Sifat Serakah Paling Banyak Dimiliki Orang, ini Peringatan Allah SWT

ARASYNEWS.com — Serakah adalah penyakit dan sifat negatif dalam diri seseorang yang tidak pernah puas, selalu ingin mendapat harta atau kekuasaan lebih, menguasai mendapatkan segalanya di dunia, serta tidak peduli pada hak orang lain. Sifat ini juga sering disebut sebagai rakus, tamak, atau loba.

Mereka yang serakah ini tidak pernah merasa cukup walau sudah punya banyak harta. Mau menang sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Menghalalkan segala cara untuk mendapat apa yang diinginkan.

Mereka yang serakah ini dapat memicu untuk berbuat jahat seperti mencuri, korupsi, dan bahkan menjatuhkan orang lain hingga membunuh. Mereka di dunia hidup tidak tenang karena merasa ada yang mengawasi, hingga hilangnya rasa syukur. Mereka juga dijauhi dan dibenci banyak orang, kecuali bagi mereka yang lain yang menjadi pengikutnya.

Sifat ini sebenarnya telah ada sejak kecil pada setiap manusia, hanya saja ada yang bisa mengendalikannya hingga menjadi positif, dan sebaliknya menjadi negatif jika hawa nafsu lebih menguasai diri seseorang.

Orang yang mengidap penyakit serakah kecenderungannya ingin memiliki yang lebih banyak daripada yang sudah dimiliki tanpa mempedulikan bagaimana cara mendapatkannya, yang penting apa yang diinginkan bisa didapat meski orang lain menjadi korban.

Penyakit serakah tidak akan pernah sembuh atau hilang dari diri seseorang kecuali apabila yang terjangkiti itu menghentikan keserakahannya atau kematian yang menjemputnya. Mengapa?, karena keserakahan itu tidak mengenal adanya rasa puas.

Dalam hadits, Rasulullah pernah bersabda

عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya: Dari Ibnu Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az-Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR Bukhari).

Serakah sifat tercela

Dalam bahasa Arab disebut “al-Hirsh,” yakni sifat tercela yang menggambarkan keinginan berlebihan terhadap harta benda, makanan, atau kesenangan duniawi. Dapat disebut juga dengan rakus.

Dalam Islam, rakus dianggap sebagai salah satu sifat buruk yang harus dihindari karena dapat merusak kehidupan individu dan masyarakat.

Secara etimologis, rakus berarti ketamakan dan keinginan yang berlebihan terhadap sesuatu.

Dalam konteks Islam, rakus merupakan sikap yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, selalu ingin lebih, dan mengabaikan kebutuhan orang lain.

Sifat rakus dan keserakahan (at-thama’) adalah dua penyakit hati yang berbahaya. Rakus adalah keinginan yang berlebihan terhadap sesuatu, sedangkan keserakahan adalah keinginan yang tidak pernah puas untuk memperoleh lebih banyak harta, kekuasaan, atau kenikmatan dunia.

Penyakit ini menjerumuskan seseorang pada perilaku yang tidak terpuji dan melalaikan urusan akhirat.

Sebaliknya, lawan dari sifat ini adalah qana’ah (merasa cukup), berarti sifat dalam diri seseorang yang menandakan kepuasan dan keridhaan dengan apa yang Allah berikan. Sikap ini menjauhkan seseorang dari keinginan yang berlebihan dan memberikan ketenangan batin.

Sementara itu, Wara’ adalah sikap hati-hati dan menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (samar-samar) atau haram. Sifat ini mencerminkan kesalehan dan keimanan yang kuat, di mana seseorang mengutamakan akhirat di atas kepentingan duniawi.

Dengan memiliki dua sifat ini yakni qana’ah dan sifat wara’, seseorang mampu mengendalikan keinginan yang berlebihan dan menjaga hatinya dari penyakit rakus dan keserakahan. Terutama bagi manusia yang menjaga diri dan pikirannya untuk berbuat korupsi.

Sifat ini membantu individu untuk hidup dengan tenang, penuh syukur, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang merugikan baik di dunia maupun di akhirat

Al-Qur’an dan Hadits

Allah SWT berfirman:

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, ia pasti ingin memiliki lembah ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian). Dan Allah akan menerima taubat siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ali bin Abi Thalib RA, pernah berkata:

النَّاسُ نِيَامٌ فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا

“Manusia dalam keadaan tidur, ketika mati baru mereka terbangun.” (Qaul Sahabat)

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyatakan:

الحِرْصُ عَادَةٌ قَبِيحَةٌ وَصِفَةٌ مَذْمُومَةٌ

“Rakus adalah kebiasaan yang buruk dan sifat yang tercela.” (Ihya’ Ulumuddin)

Ada beberapa ciri-ciri orang yang rakus, yakni: ingin menguasai, tidak pernah puas, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan, kurang bersyukur, dan memiliki sifat iri hati terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Mereka yang rakus atau serakah itu tidak memiliki rasa kurang percaya pada rezeki yang telah ditetapkan oleh-Nya, kurangnya ibadah dan zikir kepada Allah sehingga menyebabkan hati menjadi keras dan tamak. Mereka terbiasa hidup dalam kemewahan dan berlebihan sehingga sulit untuk merasa cukup atau was-was jika kekurangan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(QS. al- Maidah : 87)

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)

Allah SWT berfirman:

*وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah:188)

Rasulullah SAW bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Hati-hatilah terhadap kekikiran, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kamu.” (HR. Muslim)

Wallahu alam bish shawab
Semoga, kita semua terhindar dari sifat serakah yang mendatangkan bencana pada diri kita dan keluarga.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like