Beberapa Ilmu Hitam di Sumatera Barat yang Berbahaya Sejak Zaman Dahulu dan Diyakini Ada Hingga Kini

ARASYNEWS.COM – Di Indonesia banyak terdapat suku yang salah satunya adalah suku Minang yang dikenal dengan Minangkabau. Suku ini memiliki ajaran Islam yang kuat, tertuang dalam traktat adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Jika dirunut ke belakang, praktik-praktik yang dekat dengan animisme tersebut justru menjadi salah satu penyebab terjadinya perang saudara di Minangkabau pada abad 19, antara kaum adat dengan kaum agama. Praktik-praktik animisme, oleh beberapa golongan dianggap tidak sejalan dengan ajaran Islam versi Wahabi.

Balai-balai adat dan rumah-rumah gadang dibakar oleh para ulama dengan dalih memurnikan ajaran Islam. Kaum adat yang tersudut bahkan sempat meminta pertolongan Belanda untuk menyerang balik.

Perang sporadis selama 20 tahun itu pada akhirnya berujung pada perjanjian Marapalam dengan maklumat Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Bahwa adat istiadat Minangkabau harus berdasar pada syariat dan kitab Islam.

Namun, perjanjian damai antara kedua belah pihak, antara penganut Islam dengan pemangku adat tersebut tidak serta merta memusnahkan praktik-praktik ilmu hitam di negeri tersebut. Bahkan sampai sekarang, di tengah masyarakat yang justru saban hari dicercoki dengan segala sesuatu yang syarat dengan kebenaran ilmiah, hal-hal irasional tersebut masih kerap hadir di tengah masyarakat.

Terlepas dari itu semua, disisi lain, di Minangkabau terkenal dengan beberapa ilmu hitam yang kental terdengar dan kerap ditakuti hingga saat ini. Diantaranya adalah Gasiang Tangkurak, Cirik Barandang, Santaung Palalai, dan Palasik

Berikut ini penjelasan tentang asal mula dan bentuk yang dihasilkan serta cara pengobatan dari ilmu-ilmu hitam yang terkenal di Sumatera Barat

  1. Gasiang Tangkurak

Gasiang tangkurak adalah salah satu jenis ‘ilmu hitam’ dari Minangkabau, tepatnya berasal dari daerah Pesisir Selatan pantai barat pulau Sumatera. Pada dasarnya tradisi ini dipakai untuk mengguna-gunai, menulah, atau menenung orang lain. Biasanya digunakan oleh seorang pria untuk membuat wanita gila, karena menolak cintanya.

“Jiko nyo lalok tolong jagokan, Jiko nyo tagak suruah bajalan, Di siko kini denai nantikan. Tolonglah japuik, japuik tabaok, Suruah nyo sujuik di kaki denai, Jiko tak namuah tanggang matonyo Tanggang salero bia nyo rasai, Datang si Mambang bia nyo gilo, Siang jo malam, nyo cari denai baru nyo sanang dek kiro-kiro”.

Bernada Pentatonik, syair atau mantra diatas dilantunkan disela dengungan Gasiang Tangkurak, yang kerap dimainkan pada hari Kamis malam Jumat.

Gasiang Tangkurak, merupakan wujud karya kebudayaan Minangkabau yang sarat dengan magis yang tumbuh dan berkembang ketika Minangkabau masih menganut sistem kepercayaan Animisme dan Dinamisme.

Ketika ajaran Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke 6 masehi, Gasiang Tangkurak sempat pudar di masyarakat, tapi tidak hilang secara sepenuhnya. Gasiang Tangkurak tetap digunakan secara diam-diam oleh personal yang masih memilikinya.

Syair budaya ini dikenal memiliki kemampuan supranatural peninggalan nenek moyang pada zaman dahulu. Kemampuan supranatural tersebut dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.

Budayawan sekaligus Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Sastra Daerah Minangkabau, Khanizar Chan menyebutkan, Gasiang Tangkurak sendiri diketahui terbuat dari bagian Dahi tengkorak mayat orang yang memiliki kepandaian ilmu kebatinan, atau mayat yang mati dalam kondisi tak wajar yang sudah dikuburkan selama 3 atau 6 bulan.

