Yang Istimewa dari Nagari Pandai Sikek di Kaki Gunung Singgalang

ARASYNEWS.COM – Nagari Pandai Sikek, terletak di Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat. Berjarak sekitar 45 kilometer dari ibukota kabupaten Tanah Datar dan lebih dekat ke Bukittinggi dan Padang Panjang.

Banyak pengunjung yang datang ke daerah ini bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri.

Desa Pandai Sikek terkenal dengan aneka tenunan kain songket. Kainnya halus dan motif yang dibuat sangat beragam dan berwarna. Dan istimewanya, tenunan songket dibuat menggunakan tangan dan mesin tradisional. Alat-alat tenun tradisional bahkan ada di rumah-rumah di Pandai Sinkek.

Kerajinan tenun songket telah menjadi pekerjaan utama penduduk di daerah ini sejak akhir abad ke-18.

Selain bertenun penduduk Desa Pandai Sikek juga ahli dalam kerajinan ukiran kayu dan kerajinan tembaga. Kerajinan dari ukiran kayu berbagai macam motif dan pola ini biasanya digunakan sebagai hiasan pada dinding-dinding rumah gadang.

Selain itu, juga ada produk lain seperti mimbar masjid, kotak perhiasan bahkan hingga souvenir yang memadukan kayu ukiran dengan hiasan kain songket.

Sementara itu, bagi laki-laki, mayoritas bertani dan berladang. Hasil pertanian dan ladang tumbuh subur dan bagus karena berada di kaki gunung.

Tetapi di nagari ini yang menjadi sumber pendapatan primadona bagi masyarakat setempat adalah sebagai pengrajin tenun atau songket.

Motif-motif kain tenun di nagari ini selalu diambil dari contoh kain-kain tua yang masih tersimpan dengan baik dan sering dipakai sebagai pakaian pada upacara-upacara adat dan untuk fungsi lain dalam lingkup upacara adat, misalnya sebagai tando dan dipajang juga pada waktu batagak (mendirikan) rumah.

Motif-motif tenun Pandai Sikek diyakini sebagai motif asli, pada kain-kain tenunan perempuan-perempuan Pandai Sikek pada zaman lampau.

Keterampilan menenun di Nagari Pandai Sikek telah ada sejak ratusan tahun lalu dan turun temurun. Misalnya setiap anak perempuan diperkenalkan dengan budaya menenun sejak sebelum beranjak remaja atau telah berusia 10 tahun.

Bahkan ada semacam pandangan bahwa jika tak pandai menenun, bukanlah perempuan Pandai Sikek. Tak mengherankan jika tenun Pandai Sikek menjadi salah satu kain khas di Sumatera Barat yang motifnya telah berusia 300 tahun.

Dengan waktu kerja yang panjang dan tingkat kerumitan tinggi, tak mengherankan jika tenun songket berharga mahal. Harga satu setel kain untuk sarung dan selendang bisa berkisar antara Rp5-10 juta.

Meski harganya terbilang fantastis, tetapi pembelian dan pemesanan juga lumayan tinggi, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga keluar negeri melalui pengiriman.

Di sepanjang jalan masuk desa ini berdiri galeri atau butik yang memajang kain tenun Pandai Sikek. Tak sedikit pula galeri itu memamerkan proses pembuatan tenun. Mereka juga menyediakan tenaga ahli tenun yang siap membimbing para pengunjung.

Kearifan lokal bertenun inilah yang membuat tenun Pandai Sikek bertahan dan tetap bergairah hingga sekarang.

Konon, nama Nagari Pandai Sikek berasal dari aktivitas ini. Benang-benang tenun itu dimasukkan ke dalam papan besi yang dilubangi mirip sikek (sisir). Dan itulah asal penamaan nagari ini.

[]

You May Also Like