yang ditipu, tetapi juga merusak nilai-nilai moral dan sosial. Buya Yahya menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan dosa besar karena mengandung unsur penipuan, yang dalam Islam disebut sebagai “gharar“.
Dalam sebuah ceramahnya, Buya Yahya menyatakan:
“Berpura-pura miskin adalah bentuk kedustaan yang dilarang dalam Islam. Orang yang melakukannya telah menipu orang lain dan mengambil hak yang bukan miliknya. Ini adalah bentuk dari makan harta haram, yang dampaknya sangat buruk bagi kehidupan dunia dan akhirat.”

Firman Allah SWT yang dituliskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 42 menyatakan:
Surat Al-Baqarah ayat 42 berbunyi:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ.
Wa lā talbisul-ḥaqqa bil-bāṭili wa taktumul-ḥaqqa wa antum ta’lamūn
Artinya: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya”. (QS. al-Baqarah: 42)
Ayat ini menegaskan bahwa mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan adalah tindakan yang terlarang. Berpura-pura miskin untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain jelas merupakan salah satu bentuk kebohongan dan penipuan.
- Orang Miskin tapi Berpura-pura Kaya
Islam melarang perbuatan pura-pura kaya (takhalluq atau pamer kemewahan palsu) karena didasari sifat ria, sombong, dan tidak bersyukur.
Orang yang menyembunyikan kemiskinan pada dirinya dengan menjaga kehormatan diri (iffah) dan tidak suka meminta-minta dipuji, namun jika hal itu dilakukan untuk menipu demi gengsi atau pamer, maka hukumnya tercela.
Pura-pura kaya sering kali didorong oleh keinginan untuk dipuji orang lain (ria) atau merasa gengsi dengan keadaan yang sebenarnya. Islam melarang umatnya bersikap sombong dan menampakkan sesuatu yang bukan hakikat dirinya.
Islam memuji orang miskin yang menjaga harga diri (iffah) sehingga orang lain mengira mereka kaya karena mereka tidak suka meminta-minta. Namun, jika kepura-puraan itu berujung pada kebohongan, lilitan utang demi gaya hidup, atau ria, hal ini menyalahi kejujuran (shidqu).
Banyak kasus pada zaman sekarang ini orang pura-pura kaya tapi berujung pada perbuatan berutang di luar batas kemampuan atau menggunakan jalan haram demi tampil wah. Tentang hal ini, Islam sangat memperingatkan tentang bahaya utang yang tidak perlu jika hanya ditujukan untuk pamer status sosial.
Bagi kita semua, baik yang berkemampuan ataupun yang berkekurangan, sebaiknya menerima pemberian Allah dengan hati yang puas dan tidak merasa minder dengan kondisi ekonomi, jujur dan apa adanya, menjalani hidup sesuai kemampuan finansial nyata tanpa perlu merasa malu di hadapan manusia, karena kemuliaan seseorang di sisi Allah dinilai dari ketakwaannya, bukan harta bendanya.
Kaya dan miskin ini adalah sebagai ujian dan cara Allah mengatur kehidupan agar manusia saling menolong. Dan harta bukanlah ukuran kemuliaan, kemuliaan seseorang di sisi Allah hanya dinilai dari ketakwaan dan amal kebaikannya.
Jalani ujian keterbatasan dengan sabar dan tetap menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta secara berlebihan, terus berikhtiar, dan menghindari sifat iri hati.
Wallahu alam bish shawab
[]