Wisata Religi Sambil Beribadah dan Berziarah ke Masjid Raya Syahabuddin di Pinggir Sungai Siak

ARASYNEWS.COM – Masjid Raya Syahabuddin atau Masjid Raya Siak merupakan salah satu masjid yang berlokasi di Jalan Sultan Ismail, Kampung Dalam, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Lokasinya berjarak sekitar 500 meter dari Istana Siak.

Dalam catatan sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1926, yakni pada masa Sultan Al Said Al Kasyim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (Sultan Siak ke-12), dan selesai dibangun pada tahun 1935.

Sejak dibangun hingga kini, Masjid Raya Syahabuddin tidak hanya digunakan sebagai tempat beribadah, tapi juga sebagai tempat menyiarkan agama Islam dan pusat pendidikan. Dan kini masuk dalam salah satu situs cagar budaya.

Merujuk dari catatan sejarah, Masjid Syahabuddin yang pertama terletak di Jalan Syarif Kasim yang dibangun pada tahun 1882 pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim I dengan arsitektur sederhana terbuat dari kayu.

Kemudian, pada zaman pemerintahan Sultan Syarif Kasim II pada tahun 1926, masjid dipindahkan secara permanen pembangunannya ke Jalan Sultan Ismail di tepi Sungai Siak.

Nama Syahabuddin dimaksudkan sebagai lambang bahwa Sultan/Raja bukan hanya penguasa negara, melainkan juga sekaligus seorang “penguasa agama” (Syahabuddin).

Masjid Raya Syahabuddin yang kini terlihat, telah mengalami beberapa kali renovasi yang antara lain penambahan pembangunan pada teras bagian kanan dan kiri masjid, serta bagian halamannya.

Meski demikian beberapa bentuk aslinya masih tetap dipertahankan dan identitas budaya yang menempel di masjid tetap terjaga. Dan untuk arsitektur bangunan masjid merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah (Turki) dan Melayu.

Denah masjid ini persegi silang, dengan luas bangunan 399.6 m2. Pintu masuk berada di sisi timur, utara, dan selatan. Bangunan utama ditopang tiang bulat silinder dari beton dengan formasi membentuk lingkaran. Pintu dan jendela bagian atas membentuk lengkung. Lengkung kubah di atas pintu dan jendela pada bagian dalam berhias tulisan dari petikan ayat-ayat Al-Qur’an.

Atap masjid berupa atap sirap yang pada bagian puncaknya berbentuk “kuncup teratai”.

Masjid ini mempunyai mihrab dengan ukuran tinggi 2,4 m, lebar 104 cm, dan panjang 210 cm. Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar yang terbuat dari kayu bermotif daun, sulur dan bunga. Konon, mimbar tersebut menyimpan catatan perjalanan sejarah yang panjang. Mimbar tersebut sudah ada sejak lama. Usia itu didapati dari sebuah tulisan yang ada di bagian dekat kubah mimbar tersebut. Di situ bertuliskan 1178 masehi dalam bahasa Arab. Mimbar itu tidak pernah rusak bahkan tidak ada satu kayu pun diganti, hanya saja mengalami perubahan pada warnanya.

Masjid didominasi warna kuning dan hijau sebagai lambang kerajaan dan warna Melayu.

Masjid Raya Syahabuddin terletak berdampingan dengan komplek pemakaman Sultan Syarif Kasim II beserta keluarganya. Makam-makam terletak pada dalam bangunan yang juga terlihat berbentuk masjid. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke dalam area pemakaman ini.

Pada zaman dahulu, kesultanan Siak selain sebagai kerajaan, juga menjadi pusat pendidikan yang besar di Melayu hingga ke negeri Jiran Malaysia. Banyak orang-orang dari negara-negara seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand belajar pendidikan Islam di kesultanan Siak. Dan masjid inilah sebagai pusat pengkajian dan syiar agama Islam pada masa kesultanan Siak. []

You May Also Like