ARASYNEWS.COM – Bumi telah dibentuk Allah SWT ribuan miliar tahun, dan sudah banyak perubahan-perubahan alam daratan dan lautan yang terjadi.
Beberapa peninggalan sisa-sisa ada yang masih bisa terlihat saat sekarang ini. Sisa peninggalan itu berubah menjadi bentuk yang lain dan seakan memperlihatkan kondisi sebelumnya yang pernah ada.
Dari sekian banyak yang telah berubah salah satunya pernah ada gunung yang besar. Gunung itu berubah menjadi alam yang eksotis.
Gunung Purba

Salah satunya pernah ada gunung purba di Sumatera Barat yang berubah menjadi danau. Gunung ini dikenal dengan Gunung Tinjau dan telah berubah menjadi danau Maninjau.
Gunung ini adalah gunung berapi purba yang meletus, menghancurkan sebagian besar badannya dan membentuk kaldera yang kemudian terisi air.
Gunung purba lainnya adalah Gunung Malintang, yang sisa kalderanya kini dikenal sebagai Danau Laut Tinggal.
Dalam catatan sejarah yang dirangkum dari berbagai sumber, Gunung Tinjau yang berada di Sumatera Barat merupakan gunung berapi purba yang meletus sekitar 52.000 tahun yang lalu.
Dampak letusannya menghancurkan sebagian besar gunung dan menciptakan kaldera yang kini terisi air, membentuk Danau Maninjau.
Fenomena erupsi ini menyebarkan material vulkanik seperti batu apung dan tuff yang kemudian melapuk menjadi tanah vulkanis di sekitarnya.
Bahkan penampakan sisa ini dapat terlihat pada waktu-waktu tertentu yang membuat ikan-ikan di danau mati mendadak.
Sementara itu, Gunung Malintang diperkirakan berada di sekitar wilayah yang sekarang dikenal sebagai Danau Laut Tinggal yang berada di wilayah Utara Sumbar.
Sejarah gunung berapi purba ini dapat terlihat adannya sisa kaldera yang kini membentuk Danau Laut Tinggal yang terletak di ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut.
Fenomena di danau ini, dapat dilihat gawir Gunung Malintang berupa dinding lava andesit di bagian utara dan punggungan perbukitan breksi vulkanik di bagian selatan Gunung.
Satu lagi, yang saat ini masih terlihat berdiri adalah gunung Sago yang terletak di perbatasan daerah kecamatan Lareh Sago Halaban, Luhak, Situjuh Lima Nagari, kabupaten Lima Puluh Kota dan Lintau Buo Utara, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat,
Gunung Sago adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif, meskipun dulu sempat menjadi salah satu gunung aktif. Gunung Sago jika dilihat dari udara akan tampak memiliki kaldera besar yang dinamakan Kaldera Tingga. Kalderanya ini adalah kaldera mati yang terbuka.Bukaan kalderanya ke arah Lintau. Dari Kaldera inilah berhulu Sungai Batang Tampo yang mengalir di Lintau. Dari Lintau Gunung Sago akan terlihat seperti dua dan disambung oleh tebing kaldera yang disebut juga Sago malintang.
Memiliki Kaldera yang sangat luas, yakni mencapai 10 kilometer. Kaldera gunung ini termasuk kaldera mati, dan sudah ditumbuhi banyak pepohonan. Mirip sekali dengan Kaldera Gunung Baluran di Jawa Timur.
Gunung Sago sendiri juga terbilang sepi dan minim informasi seputar pendakian. Hal ini ditegaskan dengan kondisi geografis yang rapat serta hal-hal alam yang aneh dan tidak diketahui dalam kawasan ini. Puncak gunung berupa dinding kaldera yang luas. kaldera mati Gunung Sago juga diberi nama yaitu kaldera Tingga.
Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan adanya kabar yang menyebutkan bahwa Gunung Sago telah aktif kembali dengan tanda-tanda dan sesuatu yang dirasakan masyarakat di sekitar gunung.
Setelah beratus tahun lalu dinyatakan mati dan tidak aktif, kini Gunung Sago di Kabupaten Limapuluh Kota mulai menggeliat dan mengeluarkan kepulan asap hitam. Selain itu hujan es juga terkadang dirasakan dan pernah terjadi
Diduga kuat, gunung setinggi 2.262 meter itu terbangun dari tidur panjangnya. Kondisi ini membuat masyarakat setempat lebih meningkatkan kewaspadaan.
Mulainya peningkatan aktivitas di Gunung Sago mengingatkan kembali, bahwa masih ada beberapa gunung api di Sumbar yang masih tidur.
Pihak Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, pernah menyatakan Gunung Sago termasuk gunung yang aktif dan telah tercatat di pusat geologi Sumatera Barat.
Disebutkan bahwa Gunung Sago itu memang gunung yang aktif. Namun sejak tahun 1600-an tidak pernah menampakkan aktivitasnya.
[]