Mengenang Peristiwa Situjuah Batua, Pembelaan Negara dan Pengkhianatan

ARASYNEWS.COM – Nagari Situjuah Batua terletak di kecamatan Situjuah Limo Nagari, kabupaten Limapuluh Kota. Nagari ini terkenal dengan sejarah dan peristiwa besar pada masa kemerdekaan RI waktu dulu dan terus dikenang masyarakat Situjuah Batu dan Sumatera Barat hingga kini.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memimpin upacara peringatan Peristiwa Situjuah ke-74 di Lapangan Chatib Sulaiman, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Ahad (15/1/2023).

Turut hadir dalam acara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Hansastri, Wakil Ketua DPRD, Irsyad Syafar, Bupati Limapuluh Kota, Safaruddin, Mantan Walikota Payakumbuh, Riza Falepi, Wali Nagari, beserta tokoh masyarakat setempat.

Peristiwa ini selalu diperingati oleh masyarakat setiap tanggal 15 Januari.

Peristiwa ini merupakan peristiwa sejarah yang terjadi pada periode Revolusi Fisik di saat Pemerintahan Indonesia mempertahankan kemerdekaannya dari kolonial Belanda

Peristiwa Situjuah terus membekas di hati masyarakat di Situjuah dan Sumatera Barat. Merupakan suatu peristiwa penyerangan oleh pasukan penjajah Belanda terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya. Penyerangan itu akibat sebuah pengkhianatan oleh bangsa sendiri.

Penyerangan itu menewaskan beberapa orang pimpinan pejuang dan puluhan orang anggota pasukan lainnya, termasuk Chatib Sulaiman, Arisun Sutan Alamsyah, dan Kapten Thantowi.

Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI)

PDRI adalah suatu pemerintahan darurat yang dibentuk pada tanggal 22 Desember 1948 oleh beberapa orang pimpinan pejuang kemerdekaan Indonesia dan dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Pemerintahan itu dibentuk karena ditangkap dan diasingkannya beberapa orang pemimpin Republik Indonesia yaitu Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Luar Negeri Agus Salim, dan Sjahrir serta yang lainnya oleh pihak Belanda ketika terjadinya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948.

Sebelum ditangkap, Presiden Soekarno telah memberikan mandat kepada Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera, tapi pemerintahan secara gerilya itu belum berjalan dengan efektif.

Pada masa kritis itu, beberapa pemimpin PDRI kemudian berencana melakukan rapat untuk menyusun strategi dan koordinasi yang masih sangat kurang.

Ibu kota PDRI saat itu dipindahkan ke Bukittinggi, namun perjuangannya lebih banyak terjadi di desa-desa dan hutan-hutan Sumatra Tengah sehingga disebut “Pemerintahan Dalam Rimba Indonesia” (PDRI) oleh pihak Belanda. Sedangkan lokasinya disebut “Somewhere in the Jungle”.

Perjuangan PDRI itulah terjadi suatu peristiwa pada tanggal 15 Januari 1949, dimana puluhan orang pejuang yang terdiri dari beberapa pimpinan dan puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK) tewas ditembak oleh pihak penjajah Belanda.

Peristiwa itu terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Malam sebelumnya pada 14 Januari 1949 para pejuang tersebut mengadakan rapat untuk membahas strategi dalam menghadapi agresi yang dilakukan pihak Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda II.

Rapat itu atas instruksi Gubernur Militer Sumatra Tengah Sutan Mohammad Rasjid dan dipimpin oleh Chatib Sulaiman selaku Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Selain itu rapat juga diikuti oleh beberapa orang pimpinan pejuang lainnya, diantaranya Arisun Sutan Alamsyah (Bupati Militer Lima Puluh Kota), Letnan Kolonel Munir Latief, Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Lettu Azinar, Letda Syamsul Bahri serta 69 orang pasukan Barisan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK).

Hasil rapat memutuskan bahwa mereka akan menyerang kota Payakumbuh yang diduduki Belanda, dan akan menduduki kota. Perlawanan gerilya rakyat saat itu untuk membuktikan pada dunia internasional bahwa Pemerintahan Republik Indonesia masih ada dan didukung rakyat yang terus melakukan perlawanan dan perjuangan. Semua itu dilakukan untuk melawan propaganda Belanda yang selalu mengatakan bahwa mereka telah menguasai Indonesia sepenuhnya setelah mereka berhasil menduduki ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta, serta menangkap dan mengasingkan para pemimpin Republik.

