Ngalau Tampok Menyimpan Banyak Misteri Aksara Minang yang Hilang

ARASYNEWS.COM – Sumatera Barat menyimpan banyak cerita dari hasil temuan-temuan di alamnya. Mulai dari benda-benda bersejarah hingga pada bentuk alam yang futuristik. Salah satunya di Nagari Situmbuak, Kecamatan Salimpaung, kabupaten Tanah Datar.

Di nagari ini ditemukan Ngalau (bahasa Indonesia: goa). Informasi terkait keberadaan goa ini sudah diterima Badan Pelestarian Cagar Budaya sejak tahun 2015 lalu, akan tetapi itu masih berupa informasi umum, belum diketahui pasti apakah goa tersebut termasuk goa prasejarah atau tidak.

Penelitian tentang goa ini terus dilakukan, dan ditemukan banyak benda peninggalan zaman dahulu. Beberapa temuan seperti menhir, makam semu, serta ‘rock art’ atau gambar pada dinding goa, serta beberapa benda yang merupakan hasil galian.

Disimpulkan, adanya bukti bahwa goa ini pernah dimanfaatkan sejak zaman megalit atau zaman batu besar adalah dengan ditemukannya menhir dan makam semu yang ada di tengah-tengah goa.

Tradisi megalit yang ada di goa ini bisa disejajarkan dengan zaman Adityawarman atau pada kisaran abad ke-14 masehi, sebab pada masa tersebut di daerah Tanah Datar terdapat beberapa prasasti yang tertulis di atas batu dan bisa jadi tradisi megalit ini sudah ada sejak masa tersebut.

Adanya perlakuan khusus terhadap goa ini juga terlihat dari keberadaan menhir yang berdiri di tengah-tengah goa, batuan tersebut diprediksi didatangkan dari goa lain, sebab keberadaan stalagmit pada goa itu tidak seperti pada goa lainnya

Goa ini dikenal dengan nama Ngalau Tampok. Lokasinya berada di area perbukitan dengan bentang persawahan di sisi baratnya. Ngalau Tompok memiliki mulut selebar 2 meter, menghadap ke selatan. Bagian yang mendekati mulut gua cukup terang.

Sedangkan bagian permukaan tanahnya kering. Ngalau Tompok merupakan gua berstalaktit dan stalagmit.

Bagian tengahnya terdapat menhir yang disambung dengan bentuk kubur dengan nisan berorientasi timur-barat. Dipercaya sebagai makam Angku Shaliah.

“Tompok” dalam istilah lokal ditafsirkan sebagai tempat keramat yang dikonotasikan sebagai tempat bersemayamnya Syekh Shaliah. dipercaya sebagai ulama yang turut menyebarkan agama Islam di wilayah Sumanik.

Di sekitarnya ditutup dengan bebatuan sebagai jirat. Hingga kini, gua ini masih dikeramatkan dan menjadi tempat untuk bersemadi, atau mencari ilmu kebatinan.

Gua ini cukup terang, indikasi pemanfaatannya berkaitan dengan tradisi megalitik (mempercayai tempat-tempat tertentu berkaitan dengan hal gaib).

Menelisik lebih jauh ke area ngalau, terlihat lukisan-lukisan yang diterakan pada dinding langit-langit gua berwarna putih. Dari hasil survei tim peneliti Balar Medan beberapa tahun lalu, lukisan yang tertera di dinding ngalau tersebut merupakan bentuk aksara/huruf yang dapat berbunyi. Analisa awal yang dilakukan, lukisan tersebut merupakan bagian dari “Aksara Batak Kuna”, ada yang berbunyi “ha”, “ma”, “da” dan sebagainya.

Namun, analisa ini setidaknya dapat memberikan informasi awal dari lukisan-lukisan warna putih yang selama ini masih membingungkan.

Di sisi lain, lukisan yang terdapat pada dinding gua tersebut lebih mengarah pada Aksara lokal Minang yang selama ini masih memicu pergulatan ilmiah di antara (para) peneliti.

Sebab jika kita lihat dan pahami betul, morfologi aksara dari Aceh hingga Lampung memiliki bentuk yang hampir sama. Maka tidak tertutup kemungkinan bahwa lukisan di dinding Ngalau Tompok memang bagian dari aksara Minang yang hilang dari sejarah Minangkabau. []

source. BPCB

You May Also Like