ARASYNEWS.COM – Gunung api Marapi yang terletak di antara Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar ini memiliki ketinggian 2.891 mdpl. Belum ada catatan berapa luas gunung yang berada di antara tiga kota (Bukittinggi, Padang Panjang, dan Batusangkar) di Sumatera Barat ini.
Keberadaan Gunung Marapi sangat kental karena mempunyai nilai historis bagi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat.
Konon menurut sejarahnya, nenek moyang orang Minangkabau berasal dari lereng Gunung Marapi, hal ini ditandai dengan terdapatnya Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar yang tidak jauh dari kota Batusangkar.
Nagari Pariangan merupakan cikal bakal dari lahirnya sistem pemerintahan masyarakat berbasis nagari di Sumatera Barat. Sebuah animo unik yang berkembang di masyarakat pada zaman dahulu, bahwa jika seseorang belum pernah mendaki Gunung Marapi maka orang tersebut belum “lengkap” disebut sebagai orang Minangkabau.
Puncak Marapi dalam legenda Minang adalah awal dari lahirnya Ranah Minangkabau. Awal lahirnya Minang Darek (wilayah pegunungan Marapi) nenek moyang bangsa yang diyakini masih keturunan Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia itu dikisahkan dalam Tambo terdampar saat berlayar di Puncak Marapi dan saat surut banjir, nampaklah di bawah kaki gunung Luhak nan Tigo (3 cekungan daratan) maka rombongan kapal yang terdampar itu mulai menuruni 3 wilayah itu, Luhak nan Tigo itu yang sekarang diketahui sebagai Wilayah Kabupaten Tanah Datar (kota Batusangkar dan Padangpanjang), yaitu Luhak nan Tuo, Wilayah Kabupaten Agam (Kota Bukittinggi) sebagai Luhak nan tengah, dan Kabupaten Limapuluh Kota sebagai Luhak nan Bungsu. Legenda ini yang menjadi pedoman penduduk setempat sebagai cikal bakal lahirnya masyarakat Minangkabau yang memiliki adat istiadat budaya yang khas dan unik.
Sejatinya Minangkabau adalah masyarakat pegunungan dimana Gunung Marapi menjadi Simbol Budayanya diinfokan dari orang tua dahulu bahwa Rumah Gadang dalam kepercayaannya harus didirikan dengan menghadap ke Gunung Marapi
Legenda lainnya, gunung ini adalah situs yang pertama kali dihuni oleh orang Minangkabau setelah kapal mereka mendarat di gunung ketika ukurannya sebesar telur dan dikelilingi oleh air.
Ada sejumlah besar batu penguburan tegak (menhir) di wilayah yang berorientasi ke arah gunung, yang menunjukkan makna budayanya.
Pada salah satu kawasan di gunung ini tumbuh subur bunga abadi atau yang dikenal dengan nama bunga edelweis. Bunga berwarna kuning kehijauan ini selalu mekar dan harum tumbuh subur secata alami. Untuk di Sumatera Barat, bunga edelweis ini hanya dapat ditemukan pada pegunungan.
Masih di kawasan gunung Marapi ini juga terdapat satu kawasan hutan. Hutan ini, ditandai dengan puncak Garuda. Lokasinya bersebelahan dengan tanam bunga edelweis. Hutan larangan, begitulah yang disebutkan. Hutan ini terdapat di bagian timur gunung.
Hutan ini dilarang bagi siapa saja pendaki untuk memasukinya. Hal ini karena diyakini tempat ini sebagai penghuni orang bunian. Bagi siapa saja yang masuk ke kawasan hutan larangan ini, akan sulit untuk dapat kembali.

Marapi memiliki dua buah kawah yang mana salah satu kawahnya sudah tidak aktif, sedang kawah satunya lagi masih tergolong aktif. Hal ini terbukti dari kepulan asap putih dari dasar kawah.
Aroma belerang yang sangat menyengat di sekitar kawah yang berasap juga menjadi bukti lainnya bahwa kawah tersebut masih aktif.
Puncak Gunung Marapi dikenal dengan nama puncak Merpati. Untuk mencapai puncak ini melewati tepi kawah. Sedangkan kawah pada gunung ini ada dua, ini berbeda dengan gunung-gunung lainnya di Indonesia. Hanya saja satu kawah telah mati dan kawah satunya lagi masih berstatus aktif.
Selain itu, di puncak gunung ini terdapat lapangan yang sangat luas dengan pasir berwarna kehitaman dan berbatu. Pasir berbatu ink merupakan muntahan sisa material vulkanik yang dulu ikut keluar saat erupsi berlangsung.

Masih di bagian puncak, terdapat satu tugu, dikenal dengan nama tugu Abel. Ini dibangun sebagai penghormatan kepada Abel Tasman, sebagai mengingat salah seorang pendaki yang hilang di gunung ini puluhan tahun yang lalu.

Masih di kawasan gunung Marapi ini, juga terdapat bangunan tua yang bersejarah. Bangunan ini tidak jauh dari pintu masuk kawasan gunung, sekitar 200 meter. Bangunan ini disebut juga sebagai Pesanggrahan atau tempat beristirahat Bung Hatta dan ada juga yang menyebutkan sebagai peninggalan zaman penjajahan Belanda. Beragam cerita tentang rumah tua tersebut sampai saat ini belum ada sumber yang lengkap menjelaskannya.
Bangunan berbentuk rumah peninggalan tersebut, saat ini hanya tinggal sebagian dinding, pondasi dan satu cerobong asap dengan ketinggian kurang lebih 10 meter.

Di bagian Utara gunung Marapi ini juga terdapat bangunan tua yang dimanfaatkan sebagai tempat beribadah. Masjid ini terletak di kaki Gunung Merapi, tepatnya di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh Kecamatan Canduang. Berdiri pada ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut dengan luas bangunan sekitar 21 x 21 meter. Atap bangunan masjid berbahan dasar ijuk dengan ketinggian atapnya sekitar 19 meter.. Masjid Bingkudu diperkirakan berdiri tahun 1823 atas prakarsa Inyik Lareh Candung gelar Inyik Basa (H Salam). Pendirian masjid merupakan hasil kesepakatan dari empat delegasi yang mewakili daerah sekitar Bingkudu
Selain itu, di kaki gunung Marapi ini juga terdapat masjid Syuhada Sariak yang terletak di Sungai Sariak, Sungai Pua, Kabupaten Agam. Diperkirakan berdiri pada tahun 1800-an. []