Biasanya, bagi siapa saja yang ingin memiliki Gasiang Tangkurak ini, akan melakukan ritual di kuburan sang mayat selama beberapa malam. Ritual itu disebut dengan istilah Batarak, atau dalam bahasa Indonesia Bersemedi.

Setelah ritual Batarak selesai, dan sudah mendapatkan petunjuk, maka orang tersebut akan melakukan penggalian kubur dan mengambil potongan Dahi tengkorak sang mayat. Potongan Dahi tengkorak tersebut kemudian dibawa pulang untuk dibersihkan dan selanjutnya dilakukan ritual khusus lainnya hingga, Gasing Tangkurak bisa dimainkan dan digunakan sesuai dengan kebutuhan peminta atau keinginan dari sang pemilik.

Tak mudah bagi orang yang ingin memiliki Gasiang Tangkurak ini, selain ritual yang cukup panjang dan sulit dia juga akan menemukan banyak rintangan, terutama pada saat melakukan ritual Batarak dan penggalian kubur.

Jika dilihat dari prosesnya, tentu saja Gasiang Tangkurak ini jauh dari ajaran Agama Islam, dan bisa disebut bersekutu dengan makhluk halus.

Dahi tengkorak mayat yang berhasil diambil dan dibawa pulang, dibersihkan dan kering, lalu diasapi dengan kemenyen dan dibacakan mantra tertentu, barulah setelah itu akan dibentuk bulat pipih dan dibuat dua buah lubang tepat ditengah dahi tengkorak itu.

Setelah itu, Gasiang Tangkurak lalu dipasangkan tali Tujuah Ragam (tujuh warna) atau menggunakan tali kain kafan. Dalam dunia ilmu Hitam di Minangkabau, Gasiang Tangkurak merupakan media yang dapat digunakan untuk menyakiti, memikat hati perempuan, memisahkan orang, memanggil orang dari jarak jauh bahkan bisa sampai membunuh secara magis, tergantung dari permintaan siapa yang berkeinginan atau kehendak dari sang pemilik Gasiang Tangkurak itu sendiri.

Cara memainkan Gasiang Tangkurak pun berbeda dengan gasing pada umumnya. GasiangTangkurak dimainkan dengan cara ujung tali kain kafan atau benang tujuh rupa diikat pada jempol kaki, dan ujung tali satunya di sela jari tangan. Rata-rata pemilik atau tuan akan memainkan Gasiang Tangkurak pada tengah malam di tempat sepi, seperti dibawah pohon besar di hutan atau di sungai. Karena, ditempat ini, terutama sungai, diyakini banyak Mambang (makhluk halus) berkeliaran dan gampang disuruh-suruh.

Efek yang timbul dari Gasiang Tangkurak
Dengan gumpalan asap kemenyan dan lantunan syair atau mantra, Gasiang Tangkurak kemudian dimainkan sang tuan. Untuk mempermudah, biasanya sang tuan terlebih dahulu akan melihat foto dan mengetahui nama dari orang yang hendak di Gasiang.

Efek yang timbul dari Gasiang Tangkurak ini terbilang cukup cepat. Seiringan dengan berputarnya Gasiang dan dendang syair atau mantra, orang yang menjadi sasaran akan merasakan gelisah, sakit bahkan bisa melakukan tindakan diluar batas kewajaran, seperti berteriak menarik-narik rambut, bahkan dikiaskan bisa memanjat dinding tembok rumah.

Gasiang Tangkurak biasanya lazim digunakan untuk membalas dendam dan memikat hati perempuan, terutama kepada perempuan yang menolak cinta dari seorang pria. Kondisi ini akan diperparah jika sang Perempuan tersebut melecehkan atau merendahkan derajat pria yang menginginkan cintanya.

Bagi yang terkena ilmu hitam Gasiang Tangkurak ini, masih bisa diobati oleh orang lain yang juga memiliki kepandaian dalam hal ilmu kebatinan. Tapi masih dilihat dulu seperti apa tingkatan dihadapi. Jika sudah parah, maka yang dapat mengobati adalah sang tuan Gasiang Tangkurak itu sendiri.

Sebelum melakukan ritual Gasiang Tangkurak, sang tuan terlebih dahulu akan menjelaskan seperti apa efek dari GasiangTangkurak dan memastikan apakah benar akan dilakukan atau tidak. Barulah kemudian melakukan akad dengan sang pemohon, yang mana dari akad tersebut diputuskan dan disepakati besaran mahar yang akan diberikan oleh pemohon kepada tuan Gasiang Tangkurak. Mahar bisa berupa uang atau emas, atau bentuk lainnya.

