ARASYNEWS.COM – Dari sekian banyak tradisi masyarakat di Minangkabau seperti pacu Jawi, pacu kuda, juga ada satu tradisi unik yang digemari masyarakat di daerah Payakumbuh dan Limapuluh Kota.
Tradisi ini tergolong unik karena menggunakan itik sebagai hewan pacuan.
Pacu itiak (bahasa Indonesia: itik) terdapat di kelurahan Aur Kuning, Kecamatan Payakumbuh Selatan, Kota Payakumbuh dan Sikabu-Kabu Limapuluh Kota. Dan pada tahun 2022 ini kembali digelar secara bergantian yang diselenggarakan oleh PORTI (Persatuan Olah Raga Terbang Itiak).

Tradisi Pacu Itiak di Payakumbuh dan sekitarnya mulai ada sejak tahun 1926 ada orang Sicincin bernama Burakan, dia mempunyai banyak itik.
Awal mulanya, kawanan itik ini berjalan berbaris dan juga ada yang terbang saling mendahului. Kemudian Burakan memperhatikan tingkah laku itik-itiknya.
Jadi Burakan heran kenapa itik ini bisa terbang, sedangkan itik ini adalah itik petelur. Kemudian Burakan ini bercerita dengan temannya di warung tetapi orang-orang tidak ada yang percaya. Lalu Burakan mengatakan kalau kamu tidak percaya lihatlah besok. Sudah dilihat oleh temannya ternyata itik tersebut bisa terbang. Lalu temanya mencoba mengambil itik yang lain. Lalu ia coba menerbangkannya tetapi tidak bisa terbang. Kemudian dia lihat perbedaan antara itik yang bisa terbang tadi dengan itik yang tidak bisa terbang. Kemudian ditemukan ciri khas itik yang bisa terbang itu.
Beberapa tahun kemudian datanglah ide dari Burakan untuk diadakannya pacu itiak.
Awalnya di adakan di tengah sawah. Tetapi pada akhirnya oleh Burakan dibawalah itik ini terbang ke jalan raya. Dan pada akhirnya itik yang dilatih ini bisa terbang sesuai lintasan.
Kemudian pada tahun 1928 diadakanlah pacu itiak ini disetiap acara seperti alek nagari (pesta rakyat), batagak rumah gadang (mendirikan rumah adat), dan baralek (pesta pernikahan).
Pada tahun 1958-1960 kegiatan Pacu Itiak sempat terhenti karena terjadi pergolakan di dalam negeri. Namun demikian pada tahun 1960 pacu itiak mulai di gelar kembali di nagari-nagari sampai saat ini.

Tradisi Pacu Itiak salah satu tradisi yang digemari oleh masyarakat di kota Payakumbuh dan sekitarnya. Tradisi ini menimbulkan semacam pembelajaran nilai nilai budaya contohnya nilai kejujuran, patriotisme, persaingan, harmonis, kerjasama, dan hiburan.
Saat sekarang ini pertunjukan pacu itiak juga ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu penting dalam acara-acara tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, HUT Kota Payakumbuh, HUT Bayangkara di Payakumbuh.
Disamping itu, pacu itiak juga diselenggarakan di Festival Kemilau Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluah Kota, Tour de Singkarak, Festival PEDATI di Kota Bukittinggi, Ulang Tahun Kota Solok, serta Pekan Budaya di Kota Padang.
Lomba Pacu Itiak dilakukan dilintasan yang beragam, mulai dari panjang 800 meter sampai dengan yang terpanjang adalah sepanjang 1.600 meter.
Peseta lomba melepaskan itiak pada tItiak awal lomba, kemudian itiak terbang menuju garis finis. Di garis finish sudah ada juri yang menentukan itiak yang akan keluar sebagai juara berdasarkan itiak yang lebih dahulu mencapai garis finis.
Dalam perlombaan pacu itiak terdapat beberapa kelas mulai dari kelas dengan jarak 800 meter, 1.000 meter, 1.200 meter, dan 1.600 meter (terbang boko).
Dimana setiap kelas memiliki acuan yang berbeda untuk menjadi pemenang. Dalam kelas jarak 800 meter setiap gelanggang wajib mengikutsertakan menimal 25 ekor Itiak setiap kali perlombaan. Jika kurang dari 25 ekor maka gelanggang tersebut harus membayar denda pada gelanggang yang mengadakan perlombaan.
Hal yang membuat pacu itiak ini unik adalah Itiak yang digunakan bukanlah sembarang Itiak, melainkan Itiak pilihan. Karena tidak semua Itiak dapat terbang untuk kategori ini, Itiak yang dipilih harus mempunyai warna kaki yang sama hitam atau kuning, memiliki sisik kecil diujung jari tengah, memiliki jumlah gigi yang ganjil, memiliki sayap yang panjang yang mengarah keatas menjadi persyaratan utama yang tak bisa diabaikan.
Itiak yang dijadikan sebagai Itiak terbang yaitu jenis Itiak sawah atau Itiak kampung yang banyak dipelihara masyarakat untuk petelur dan pedaging. Biasanya Itiak yang dipilih adalah Itiak yang digembalakan di tengah sawah kerena mempunyai fisik yang lebih kuat dibanding Itiak yang dikurung atau tidak pernah digembalakan.
Jika sudah menemukan Itiak dengan ciri-ciri tersebut maka Itiak itu akan dipisahkan dari kelompoknya dan dikurung di dalam kadang dalam kurung waktu 3- 4 bulan. Dalam proses tersebut Itiak selalu dilatih dan dimandikan setiap hari supaya badan Itiak ringan pada saat diterbangkan.
Tidak hanya itu Itiak juga diberikan makanan yang khusus yaitu padi kering yang dicampur dengan telur Itiak yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Serta juga diberikan air untuk minumnya.
Pacu Itiak ini merupakan ciri khas Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Di pemerintahan daerah ini dibentuk satu wadah untuk membina dan melestarikan budaya ini, yaitu PORTI (Persatuan Olah Raga Terbang Itiak) atau sering disebut dengan pengurus Reind Bond (nama yang diberikan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh).
PORTI Kabupaten Limapuluh Kota membawahi beberapa galanggang Pacu Itiak. Sedangkan Bupati Kabupaten 50 Kota dalam lembaga tersebut sebagai Payung Panji (Pelindung) organisasi PORTI.
Sebagai permainan rakyat, Pacu Itiak ini ikut berperan dalam memperkaya budaya nasional dan juga dijadikan oleh pemerintah daerah sebagai sarana promosi daerah untuk menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara melalui kerja sama dengan agen travel yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota serta juga sebagai ajang silaturahmi bagi masyarakat setempat.
Sejak 2020, pacu itiak diakui secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda khas Indonesia dalam bidang Seni Pertunjukan yang berasal dari Sumatra Barat. []