Subuh hari setelah beristirahat seusai rapat, ketika hendak melaksanakan shalat subuh tiba-tiba mereka diserang oleh pihak Belanda. Para pimpinan pejuang yang ikut menghadiri rapat tersebut beserta puluhan pejuang lainnya gugur seketika.

Peristiwa yang terjadi di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu dikenang sebagai “Peristiwa Situjuah”.

Kisah pengkhianatan

Lokasi rapat yang ditentukan berada di nagari Situjuh Batur tepatnya di sebuah surau milik orang tua Mayor Makinuddin HS (Wedana Payakumbuh) yang berada di Lurah Kincia (kincir). Sehabis rapat para peserta yang sebagian besar berasal dari luar daerah tidur di surau dan rumah di lembah tersebut.

Dalam peristiwa penyerangan secara tiba-tiba itu, pada tanggal 15 Januari 1949 di Situjuah Batua, pada dini hari menjelang Subuh, tentara Belanda mengepung dan menembaki surau dan rumah di lembah sempit tersebut. Para peserta rapat yang sedang tidur segera bangun dan berusaha bersembunyi dari tembakan. Sebagian lagi mencoba melawan dengan membalas tembakan, namun tidak mampu menghalau kepungan. Posisi mereka terjepit dalam lembah yang sempit sedangkan serdadu Belanda berada di tempat yang tinggi dengan senjata lengkap.

Akhirnya diketahui, ternyata rahasia tempat rapat para pejuang itu bocor ke pihak Belanda. Yang membocorkan adalah Letnan Kamaluddin.

Tak lama kemudian, Komandan Militer Sumatera Barat, Letkol Dahlan Ibrahim kemudian memerintahkan untuk menangkap Letnan Kamaluddin dan memvonisnya dengan hukuman mati karena berkhianat.

Beberapa perwira bersama masyarakat kemudian mencarinya dan suasana hukum zaman revolusi yang sifatnya tumpas kelor pun berlaku. Diketahui juga ada pengkhianat lainnya. Anak istri, ipar dan saudaranya Letnan Muda Djalaluddin ikut dibunuh atas tuduhan pengkhianat yang ditempelkan kepadanya. 

Letnan Kamaluddin sendiri ditangkap di Gadut, sekitar 30 km dari Situjuah Batua. Ia dibawa ke sebuah rumah kosong dan saat diinterogasi, karena sudah ada niat untuk membunuhnya, maka salah seorang kemudian menebaskan parang yang mengenai kepalanya tapi tidak tepat sasaran. 

Ia melawan dan berhasil lari ke daerah Ibuh (sekarang merupakan pasar tradisional Kota Payakumbuh), yang merupakan garis demarkasi antara Belanda dengan Republik.

Meski terluka parah, ia tidak pernah berobat dan hanya melilitkan handuk kumal di kepalanya, karena khawatir akan keselamatan jiwanya. Karena sangat menderita, akhirnya ia tidak tahan juga dan keluar dari persembunyian menemui Mayor Nurmatias di nagari Koto Nan Ampek, untuk meminta perlindungan. 

Oleh Mayor Nurmatias ia disarankan untuk berobat ke rumah sakit di Kota Payakumbuh. Akan tetapi ia menolaknya mentah-mentah dan bersumpah bersedia mati dalam keadaan apa saja asal tidak pergi ke kota, karena hal itu akan memperkuat tuduhan orang bahwa ia adalah mata-mata Belanda. 

Merasa tidak mendapat perlindungan, maka Letnan Kamaluddin kemudian pergi menuju daerah Kamang (sekitar 15 km dari Kota Bukittinggi), untuk menemui Kolonel Dahlan Djambek, perwira paling senior di Sumatera Barat. Namun ditengah jalan tepatnya di Padang Tarok, ia dicegat oleh anak buahnya sendiri dan kemudian langsung dibunuh saat itu juga.

Hingga kini, Letnan Kamaluddin dicap sebagai pengkhianat. Tapi tidak ada bukti atas kesalahan pengkhianatan bahwa ia adalah seorang mata-mata Belanda. Hingga pada penelitian terhadap berkas-berkas milik Belanda juga tidak menemukan jejak Letnan Kamaluddin. []

You May Also Like