Persoalan gasiang tangkurak mungkin pada permukaan terkesan remeh-temeh, karena hanya berperkara dengan cinta yang kandas serta pembalasan dendamnya. Namun, jika dilihat dalam wacana yang lebih luas, persoalan yang disampaikan melalui bahasa gerak tubuh oleh Impessa Dance Company pada pertunjukannya tersebut adalah perbenturan antara rasionalitas dengan irasionalitas, moral dengan amoral, sekaligus menguak kembali sesuatu yang telah lama dianggap benar, bahwa benarkah orang Minangkabau itu adalah penganut islam yang taat.

  1. Cirik Barandang

Ilmu Cirik Barandang ini konon katanya memiliki kekuatan yang sangat ampuh dan menakutkan. Cirik Barandang tidak mengenal ampun dan pandang bulu, konon katanya siapa saja yang memakan ramuan ini mampu membuat batinnya akan selalu terikat oleh si penaruh ramuan tersebut.

Cirik Barandang sendiri adalah ramuan yang dibuat serta diberikan mantra khusus yang bertujuan supaya si target tergila-gila mencintainya. Mitos soal ilmu ini mampu membuat pemuda-pemuda desa yang masih menyimpan ramuan ini, walaupun tidak banyak tapi masih tetap ada yang memiliki ramuan semacam ini, tujuannya adalah sebagai simpanan jika suatu saat diperlukan dan biasanya ramuan ini disimpan di lipatan sapu tangan yang tersimpan sangat rapi.

Ciri Orang Yang Terkena Cirik Barandang
Tidak seperti praktek asihan atau pelet pada umumnya yang mudah dikenali ciri-cirinya. Cirik Barandang sangat sulit untuk dideteksi, namun bisa dipastikan biasanya si korban pernah mengalami kesalahan yang fatal terutama dalam hal ucapan ketika berada di lokasi si pelaku.

Efek dari ilmu ini selain tergila-gila, biasanya tidak akan bisa tidur jika belum bertemu dengan si penaruh ramuan ini, jikapun tertidur maka yang keluar dari mulut si wanita (umumnya) adalah nama orang itu saja sembari Ngelindur dan menyebut-nyebut nama orang telah menaruh ramuan itu.

Jadi ini bisa dipastikan bahwa si wanita terkena ramuan Cirik Barandang, dan untuk memastikannya hanya orang-orang tertentulah yang mengetahuinya dan yang pasti ciri dari orang terkena ilmu ini adalah sangat terlihat perubahan pada dirinya bisa dicontohkan jika tadinya si wanita tidak suka lalu menjadi suka dan tergila-gila pada lelaki tersebut.

Cara Menghindari Ilmu Cirik Barandang
Sangatlah sulit untuk menghindari niatan jahat seseorang, akan tetapi untuk menghindarinya sebaiknya kita perlu menjaga tutur kata ketika berada di manapun kapanpun terutama daerah yang asing bagi kita. Jika orang telah tersinggung maka ia akan melakukan apapun untuk membalas rasa sakitnya tersebut.

Meski praktik soal ilmu gaib ini masih bertebaran di sekitar kita tentunya kita tidak boleh takut dan malah mengabaikan hal-hal positif yang bisa kita lakukan, teruslah berbuat baik kepada siapapun di manapun.

  1. Santaung Palalai

Ilmu hitam yang satu ini dikirim oleh seseorang untuk sulit mendapatkan jodoh. Bisa diartikan hampir sama dengan santet. Hanya saja, tujuannya karena orang sakit hati kepada orang lain agar orang lain tersebut tidak mendapatkan jodoh atau rezeki.

Tidak ada dampak langsung pada kesehatan maupun fisik korban yang terkena santuang palalai. Gejalanya pada korban lebih kepada kecocokan terhadap calon pasangan yang datang atau didatanginya.

Kondisi yang dialami jika terkena ilmu mistis itu yakni jika korban suka kepada seseorang, maka orang tersebut tidak suka kepadanya. Sebaliknya, jika orang lain suka kepadanya, maka dia yang tidak suka dengan orang tersebut. Jika pun keduanya saling menyukai, maka rintangan lain justru hadir dari pihak keluarga yang tidak merestui bahkan menentang hubungan mereka.

