Masjid Raya Kubang Putiah yang berubah ikuti zaman, tak banyak yang tersisa
ARASYNEWS.com — Wisata di Nagari Kubang Putiah, Kabupaten Agam, menawarkan daya tarik utama berupa wisata religi, sejarah, hingga pada suasana yang damai, berada di dataran tinggi dan area pertanian. Salah satu ikon penting di wilayah ini adalah Masjid Raya Kubang Putih.
Masjid bersejarah ini berdiri sejak tahun 1810 dan ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya tertua oleh BPCB Sumatera Barat.
Masjid ini telah melewati beberapa zaman dan bencana. Dulu, pernah menjadi sasaran mortir pada masa perang PRRI dan juga pernah dihoyak gempa berkekuatan besar.
Masjid Raya Kubang Putih berkaitan dengan sejarah nagari tempatnya berdiri. Ini karena pada zaman dahulu, berdirinya nagari harus ada masjid sebagai syarat.
Dikutip dari penjelasan masyarakat dan tokoh, didirikannya masjid ini secara gotong royong oleh masyarakat di empat koto, yakni Lareh Lurah, Lareh Gurun Aua, Lareh Nan Panjang, dan Lareh Kuruak. Koto merupakan tingkatan permukiman sebelum nagari. Di Minangkabau, unit permukiman dimulai dari taratak, dusun, koto, dan nagari.
Dan empat koto itu diibaratkan sebagai tiang besar utama yang ada di dalam bangunan masjid.
Masjid ini dahulunya mengikuti bangunan pada zaman kolonial Belanda.
Atap masjid berbentuk limas yang berundak-undak sebanyak empat buah bersusun dua pada tingkat atasnya.
Luas bangunan berbentuk persegi dengan ukuran 23 x 21 meter persegi. Lantai bangunan terbuat dari kayu dan lebih tinggi dari permukaan tanah.
Di sekeliling bangunan, terdapat serambi berukuran lebar 2,5 m. Serambi di sebelah barat tidak penuh karena dipisahkan oleh mihrab.
Pada pintu masuk di sebelah timur sejajar mihrab, terdapat serambi yang menjorok keluar berukuran 7,5 x 5 meter dengan sejumlah anak tangga sebagai akses masuk dari luar menuju masjid. Dan pintu disematkan berukuran yang besar.
Seluruh sisi luar serambi diberi pagar langkan dan pelengkung. Dinding-dinding yang mengarah ke serambi dihiasi oleh tiang-tiang semu yang mengapit setiap bukaan (pintu dan jendela). Sisi samping kiri kanan masing-masing memiliki lima jendela dan satu pintu. Sisi belakang memiliki tiga pintu dan dua jendela. Sisi depan memiliki lima jendela, tiga di antaranya ada di sisi mihrab.
Tampilan dari luar Masjid Raya Kubang Putih terkesan seperti istana.
Pada bagian dalam, ada empat tiang utama berdiameter 50 centimeter. Tiang-tiang itu layaknya pilar dengan umpak balok di bagian bawah dan pelipit candi di bagian atas.
Pada langit-langitnya, menjuntai sebuah lampu gantung yang memberi sentuhan kuno pada masjid.
Di sebelah timur atau membelakangi mihrab, terdapat sebuah menara bertingkat tiga dengan puncak kubah. Tingkat pertama dan dua merupakan ruang tangga spiral menuju tingkat tiga. Setiap tingkat memiliki area balkon keliling.
Pada umumnya konstruksi bangunan dari batu bata berukuran besar dengan pekerat kapur putih, karena ketika dibangun belum ada semen.
Sementara itu, gempa dahsyat yang melanda di tahun 1926 tidak banyak kerusakan, hanya pada tingkat ass menara yang jatuh dan menimpa area serambi dan anak tangga.
Kemudian pada masa perang pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), masjid pernah ditembaki mortir oleh tentara dari pusat.
Mortir itu jatuh di bagian dekat atap masjid, tapi tidak menimbulkan kerusakan yang berarti. Mortir itu sesungguhnya ditujukan ke kediaman Mr Assaat, merupakan tokoh kelahiran Kubang Putiah. Ia pernah menjadi Acting Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta dari 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950. Namun, selanjutnya ia terlibat PRRI karena menentang Bung Karno yang mulai melenceng dari konstitusi.
Selanjutnya, pada tahun 1995, ada pergantian pada bagian lantai, dari papan ke keramik.
Dan sekitar tahun 2010, ada usulan rencana segelintir orang yang ingin mengganti masjid dengan bangunan yang lebih modern. Dan masyarakat menyetujuinya.
Hingga kini, tidak banyak yang tersisa dari fisik bangunan bersejarah pada masjid Raya Kubang Putiah.
[]