Bahaya Mencampur Adukkan Kebenaran dan Kebatilan, Serta Pentingnya Menjaga Lisan dan Tulisan Dijelaskan Dalam Al-Qur’an

ARASYNEWS.COM – Begitu indah ayat al-Qur’an, dengan ungkapan dalih mencari jalan tengah akan tetapi harus menyembunyikan kebenaran. Banyak sekali ayat Al-Qur’an disembunyikan baik sengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan orang-orang zaman sekarang ini.

Salah satunya yang dibahas kali ini adalah pentingnya menjaga lisan dan tulisan ternyata tertuang dalam Al-Qur’an dan hadist.

Lisan adalah ucapan yang keluar dari mulut. Pentingnya adab ini sangat perlu untuk diketahui. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah dalam menggunakannya dapat melukai hati orang banyak. Demikian juga dengan tulisan yang ditulis. Maksud dari itu dapat saja disalahartikan dan bisa saja melukai hati orang lain.

Setiap kalimat yang keluar dari mulut dan tulisan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Untuk itu, sebaik-baiknya manusia adalah orang yang terampil untuk memperhitungkan dan memperhatikan setiap perkataan yang akan diucapkannya. Sedangkan pada zaman sekarang ini penting bagi umat untuk menjaga tulisan terutama di media-media sosial.

Mengutip dari laman resmi Kemenag, pentingnya menjaga lisan supaya tidak salah dalam menggunakannya, yang mana hal tersebut akan melukai banyak orang.

Pentingnya menjaga lisan juga tertuang dalam Al-Qur’an pada surat An-Nisa ayat 144, yang berbunyi,

لَّا خَيْرَ فِى كَثِيرٍ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَٰحٍۭ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa (4) : 114).

Perlu diketahui bahwa setiap ucapan yang keluar dari mulut kita tidak luput dari pendengaran Allah SWT. Bahkan tiada sepatah katapun yang kita ucapkan kecuali nantinya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Allah telah mengutus malaikat yang mencatat setiap ucapan dan tulisan manusia, yang baik maupun yang buruk. Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf (50) : 18)

Allah Ta’ala juga menurunkan ayat:

وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ

Artinya: “Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu.” (QS. Fushshilat (41) : 22).”

Mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 42).

Ayat ini adalah larangan untuk mencampur adukan kebenaran dan kebatilan. Kata larangan (al-nahyu) dalam kaidah ushul fiqih adalah keharaman, karena asal dari larangan adalah haram.

Ayat ini jelas menunjukan keharaman melakukan pencampur adukan kebenaran dengan kebatilan, karena akan menyebabkan ketidak jelasan kebenaran itu sendiri.

Ini adalah pola tasybih (membuat syubhat) sebuah konsep kebenaran, tasywih (membuat samar kebenaran) dan talfiq al batil (pencampuran yang batil).

Allah SWT dalam surat al Baqarah ayat 42 ini adalah juga tentang menyembunyikan kebenaran. Hakikatnya hal ini terjadi pada orang-orang yahudi yang menyembunyikan kebenaran kerasulan nabi Muhammad ﷺ oleh para rahib mereka, bahkan mereka merubah ayat atau menghapusnya. Sehingga umat benar-benar tersesat dengan keinginan dan nafsu para Rahib mereka.

Kebahagiaan seorang mukmin adalah ketika hatinya mampu menerima segala yang datang dari Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ اِذَا دُعُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ اَنۡ يَّقُوۡلُوۡا سَمِعۡنَا وَاَطَعۡنَا​ؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‏ ٥١

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur (24) : 51)

وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ وَيَخۡشَ اللّٰهَ وَيَتَّقۡهِ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفَآٮِٕزُوۡنَ‏ ٥٢

“Siapa saja yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An-Nur (24) : 52).

Dalam ayat yang lain, “… Dan apa yang diberikan Rasulullah SAW kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (QS. Al Hasyr: 7).

Demikianlah seharusnya orang mukmin ketika Al-Qur’an dihadapannya maka dia memperlakukan dirinya

Sebagaimana Allah SWT berfirman: Allah berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami ingkar terhadap (sebagian yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan,” (QS. An-Nisa: 150-151).

Hakikatnya penyakit ini juga banyak terjadi pada umat muslim saat ini, yang mereka menyembunyikan ayat Allah SWT yang tidak sesuai dengan nalar berfikir mereka, karena mereka lebih mengedepankan akal logika mereka.

Bahkan kadang mereka asyik dengan mengambil sebagian yang mereka sukai, dan meninggalkan ayat yang mereka sendiri ragu dan berat melakukan.

Wallahu alam

[]

Source. Berbagai sumber tausiyah Jum’at

You May Also Like