ARASYNEWS.COM – Bumi menyimpan banyak hal-hal yang aneh, mulai dari tempat, kejadian, hingga pada makhluk misterius. Ini semua menjadi misteri dan penasaran para peneliti. Bahkan dalam penelitian, para peneliti mengalami kesulitan, lantaran diluar dari akal pikiran dan ada rintangan lainnya yang dihadapi.
Salah satunya candi yang ada di kabupaten Kampar provinsi Riau. Candi ini bernama candi Muara Takus.
Keberadaan candi ini masih menjadi misteri meski berkaitan erat dengan perkembangan Hindu Buddha di provinsi Riau.
Tentang candi ini diceritakan dalam buku Candi Muara Takus karya Akhmad Sadad.
Berdirinya candi ini diperkirakan pada masa perkembangan Hindu Buddha di Indonesia. Hanya saja asal usul secara lengkapnya masih menjadi misteri hingga sekarang karena belum banyak ditemukan bukti-bukti yang kuat.

Diperkirakan berdiri pada masa kerajaan Sriwijaya pada abad ke 4-11 Masehi. Ada empat bangunan candi yang berisi dalam kawasan ini, yakni Candi Tua atau Sulung yang merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lainnya di dalam komplek ini. Bangunan ini memiliki tinggi 2,37 meter dan 1,98 meter. Sedangkan pondasinya berukuran 31,65 meter x 20,20 meter.
Lalu ada Candi Palangka, bangunannya terbuat dari batu bata yang memiliki ukuran 5,10 x 5,7 meter, dengan tinggi mencapai 2 meter. Candi ini adalah bangunan terkecil di komplek ini yang terletak di Timur stupa Mahligai.
Kemudian, Candi Bungsu yang memiliki bentuk seperti Candi Tua, hanya saja bagian atasnya yang berbentuk segi empat. Candi yang berukuran 13,20 x 16,20 meter ini terletak di sebelah Barat Candi Mahligai.
Terakhir, Candi Mahligai yang dianggap memiliki bangunan paling utuh dibanding yang lain. Karena bangunan ini terdiri dari tiga bagian menyerupai bujur sangkar dengan ukuran 10,44 meter x 10,6 meter. Tingginya mencapai 14,3 meter.
Sementara itu, seluruh Komplek Candi Muara Takus dikelilingi tembok berukuran 74 x 74 meter serta area luar juga dikelilingi oleh tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 meter.

Disebutkan, candi Muara Takus ini menjadi candi Buddha tertua di Indonesia yang mempunyai stupa dengan lambang Buddha Gautama. Dan dipenuhi juga oleh ornamen kepala singa dan roda.
Pada bangunan candi juga terdapat Yoni serta Lingga, simbol jenis kelamin dan arsitekturnya hampir sama dengan candi di Myanmar. Hal ini tentu menjadi keunikan terdiri dari Candi perpaduan antara Buddha dan Siwa.
Arsitektur candi ini terbuat dari susunan batu bata, batu sungai dan batu pasir. Sekilas ada banyak kemiripan arsitektur dengan yang berada di Vietnam, Myanmar, India, serta Sri Lanka.
Konon di balik keindahan candi yang berada di Kabupaten Kampar ini menyimpan sejuta misteri. Ada dua pendapat berbeda tentang nama Muara Takus. Pertama, nama ini berasal dari sebuah sungai bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan.
Dan pendapat kedua menyebut nama ini terdiri atas dua kata yakni “muara” dan “takus”. Kata Takus ini berasal dari bahasa China “takuse”. “Ta” berarti besar, “Ku” berarti Tua, dan “Se” artinya kuil atau candi. Jadi Muara Takus bisa diartikan kuil tua besar yang terletak di muara sungai.

Keanehan yang pernah terjadi di kawasan Candi Muara Takus
Dituliskan dalam buku yang berjudul “The Forgotten Kingdoms in Sumatra” milik Dr. F.M. Schnitger pada 1939, sang penulis pernah menyaksikan gerombolan gajah yang berziarah ke candi tersebut pada tahun 1935.
“Beberapa saat tak terjadi sesuatu apapun. Kesunyian terasa mencekam. Tiba-tiba terdengar suatu bunyi membahana yang gegap gempita. Sebatang pohon besar tumbang tepat di bekas saya berdiri tadi.
Seluruh gerbang tertutup oleh dahan dan rantingnya. Pada waktu yang bersamaan terdengar pula suara gemeretak bunyi dahan-dahan kayu diremukkan. Semak belukar terkuak.
Dua ekor gajah raksasa menyerbu ke lapangan kuil, berkelahi sambil menjerit-jerit, saling menghantam dengan gadingnya yang kukuh. Dan kemudian secepat kilat, seperti tatkala mereka muncul, gajah-gajah itupun lenyap pula kembali ke hutan,” tulis Schnitger dalam bukunya.
Kejadian aneh lainnya juga pernah dialami para peneliti cagar budaya. Aktifitas terganggu karena para pekerja penambang kuari dan galian C mengalami sakit yang sulit dijelaskan.
“Aktivitas penambangan kuari dan galian C itu secara tidak sengaja telah mengungkap peninggalan kuno yang diduga merupakan bagian dari cagar budaya Candi Muara Takus. Sekarang aktivitas penambangan sudah ditinggalkan, gundukan pasirnya masih kelihatan. Selain karena ada ditemukan peninggalan ini, ada pekerjanya yang tiba-tiba sakit. Itu mungkin ada faktor nonempiris kenapa penambangan itu akhirnya ditinggalkan,” kata Ketua Tim Teknis sekaligus Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat, Nedik Tri Nurcahyo, Kamis (26/4/2028) dilansir dari Antara.
Lokasi penemuan peninggalan berupa batu bata itu berjarak sekitar 1 kilometer bagian selatan dari Candi Muara Takus dan 300 meter dari jembatan Sungai Sati, yang merupakan anak Sungai Kampar.
Dalam ekskavasi itu, tim gabungan meneliti dengan metode “pit” atau menggali untuk mengetahui sebaran temuan bata tersebut. Sebagai kesimpulan awal, lanjut Nedik, pada area yang diteliti seluas 20 x 40 meter persegi ditemukan banyak bata-bata yang sebagian sudah tidak utuh lagi hingga ke tebing Sungai Sati. []