Jalur Pacu yang Dipergunakan Terkandung Hal dan Proses Mistis

ARASYNEWS.COM – Jalur merupakan perahu berukir yang berukuran panjang yang dipergunakan untuk perlombaan Pacu Jalur di Tepian Narosa Sungai Batang Kuantan, kota Teluk Kuantan, kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) provinsi Riau.

Jalur ini panjangnya berkisar antara 40-50 meter dan di dayung bersama-sama di atas air.

Dibalik kemegahan jalur ini, ternyata ada beberapa proses yang sarat akan hal-hal mistis dan sakral dibaliknya.

Tentang proses pembuatan jalur ini ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang tidak sedikit. Butuh sekitar 6 bulan lebih dan dengan biaya ratusan juta rupiah.

Tradisi pembuatan jalur sebutan untuk perahu panjang khas Kuantan Singingi, Riau bukan sekadar membentuk kayu menjadi perahu. Ada setiap tahapnya sarat akan makna dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun sejak berabad-abad silam.

Hal itu dimulai dari pemilihan pohon terbaik yang didapat jauh di dalam hutan. Warga sebelum mencari pohon menjalankan ritual adat untuk memohon izin kepada alam sebelum mendapatkan kayu. Dan begitu juga dengan proses menebang pohon kayu dengan ritual yang dilakukan dibawah pangkal pohon.

Kepercayaan terhadap penunggu hutan dan penunggu pohon dengan menjalankan ritual. Bahkan dengan menyembelih ayam di akar pohon, doa bersama. Ini bukan sekedar ritual tetapi sebagai bentuk rasa hormat.

Tahap selanjutnya dengan proses penebangan yang menggunakan alat berat atau kapak atau chainsaw.

Batang pohon dirobohkan dengan kehati-hatian dan kemudian dipotong sesuai panjang yang dibutuhkan.

Kayu yang dipilih pun tak sembarangan, harus kuat namun lentur, agar mampu melaju ringan di arus Sungai Kuantan. Biasanya, adalah pada pohon meranti, kuras, marsawa, atau benio.

Saat sampai di desa, kayu diasapi semalaman atau didiang. Ini agar proses pembelahan kayu lebih mudah, lebih lentur, dan awet.

Proses pengerjaan-nya melibatkan gotong royong masyarakat dan para tukang ahli yang menjaga akurasi tradisi, mulai dari melubangi batang, membentuk lambung, hingga menghias jalur dengan ukiran simbolik. Proses pengerjaan bahkan bisa mencapai dua bulan.

Puncaknya, jalur yang telah selesai akan “dilahirkan” secara adat dengan upacara peluncuran ke sungai, sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan nenek moyang. Di sinilah nilai kearifan lokal Pacu Jalur begitu terasa.

Yang menariknya adalah satu jalur bisa bertahan hingga puluhan tahun. Dan saat tidak dipergunakan, jalur disimpan dalam tempat terlindung dengan ditopang atau tidak menyentuh tanah. Jalur dirawat dengan suhu dan kelembaban yang sesuai.

Proses pembuatan Jalur Pacu

Jalur adalah perahu tradisional yang dibuat dari satu batang kayu utuh tanpa sambungan atau potongan apa pun. Perahu ini dikenal kokoh, ramping, dan memiliki nilai seni tinggi. Karena itu, saat berpacu, jalur tidak mudah pecah, meluncur cepat, dan enak dipandang.

Pembuatan jalur membutuhkan waktu dan proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Prosesnya dimulai dari musyawarah kampung yang melibatkan pemuka adat, tokoh masyarakat, pemuda, dan kaum ibu. Rapat yang dipimpin pemimpin adat ini bertujuan untuk menyepakati pembuatan jalur baru serta menentukan tahapan selanjutnya.

Tahap berikutnya adalah memilih batang kayu yang sesuai. Kayu pilihan umumnya berasal dari jenis banio, kulim kuyiang, atau jenis lain yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Kayu yang dicari harus lurus dengan panjang 30-40 meter, diameter 1 meter lebih, dan diyakini dihuni mambang, yakni roh penjaga pohon.

Pemilihan kayu ini tak bisa sembarangan, harus lurus, dan jalur nantinya harus mampu menampung 40 hingga 60 orang pendayung. Seorang pawang berperan penting dalam prosesi ini, termasuk memimpin ritual semah agar pohon tidak ‘hilang’ secara gaib.

Setelah itu, pohon ditebang menggunakan kapak dan beliung, lalu dahan dan rantingnya dipisahkan. Kayu yang sudah bersih dipotong ujungnya sesuai ukuran jalur, kemudian kulitnya dikupas dan diberi pembagian untuk haluan, badan, dan bagian-bagian penting lainnya.

Selanjutnya, proses perataan bagian atas kayu (pendadan) dilakukan, dilanjutkan dengan pengerukan bagian dalam hingga ketebalan-nya merata (mencaruk). Bagian sisi atas kayu pun diperhalus, membentuk bibir perahu agar tampil ramping dan seimbang.

Proses membalikkan kayu (manggaliak) dilakukan hati-hati agar bentuk dan ketebalan tetap seimbang. Pengukuran ketebalan menggunakan lubang kecil yang nantinya ditutup pasak.

Setelah bagian luar selesai, jalur dikembalikan ke posisi semula untuk dibentuk haluan dan kemudi-nya. Jalur yang hampir jadi kemudian ditarik bersama-sama ke kampung dalam sebuah tradisi gotong royong yang dikenal dengan maelo jalur, sebuah prosesi penting yang mempererat persatuan warga.

Di kampung, jalur dihaluskan lagi, dihias dengan ukiran khas, dan diasapi untuk memperkuat kayu. Proses pembuatan jalur ditutup dengan penurunan perahu ke sungai melalui upacara adat, menandai selesainya seluruh rangkaian pembuatan jalur yang penuh nilai budaya dan kebersamaan.

Jalur juga dihiasi dengan bendera nagari dan dirawat secara bersama-sama agar tidak lapuk dimakan usia.

[]

You May Also Like