ARASYNEWS.com — Media sosial kembali menghadirkan sosok pejuang yang berasal dari Tanah Minang. Ia adalah Ibrahim Datuk Sutan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan, pemikir politik, guru, penulis, dan tokoh revolusi.
Ia dikenal sebagai Tan Malaka, lahir di Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota Sumatera Barat, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Tanggal lahirnya tidak jelas, dan bervariasi dari sumber ke sumber, tetapi kemungkinan antara tahun 1894 dan 1897, dan wafat pada 21 Februari 1949.
Tan Malaka, sebuah nama kehormatan dan semibangsawan, ia mewarisi dari latar belakang bangsawan ibunya.
Ayahnya adalah HM. Rasad Caniago, seorang buruh tani, dan ibunya Rangkayo Sinah Simabur, putri seorang tokoh terpandang di desa tersebut. Sehingga dari nama ibunya, dapatlah diketahui bahwa ia berasal dari suku Simabua. Sebagai seorang anak, Tan Malaka tinggal bersama orang tuanya di Suliki, mempelajari ilmu agama Islam yang kaffah, menghafalkan Quran di luar kepala serta mempelajari seni bela diri pencak silat.
Selain itu, ia juga belajar ilmu tasawuf kepada Syekh Abdul Wahid Al-Khalidy Asy-Syadzily Tabek Panjang Ampang Godang.
Tan Malaka melalui perjalanan panjang dalam hidupnya dan melalang buana ke berbagai negara di Eropa dan Asia.
Ia dikenal sebagai seorang negarawan, guru, penganut paham Marxisme, dan filsuf Indonesia yang merupakan pendiri Persatuan Perjuangan dan Partai Murba.
Ia juga dikenal sebagai pejuang, pahlawan nasional, gerilyawan independen, dan mata-mata Indonesia. Dan Tempo menjulukinya sebagai “Bapak Republik Indonesia”.
Gagasan penting yang dibawanya adalah Madilog, Marxisme Nasional, 100% Indonesia merdeka.
Tan Malaka dicap sebagai pengkhianat atau penentang oleh kelompok yang berbeda (baik pemerintah masa revolusi maupun sesama kaum komunis) karena perbedaan pandangan politik dan penolakannya terhadap jalan kompromi, bukan karena ia menjual negara kepada penjajah.
Ia sempat dimusuhi dan dipandang sebagai ancaman. Ini karena menolak terhadap diplomasi pemerintah. Tan Malaka menolak keras perundingan damai dengan Belanda (seperti Perjanjian Linggarjati atau Renville) yang dilakukan oleh pemerintah Soekarno-Hatta dan Sutan Sjahrir.
Ia juga dianggap makar karena ia mendirikan Persatuan Perjuangan yang menuntut kemerdekaan total tanpa syarat. Karena mengkritik keras dan dianggap memecah belah kekuatan revolusi, pemerintah menilainya sebagai ancaman atau mencoba melakukan makar.
Tan Malaka menolak rencana pemberontakan PKI terhadap Belanda pada tahun 1926 karena menganggapnya belum matang dan akan menghancurkan gerakan rakyat.
Dan ia juga dicap pengkhianat partai. Akibat penolakan itu, ia sempat dimusuhi oleh sebagian elite komunis sendiri dan dianggap sebagai pemecah belah di masa lalu.
Tan Malaka adalah tokoh paham Marxisme dan pernah menjadi pemimpin penting di awal berdirinya PKI (Partai Komunis Indonesia), tetapi ia kemudian keluar dan berseberangan jalan dengan PKI garis keras. Ia dikenal sebagai pahlawan nasional dan pemikir kemerdekaan, bukan pengikut setia PKI di kemudian hari.
Ia pernah sebagai tokoh kunci dan ketua PKI pada tahun 1921-1922 serta wakil komunis internasional untuk wilayah Asia Tenggara.
Tetapi akhirnya ia keluar dari PKI karena bertentangan. Ia menolak pemberontakan fisik yang gegabah terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1926. Akibat perbedaan pandangan ini, ia keluar dan dilepaskan dari lingkaran utama PKI.
Selanjutnya, setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan dan Partai Murba, dengan haluan politik yang berbeda dari PKI di bawah pimpinan Musso pada 1948.
Tan Malaka ingin menyatukan unsur Islam dan Marxisme untuk melawan kapitalisme penjajah, bukan menghapus agama. Dan ia juga menolak pemberontakan 1948 di Madiun. Ia menentang karena dianggap merusak kedaulatan Republik Indonesia yang baru merdeka.
Tan Malaka bukan merujuk pada kejahatan kriminal, melainkan pada konflik politik, sikap radikal tanpa kompromi, dan tragedi penyingkiran namanya dari sejarah resmi Orde Baru akibat perbedaan tajam antara gagasan revolusinya dan jalur diplomasi pemerintah RI saat itu.
Tan Malaka dan Soekarno adalah dua tokoh penting kemerdekaan Indonesia yang memiliki hubungan unik, saling mengagumi secara pemikiran dan bersahabat, namun sering berbeda pendapat soal cara melawan penjajah. Soekarno bahkan pernah menyebut Tan Malaka sebagai “master” orasi dan pemikir ulung, serta sempat menyiapkan Tan Malaka sebagai penggantinya jika terjadi sesuatu.
Keduanya sama-sama ingin Indonesia merdeka penuh dan bebas dari penjajah. Soekarno sering memilih jalan perundingan atau diplomasi dengan Belanda pada masa awal revolusi. Sebaliknya, Tan Malaka menolak perundingan dan menuntut kemerdekaan 100% secara mutlak lewat perlawanan rakyat atau gerilya.
Di tengah masa revolusi fisik, Soekarno pernah diam-diam mendukung Tan Malaka dan bahkan sempat berencana menyerahkan pimpinan revolusi kepadanya dalam kondisi darurat.
Walau politik mereka sempat berseberangan hingga Tan Malaka diburu pada masa akhir hidupnya, Soekarno lah yang resmi menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1963.
Seiring berjalannya waktu, pandangan sejarah resmi akhirnya negara meluruskan statusnya, dan Tan Malaka telah ditetapkan secara resmi sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tahun 1963 atas jasa-jasa besarnya dalam merintis Republik Indonesia.
Tan Malaka terkenal karena jasanya sebagai pemikir ulung, pejuang kemerdekaan, dan penulis yang dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia” karena gagasan negara republiknya mendahului para pendiri bangsa lain. Ia juga dikenal lewat konsep “Merdeka 100%” tanpa kompromi serta karya filsafatnya yang monumental berjudul Madilog.
Kisah perjalanan dan perjuangannya itu yang ingin merdeka 100% untuk seluruh rakyat, bukan untuk kaum elite, golongan, pegawai. Kemerdekaan yang dirancang bukan untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan disebutkan melalui perjalanan yang salah, jika tidak diperbaiki, maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah merdeka, berbagai pertentangan akan terus terjadi.
[]
Sc: tempo dan berbagai sumber