ARASYNEWS.com — Makhluk hidup di dunia seperti manusia dan hewan biasanya akan menghindar dan menyelamatkan diri dari bahaya api. Insting itu terjadi supaya dampak buruk yang ditimbulkan tidak menimbulkan bahaya.
Untuk kelompok satwa mamalia besar lainnya, seperti orangutan, rusa, dan gajah, memiliki kepekaan sensorik yang sangat tajam terhadap bau asap dan perubahan suhu udara.
Satwa-satwa ini memiliki cara untuk bertahan ataupun menghindar akan bahaya api. Orangutan dan mamalia besar seperti rusa atau gajah memiliki naluri navigasi yang kuat untuk segera menjauh ke arah sungai, rawa, atau area yang sudah pernah terbakar sebelumnya (aman dari rambatan api baru) jauh sebelum api besar mengepung wilayah mereka.

Akan tetapi, ternyata ada makhluk hidup di dunia ini yang memiliki insting atau kemampuan biologis paling kuat dan spesifik terhadap api.
Beberapa makhluk hidup itu diantaranya adalah kumbang api hitam (Melanophila acuminata) dan kelompok burung predator Australia yang dijuluki “Firehawks” (seperti elang paria dan elang siul).
Hewan ini berbeda dengan mayoritas satwa yang mendeteksi api untuk melarikan diri, hewan-hewan ini justru memiliki insting khusus untuk mendekati atau memanfaatkan api demi kelangsungan hidup mereka.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini keterangan tentang satwa tersebut.
- Kumbang Api Hitam (Black Fire Beetle)
Kumbang ini adalah contoh satwa pirofilik (pecinta api) yang paling ekstrem. Hewan ini memiliki insting akan api. Mereka sengaja memburu kebakaran hutan untuk bertelur di kayu pohon yang baru terbakar.
Hewan ini memiliki organ sensorik inframerah khusus di dekat kaki mereka. Sensor inilah yang mampu mendeteksi radiasi panas dan asap kebakaran hutan dari jarak puluhan kilometer.

- Burung Firehawks Australia (Elang Paria & Elang Siul)
Burung ini merupakan burung pemangsa yang banyak ditemui di Australia Utara. Burung ini memiliki hubungan yang unik dan cerdas dengan api. Burung ini memanfaatkan Api.
Ia memiliki insting yang kuat akan api. Tidak takut pada api unggun maupun kebakaran hutan. Sebaliknya, mereka melihat asap sebagai tanda “pesta makan siang”.
Spesies seperti Elang Paria (Milvus migrans) dan Elang Siul sengaja mengambil ranting yang membara dengan cakar mereka, lalu menjatuhkannya di area rumput kering yang belum terbakar.
Adapun tujuannya adalah memperluas api agar mangsa kecil (tikus, kadal, serangga) keluar dari persembunyian dan agar mudah ditangkap untuk dimangsanya.

- Burung Pelatuk Punggung Hitam (Black-backed Woodpecker)
Burung ini juga memiliki insting kuat untuk langsung bermigrasi ke hutan yang baru saja hangus terbakar.
Tujuan adalah pohon-pohon yang mati akibat kebakaran dan menjadikannya sebagai tempat untuk berkembang. Ini karena pohon-pohon tersebut ideal bagi larva kumbang kayu untuk hidup dan itu juga yang merupakan makanan utama burung ini.
Burung ini memiliki warna bulu pada punggungnya yang hitam legam, dan ini berfungsi sebagai kamuflase sempurna di antara batang pohon yang gosong.
- Ekidna (Short-beaked Echidna)
Mamalia berduri ini asli Australia, memiliki insting bertahan hidup yang sangat unik saat kebakaran hutan mengepung mereka.
Hewan ini punya cara tersebut untuk bertahan. Bukannya lari atau panik, mereka akan menggali tanah untuk mengubur diri. Kemudian, setelah aman di dalam tanah, mereka memasuki mode torpor (hibernasi singkat) yang berguna menurunkan metabolisme dan suhu tubuh mereka secara drastis untuk menghemat energi dan bertahan dari suhu panas di atas permukaan.
[]