Semoga Allah mengaruniakan kepada kita rezeki yang halal dan dipergunakan dijalan yang diridhoi Allah
ARASYNEWS.com — Hidup di dunia yang hanya sementara ini, banyak yang diperbudak karena harta. Mereka mengumpulkan harta yang banyak sebagai godaan hawa nafsu dan tipu daya dunia. Keinginan atau dorongan manusia ini disebut dengan sifat hubbud dunya (cinta dunia berlebihan).
Islam memandang kecintaan akan harta ini dapat membuat umat lalai dari mengingat Allah dan melupakan kewajiban akhirat. Terutama lagi mengumpulkan harta untuk kepentingan pribadi, ia tidak menyisihkan untuk fakir atau juga untuk kepentingan umat dengan berzakat.
Al-Qur’an dan Hadist sudah sangat terang menjelaskan ini, dinamika manusia dengan harta serta peringatan keras terkait hal tersebut.
Qur’an surah Al-Humazah (ayat 1-9) mengecam keras orang yang terobsesi mengumpulkan dan menghitung harta, bersifat kikir, serta mengira kekayaan tersebut akan membuat mereka hidup kekal. Akibat kesombongan dan keengganan berderma, mereka diancam dan dipastikan akan dilemparkan ke dalam neraka Huthamah (api yang membakar hingga ke hati).
Dalam Surat Al-Humazah, Allah mengecam orang-orang yang sibuk menumpuk harta dan mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkan hidupnya di dunia.
Pada ayat kedua, “Allażī jama’a mālaw wa ‘addadah”. Menggambarkan orang yang sangat tamak. Mereka sibuk mengumpulkan kekayaan, menghitung-hitungnya terus-menerus, dan enggan menunaikan zakat atau bersedekah.
Pada ayat ketiga, “anna mālahū akhladah”. Manusia yang lalai mengira bahwa hartanya dapat memberikan kehidupan abadi, kekuasaan, dan menyelamatkannya dari kematian.
Pada ayat 4-7 bahwa harta yang dibanggakan tidak akan berguna. Mereka akan diazab dalam api neraka yang menyala-nyala hingga ke dalam hati, tempat yang tertutup rapat.
Untuk diketahui, manusia yang memiliki sifat senang mengumpulkan dan menghitung-hitung harta sering kali membuat manusia terlena.

Menimbun Harta
Islam melarang keras penimbunan harta (ihtikar) yang tidak dikeluarkan hak-hak sosialnya (seperti zakat, infak, sedekah).
Dalam Tafsir Surat At-Taubah Ayat 34-35, mereka yang menumpuk harta, emas dan perak tanpa menginfakkannya di jalan Allah diancam dengan azab yang pedih.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْأَحْبَارِ وَٱلرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلْبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۗ وَٱلَّذِينَ يَكْنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. [QS. At Taubah 34]
يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِى نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا۟ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ
Artinya: pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. [QS. At Taubah : 35]
Allahuma bish shawab
[]