Allah Jadikan Seseorang itu Miskin atau Kaya, Ini Tersirat Dalam Al-Qur’an dan Dalilnya

ARASYNEWS.com — Ukuran tingkat kemuliaan seseorang dalam pandangan Islam dan Al-Qur’an bukanlah kaya ataupun miskin, bukan banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada ketakwaannya. Harta hanyalah rezeki, titipan, dan ujian hidup yang diberikan Allah SWT.

Dalam hakikat, Allah menguji manusia dengan kelapangan (kekayaan) untuk melihat apakah mereka bisa bersyukur, dan menguji dengan kesempitan (kemiskinan) untuk melihat apakah mereka bisa bersabar.

Allah bisa dengan mudah meluaskan dan menyempitkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya sesuai dengan hikmah-Nya.

Kekayaan yang diberikan tidak berarti Allah sedang memuliakan seseorang, dan kemiskinan seseorang juga tidak berarti Allah sedang menghinakannya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Fajr ayat 15-16

فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ

fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na”amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

Artinya: Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (QS. Al-Fajr ayat 15)

وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ

wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

Artinya: Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS. Al-Fajr ayat 16)

Harta adalah amanah. Orang kaya diuji darimana hartanya didapat dan ke mana digunakan. Dalam harta orang kaya terdapat hak bagi orang fakir dan miskin melalui zakat, infak, dan sedekah (seperti dalam QS. Al-Dzariyat ayat 19).

وَفِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

wa fī amwālihim ḥaqqul lis-sā`ili wal-maḥrụm

Artinya: Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Al-Dzariyat ayat 19)

Selain itu, mereka yang mampu tidak boleh merendahkan orang yang kurang mampu, sebagaimana kisah pemilik dua kebun yang diceritakan dalam QS. Al-Kahfi.

Orang miskin dianjurkan untuk tetap sabar, menjaga kehormatan diri (tidak mengemis jika masih mampu bekerja), dan terus berikhtiar, serta tidak menutupi akan kemiskinan.

Allah maha pemberi. Allah maha mengatur siapa yang layak mendapat kelebihan harta dan siapa yang panas diberi dengan kondisi sedikit kekurangan. Allah yang menentukan siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Bekerja adalah wasilah dan jalan. Tapi Allah yang menentukan takaran rezeki dan kekayaan seorang hamba.

Dalam tafsir surat Asyuura 27 disebutkan, sesungguhnya ada diantara hamba Allah orang yang tidak pantas baginya kecuali kaya. Sebab, ️ jika seandainya Allah menjadikan dia sebagai orang miskin, niscaya kemiskinannya akan merusak dirinya dengan menjauh dari agamanya

️Dan diantara hamba Allah ada orang yang tidak pantas baginya kecuali miskin. Sebab, kalau seandainya Allah menjadikan dia orang kaya, niscaya kekayaannya akan merusak dirinya dan dia akan berpaling dan menjauh dari agama dan ketaatan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَا دِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَ رْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ بِعِبَا دِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura : 27)

Kaya atau miskin ditetapkan Allah dan ada hikmahnya. Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir, yang menjelaskan Surat Asy- Syura ayat 27, Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa Allah memberikan rezki kepada mereka, dengan rezki yang Dia pilih yang di dalamnya ada kemaslahatan mereka. Dan Allah lebih tahu akan hal itu, maka Dia pun menjadikan kaya orang yang berhak untuk kaya. Lalu menjadikan miskin siapa saja yang berhak untuk miskin. Dan Allah memberi rezeki sesuai kadar hamba-Nya dalam ketentuan-Nya bahwa Dia lah yang maha pemberi rezeki.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS. Fathir: 3)

Allah SWT berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah.” (QS. Saba’: 24)

Allah juga menegaskan bahwa : “Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah; maka mengapakah engkau bisa berpaling (dari perintah beribadah kepada Allah semata)?” (QS. Fathir: 3)

Kaya ataupun miskin bukanlah tanda orang itu mulia atau hina. Karena orang kafir (tidak menyembah Allah dan tidak beriman pada Rasulullah) saja Allah beri rezeki, begitu pula dengan orang yang bermaksiat pun Allah beri rezeki.

Jadi rezeki tidak dibatasi pada orang beriman saja. Sebagaimana dalam ayat disebutkan :

اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ القَوِيُّ العَزِيزُ

“Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah yang Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura: 19)

Dan, sejatinya kekayaan dan kemiskinan merupakan ujian dari Allâh Azza wa Jalla terhadap para hamba-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Dan Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan. (QS. Al-Anbiya : 35)

Islam juga mengatasi kemiskinan dengan menyeru orang-orang miskin untuk bekerja, tidak malas dan berpangku tangan, agar mereka tidak menjadi beban masyarakat. Berusaha mengentaskan kemiskinan dan bekerja mencari rezeki merupakan perkara yang disyariatkan dan terpuji.

Diantara doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allâh aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri, dan kecukupan. (HR. Muslim)

Dan rezeki yang banyak merupakan salah satu buah dari amal shaleh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka sambunglah silaturahmi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu alam bish shawab

[]

Next Post

No more post

You May Also Like