ARASYNEWS.com — Biasanya mata air mengering saat musim kemarau panjang dan juga aliran air yang kering. Tapi ini tidak terjadi pada wilayah yang satu ini.
Mata air tua ini diperkirakan sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Airnya terus mengalir tanpa henti muncul dari dalam tanah, membentuk kolam alami yang sejak ratusan tahun lalu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat. Dari mata air inilah nama Batang Tabik dipercaya berasal, merujuk pada air yang “tabik” atau terbit langsung dari perut bumi.
Lokasi ini pun juga menjadi daya tarik dan pemandian alami. Berada di Jorong Batang Tabik, Kenagarian Sungai Kamuyang, Kecamatan Luak, Kabupaten Limapuluh Kota.

Seperti apa kisahnya?
Menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, sumber air Batang Tabik diyakini berasal dari Danau Singkarak. Kepercayaan ini semakin menguatkan posisi Batang Tabik bukan sekadar pemandian biasa, melainkan bagian dari lanskap alam dan sejarah Minangkabau.
Akan tetapi, hal itu sepertinya tidak mungkin, karena lokasinya yang berjarak lebih dari 100 kilometer dan dibatasi dengan perbukitan. Selain itu, daerah ini lebih tinggi dari danau Singkarak.
Kawasan ini sebenarnya berada di kaki gunung Sago, gunung api yang telah tidak aktif atau mati ratusan tahun lalu.
Pada masa penjajahan kolonial, Batang Tabik cukup dikenal sebagai satu-satunya pemandian umum di Luhak Limapuluh. Dahulu, tentara Belanda dan masyarakat pribumi memanfaatkan mata air Batang Tabik sebagai sumber air minum sekaligus lokasi pemandian. Sejak saat itu hingga kini, Batang Tabik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Air Batang Tabik juga jernih sejuk, tidak tercemar. Dan bahkan kini dimanfaatkan sebagai destinasi rekreasi.
Airnya juga berperan sebagai salah satu sumber air utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Payakumbuh.

Yang istimewanya, air Batang Tabik ini debitnya tidak pernah surut. Air yang keluar terus menerus mengalir tanpa terpengaruh musim, baik musim hujan ataupun di musim kemarau panjang.
Pengembangan lokasi imi ini menjadi destinasi pemandian umum juga telah dilakukan, ada kolam yang dengan keramik di bagian dasar kolam, dan ada juga yang dibiarkan alami dengan dasar bebatuan.
Bahkan, di kolam alami, pengunjung yang berenang ditemani dengan ikan-ikan yang juga berenang bebas. Kolam alami ini bagi masyarakat dikenal dengan “kolam ibu”.
Meski telah berusia ratusan tahun, dan menjadi situs peninggalan sejarah, Batang Tabik tetap bertahan dan terus digunakan oleh masyarakat. Airnya terus mengalir dan memberi manfaat bagi masyarakat sejak dulu hingga kini.
[]