Sejarah Keberadaan Masjid Raya Pangkalan Koto Baru di Limapuluh Kota

ARASYNEWS.COM – Di Pangkalan Koto Baru, Kecamatan Lima Puluh Kota, Sumatera Barat berdiri banyak masjid, dan salah satu yang bersejarah yang letaknya tidak jauh dari pasar Baru Pangkalan, tepatnya di dekat bekas Pelabuhan. Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Raya Pangkalan Koto Baru.

Dahulunya bangunan masjid terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk, tapi kini telah mendapat banyak perubahan sesuai perkembangan zaman.

Masjid ini dahulunya berarsitektur khas Sumatera Barat. Baik pada bagian atap dan bentuk panggungnya.

Awal mula berdirinya masjid ini sekitar tahun 1800-an. Arsitektur mesjid ini dulunya bergaya Bodi Caniago. Atapnya berupa tungkuih nasi bersusun. Ini menandakan bahwa orang Koto Baru menganut kelarasan Bodi Caniago.

Dalam foto hitam putih yang terlihat di internet, ada bentuk bangunan masjid Raya Pangkalan Koto Baru zaman dahulu. Foto dengan teknik litografi ini (ukuran: 12×17 cm.) dibuat oleh mat kodak C. Nieuwenhuis tahun 1900. Awalnya foto ini berasal dari Algemeen Rijksarchief Den Haag, Belanda, dari koleksi H.F. Laman Trip-van Andringa de Kampenaer.

Di sebelah mesjid terdapat bangunan kecil bagonjong yang tampaknya adalah tempat untuk meletakkan tabuah (bedug besar), alat untuk memanggil orang supaya datang ke masjid bila waktu salat Jum’at sudah tiba.

Menara mesjid ini juga memiliki konstruksi yang unik, yang juga ditemukan di banyak mesjid lainnya di Minangkabau. Di belakangnya ada bangunan yang lebih kecil yang juga mirip. Berkemungkinan dulunya adalah sebuah surau, yang juga mempunyai atap berbentuk tungkuih nasi.

Bagi masyarakat di Minangkabau dahulunya ini adalah hal yang biasa sebuah surau terletak berdekatan dengan mesjid. Masing-masing punya fungsi sendiri: fungsi surau terkait dengan aktivitas keagamaan selingkup kaum dalam satu korong atau dusun, sedangkan fungsi mesjid terkait dengan aktivitas keagamaan selingkup nagari. Juga ada bangunan lainnya yang dijual gunakan sebagai Kerapatan alek nagari.

Kini, bangunan masjid telah banyak mendapat perubahan. Ini seiring renovasi yang dilakukan arsitektur masjid berubah menjadi bergaya Eropa.

Sedangkan bangunan lainnya yang ada didekat bangunan masjid juga masih ada yang tersisa dan dapat dilihat hingga saat ini.

Selain itu, ada juga benda-benda peninggalan yang lainnya. Salah satunya adalah mimbar. Mimbar ini dalam sejarahnya adalah pemberian dari saudagar di Pangkalan sekembali dari Kalimantan. Ada dua buah mimbar yang dibawa, yang satunya diberikan ke masjid yang ada di Pasar Bawah Senapelan, kota Pekanbaru dipinggir sungai Siak. Dikirim saat melewati nagari Taratak Buluah sebagai penghormatan kepada Raja Siak saat itu.

Sejarah pendirian masjid Raya Pangkalan Koto Baru

Dahulunya, di abad 1800-an, sungai yang terletak di kawasan Pangkalan Koto Baru dimanfaatkan sebagai jalur yang menghubungkan antara Sumatera Barat dan Riau. Dan Nagari Pangkalan adalah pelabuhan besar dan ramai di waktu silam yang dikenal sebagai Sungai Mahek.

Nama Pangkalan pelabuhan kapal-kapal inilah yang menyebabkan daerah ini dinamai dengan Pangkalan.

Dari lokasi pelabuhan ini, para saudagar menempuh jalur perdagangan melalui Sungai Kampar hingga muaranya di Teluk Meranti (Riau). Setelah itu ke Malaysia, Singapura, dan beberapa negara-negara lain.

Sedangkan untuk ke Pekanbaru adalah melalui pelabuhan di Taratak Buluah dan melalui jalur kereta api.

Di kawasan Pangkalan Koto Baru ini berdiam suku Caniago, Piliang, dan Melayu dengan 12 Ninik Mamak atau Pemangku Adat.

Kehidupan masyarakat selain bertani dan berladang, juga banyak yang berdagang. Perdagangan saat itu menggunakan kapal.

Karena ramainya aktifitas masyarakat, maka didirkanlah masjid yang berada di tepi sungai Maek di Pangkalan Koto Baru.

Masjid Raya Pangkalan Koto Baru ini masih terus dimanfaatkan sebagai tempat beribadah, pendidikan, dan pertemuan. Selain itu banyak para musafir yang singgah di masjid ini baik dari Sumatera Barat ataupun dari Riau. []

You May Also Like