ARASYNEWS.com — Air dalam Al-Qur’an disebutkan dalam lebih dari 200 ayat sebagai sumber utama kehidupan dan tanda kekuasaan Allah SWT.
Kata “air” (al-ma’) disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak puluhan kali—sekitar 63 kali dalam 41 hingga 42 surah—serta ratusan ayat lain yang merujuk pada hujan, sungai, dan mata air.
Makna dan Peran Air dalam Al-Qur’an
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an melalui Surah Al-Anbiya ayat 30 bahwa segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Air sebagai sumber segala kehidupan. “Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air”.
Air hujan yang diturunkan dari langit berfungsi menyuburkan tanah, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, serta menghasilkan buah-buahan. Ini ibarat sebagai sumber untuk menghidupkan bumi.
Al-Qur’an juga menjelaskan proses turunnya air secara teratur dari langit, mulai dari tiupan angin, pembentukan awan, hingga air diturunkan dengan ukuran tertentu untuk menjaga keseimbangan alam. Air meresap ke dalam tanah, lalu menumbuhkan tanaman, yang selaras dengan ilmu sains modern (misalnya dalam Bumi dan Air dalam Kajian Al-Qur’an).
Sementara itu, air secara spiritual digunakan oleh umat Islam sebagai syarat sah beribadah melalui wudhu dan mandi wajib.
Air juga sering kali digunakan sebagai perumpamaan bagi keimanan, rahmat Allah, serta tanda kekuasaan-Nya bagi orang yang mau berpikir.
Jenis Air dalam Al-Qur’an
Ulama tafsir dan sains mengelompokkan penyebutan air berdasarkan karakteristiknya di alam:
Ma’un Thahur: Air yang suci dan mensucikan, umumnya merujuk pada air hujan.
Ma’un Furat: Air tawar yang segar dan enak untuk diminum.
Ma’un Milhun Ujaj: Air asin yang pahit, merujuk pada air laut.
Macam-Macam Air dalam Fikih
Air Mutlak: Air suci dan menyucikan secara alami (seperti air hujan, laut, sungai, sumur, dan salju). Air ini sah dipakai untuk wudu dan mandi.
Air Musyammas: Air suci dan menyucikan, tetapi makruh dipakai jika dipanaskan di wadah logam di bawah terik matahari karena dikhawatirkan memicu penyakit kulit.
Air Musta’mal: Air suci secara zatnya tetapi tidak menyucikan lagi karena sudah dipakai untuk fardu bersuci (seperti bekas tetesan wudu).
Air Mutaghayyar: Air suci yang berubah warna, rasa, atau baunya karena tercampur zat suci lain sehingga keluar dari batas kemutlakan namanya.
Air Mutanajjis: Air yang terkena najis dan berubah sifatnya, atau volumenya sedikit (kurang dari dua kulah) meski tidak berubah, sehingga haram dan tidak bisa dipakai bersuci.
Dalam Islam, filosofi air melambangkan sumber asal-muasal kehidupan, sarana penyucian diri, serta refleksi sifat-sifat mulia bagi manusia.
Tentang Air yang Mengering
Air yang mengering atau ancaman hilangnya sumber air dikaitkan dengan kekuasaan Allah SWT, ujian bagi manusia, serta tanda-tanda hari kiamat.
Dalam Surah Al-Mulk ayat 30, Allah SWT berfirman yang artinya: “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'” Ayat ini menegaskan bahwa air adalah nikmat mutlak dari Allah, dan Dia berkuasa penuh untuk melenyapkannya kapan saja jika manusia lalai. Ini menjadi peringatan dan ancaman bagi manusia.
Tentang mengeringnya air juga pernah disampaikan Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa salah satu tanda mendekatnya kiamat adalah mengeringnya Sungai Eufrat (Al-Furat).
Hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa sungai tersebut akan menyingkapkan gunung emas, yang kemudian diperebutkan oleh manusia hingga banyak yang saling bunuh.
Penting bagi kita sebagai umat muslim bahwa fenomena surutnya air dilihat sebagai peringatan agar manusia senantiasa bersyukur dan tidak melakukan perusakan alam.
Wallahu alam bish sawab
[]