ARASYNEWS.COM – Masjid Tua Kunto adalah salah satu masjid yang berada di Desa Kota Lama, kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Bagi masyarakat, masjid ini disebut juga dengan nama masjid Tua Kunto Darussalam. Jaraknya sekitar 60 kilometer dari pusat kota Pasir Pangaraian.
Masjid ini difungsikan sebagai tempat ibadah dan pelaksanaan suluk bagi penduduk negeri. Dan saat ini juga menjadi destinasi wisata religi bagi masyarakat karena mengandung nilai sejarah dan budaya.
Jika melihat bangunan masjid, masih tetap menjaga keasliannya, tetapi ada perubahan, terutama pada bagian atap yang telah berganti dari ijuk menjadi seng.
Bangunan Masjid Tua Kunto seluas 260 meter persegi. Jumlah tiangnya sebanyak 12 buah. Jumlah pintu masuknya ada delapan, dengan 4 buah di sebelah kiri, 2 di sebelah kanan, 2 buah di bagian belakang. Jendela di dalam masjid berjumlah 16 buah. Bagian bawah dari dinding masjid terbuat dari batu bata. Di sekeliling masjid terdapat pemakaman khalifah dan penduduk. Bangunan baru masjid ini menggantikan fungsi dari Masjid Tua Kunto.

Masjid ini mendapat pemugaran juga pada tahun 2005. Kondisinya saat itu tidak memungkinkan lagi untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Pemugaran juga melibatkan pemerintah daerah dan provinsi.
Dalam catatan sejarah, pembangunan masjid dimulai pada tahun 1918. Dan pada tahun 1937 bangunan masjid mengalami perombakan. Masjid ini didirikan oleh seorang tokoh bernama R.T. Muhammad Alie.
Masjid ini sebagai salah satu pusat kegiatan jama’ah Tarikat Natsyahbadiyah. Di masjid ini terdapat tiga makam para ahli suluk yang dikenal dengan sebutan Khalifah. Ketiga makam tersebut masing-masing adalah milik Tengku Imam, Imam Nawawi dan Khalifah Muda.
Masjid ini, dalam catatan sejarah pendirian masjid ini, disebutkan adalah pada masa kerajaan Kunto Darussalam, yang dipimpin Raja Tengku Mahmud, yang kemudian dilanjutkan oleh Raja Muhammad Ali dengan gelarnya Tengku Pahlawan, serta dibantu juga oleh Syech Jamil Mahmud (sebagai imam pertama).

Dahulunya, bangunan masjid adalah sebesar 8×10 meter. Berdiri di atas tanah wakaf raja di daerah kampung Terendam Lingkungan Parit Nan Empat, Kelurahan Koto Lama, Kecamatan Kunto Darussalam.
Kemudian, pada tahun 1937, pembangunan masjid ini dimulai dan diresmikan Raja Tengku Pahlawan berdasarkan mufakat dari para tokoh pemuka masyarakat yang ada, yakni Tengku Pahlawan sebagai Raja, Dt Bendaharo Dahlan (Gunto Adat), Tengku Mahmud (sesepuh kerajaan), Dt Sri Paduko Asa (ninik mamak), Ch Mudo (tokoh Tarekat Naqsyabandi), Ch Yakin Perak, Syeh Jamil Mahmud, Imam Jailano Yunus, Kotik Tani, Imam Qodi Musa, Imam Lobai Jaya, Bila Mhd Rasu.
Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong oleh para tukang yang kebanyakan berasal dari Sumatera Barat. Material bangunan sendiri didatangkan dari Kerajaan Rokan IV Koto Sumatera Barat. Bangunan masjid terbuat dari kayu dengan atap seng. Sebagian material lain ada juga yang didatangkan dari luar negeri seperti Singapura. Pada tahun 1952 dan 1979 dilakukan pemugaran bangunan masjid dengan ditambahkannya serambi di bagian luar masjid.
Namun pada tahun 1985, jamaah merasa kondisi bangunan yang sudah semakin tua dan tak mampu lagi menampung kapasitas jamaah. Maka didirikan lah sebuah bangunan masjid yang baru yakni Riyadhul Muttaqin.
Masjid baru ini mulai difungsikan pada tahun 1998. Sementara kondisi Masjid Raya Kunto Darussalam pada saat itu sudah sangat memprihatinkan.

Kemudian pemerintah daerah yang didukung oleh pemerintah provinsi, pada tahun 2005 bangunan masjid Raya Kunto Darussalam dipugar dengan menghabiskan anggaran milyaran. Arsitektur yang khas dari bangunan baru Masjid Raya Kunto Darussalam adalah 5 kubah bercorak Turki dan ukiran kayu gaya Eropa, serta gabungan antara gaya ukiran Turki dan Eropa. []
Sumber dan foto Dinas Pariwisata Provinsi Riau