Hal buruk yang kemudian dikhawatirkan muncul kepada korban adalah depresi dan rasa putus asa.

Meski belum ada kajian ilmiah secara psikologis terhadap korban, dampak ilmu perdukunan ini memang kerap menimbulkan masalah dalam rutinitas dan keseharian korban. Secara psikologis, perlahan korban santuang palalai merasa tidak tenang, selalu minder, stres, mengucilkan diri karena malu belum menikah di saat sudah berumur.

Alasan pelaku mengirimkan santuang palalai bisa beragam, tetapi lebih sering disebabkan karena sakit hati dan tidak senang atas perlakukan yang dialami, khususnya dalam hubungan percintaan. Pada intinya, santuang palalai terjadi karena konflik percintaan seseorang yang menyukai lawan jenis.

  1. Palasik

Palasik disebutkan juga adalah makhluk halus. Akan tetapi hal ini ada karena seseorang yang mendalami ilmu hitam tingkat tinggi. Menurut cerita, ilmu palasik dipercaya bersifat turun-temurun. Apabila orang tuanya adalah seorang palasik, maka anaknya pun akan menjadi palasik. Ilmu ini diwariskan kepada keturunannya hingga keturunan ketujuh, tetapi tidak kepada keturunan kedelapan.

Penampakan palasik ini seperti kepala tanpa badan yang melayang. Kuduang dalam bahasa Minang sendiri berarti buntung atau terpotong.

Ciri khas dari palasik ini adalah mereka tidak mempunyai cekungan di antara bibir dan hidung.

Palasik biasanya ditakuti ibu-ibu di Minangkabau, terlebih yang memiliki balita, karena makanan palasik adalah anak bayi atau balita, baik yang masih dalam kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur). Tergantung dari jenis palasik tersebut.

Ada palasik yang memakan bayi dalam kandungan, sehingga bayi tersebut lahir tanpa ubun-ubun atau ubun-ubunnya cekung hingga mati dalam kandungan. Ada pula palasik yang memakan bayi yang masih rapuh, sehingga bayi tersebut sering sakit-sakitan yang berakhir meninggal dunia. Ada juga yang memakan mayat bayi atau balita yang baru meninggal.

Bayi atau balita yang sedang dimangsa palasik sebenarnya tak serta-merta meninggal. Sebelum mengembuskan napas terakhir mereka akan mengalami sebuah penyakit yang dinamakan penyakit ‘Ain.

Ciri-ciri dari bayi atau balita yang ada di bawah kuasa palasik adalah suhu badan yang semakin tinggi. Suhu badan tinggi tersebut membuat bayi susah tidur dan menangis terus menerus pada malam hari. Karena hal tersebut, mereka tak mau tidur dan susah untuk ditenangkan.

Ketika sudah parah, mereka akan lemas secara mendadak dan ubun-ubun atau ujung kepala terlihat cekung. Ujung-ujungnya mereka menjadi kurus kering dan bisa sampai meninggal dunia.

Konon katanya jika palasik bertemu dengan anak balita yang sedang digendong ibunya, maka mereka akan berusaha untuk menghiburnya. Hal ini dilakukan untuk menyerang balita tersebut dan mencari tumbal bayi dengan kepala melayang dan tubuhnya tetap berada di rumahnya.

Ada cara untuk menangkal Palasik. Menurut masyarakat Minang, jika kamu melihat orang yang mencurigakan atau memiliki ciri seperti palasik, yaitu tidak mempunyai parit atau cekungan di antara hidung dan bibirnya, jangan dijauhi. Beranikanlah mendekati orang tersebut dan berbisik padanya, “Ini cucumu” atau “Ini anakmu” Dengan bisikan tersebut, dipercaya mereka tak akan memakan bayi atau balita kita.

Terkait adanya ilmu-ilmu hitam di Sumatera Barat, sampai sekarang masih menjadi misteri bagi masyarakat. Namun, mitos yang telah melegenda ini tetap menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di Minangkabau.

Untuk menghindari munculnya praktik ilmu hitam di Sumatera Barat, sebaiknya bersikaplah sopan kepada siapa saja ataupun lawan jenis. Dan yang terpenting selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. []

You May Also Like