ARASYNEWS.COM – Masjid Raya Lima Kaum dikenal juga dengan sebutan “Masjid Seribu Tiang”. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu dan merupakan bagian penting dan ada penamaan dibaliknya.
Masjid ini masih berdiri kokoh hingga saat ini bahkan selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk beribadah, kegiatan keagamaan ataupun rapat membahas tentang berbagai hal. Bahkan masjid ini selalu penuh didatangi ratusan jema’ah untuk sholat.
Masjid ini masih mempertahankan bangunan dan arsitektur lama. Berada di jalan Masjid no 5, Jorong Limo Tumpuk, Nagari Limo Kaum, Kecamatan Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.
Masjid ini berbentuk persegi dengan ukuran 25 x 25 meter dan masuk dalam situs cagar budaya yang ditetapkan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat. Tahun pendiriannya diperkirakan pada 1650.
Masjid ketiga dalam catatan sejarah Nagari Limo Kaum. Sutan Mahmoed dalam Buku ‘Nagari Limo Kaum Pusat Bodi Chaniago Minangkabau’ (2008) menulis, Sebelum didirikannya masjid Limo Kaum sebagai masjid nagari, sebenarnya telah ada sebuah masjid yang dibangun terlebih dahulu.
Masjid itu didirikan di tanah kaum Dt. Pamuncak, Rumah Baanjung, Balai Batu. Masjid yang biasa disebut dengan Masjid Gantiang ini merupakan sebuah masjid yang berlantai tanah, berdinding bukit dan beratap langit.
Kemudian setelah itu baru menyusul masjid kedua, yaitu masjid Subarang III Tumpuk. Dan selanjutnya barulah dibangun masjid nagari ketiga, yang masih berdiri hingga kini. Terjadi perbedaan pendapat perihal sejarah berdirinya masjid.
Neneng Kartiwi dalam ‘Laporan Pemutakhiran Data Benda Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Tanah Datar’ (2010) menulis: Masjid Limo Kaum dibangun tahun 1710 M dengan melibatkan beberapa Nagari di sekitar Lima Kaum. Sementara, menurut Zas Datuk Rajo Nan Khatib yang dikutip oleh Sutan Mahmoed, masjid ini didirikan pada tahun 1750.

Masih simpang siur kebenaran soal akurasi tahun berdiri, menurut Sutan Mahmoed, pembangunan masjid dipelopori oleh empat orang tokoh. Yakni, Datuk Bandaro Kuniang sebagai pucuk adat Limo Kaum, Siam Datuk Basa sebagai, Ipok Datuk Rajo Nan Khatib sebagai Kepala Nagari Limo Kaum dan Sutan Mak Jali Tuangku Ambuyut.
Menurutnya, ketika merencanakan pendirian masjid, lareh Limo Kaum, Siam Datuk Basa mengundang semua Kepala Nagari se-kawasan Limo Kaum dalam rangka membicarakan perihal pendirian masjid. Setelah dibicarakan bersama, maka disepakatilah untuk membangun sebuah masjid yang nantinya akan dijadikan sebagai masjid nagari.
“Tempat yang dipilih sebagai lokasi didirikannya masjid adalah di tengah-tengah Nagari Limo Kaum, yaitu di daerah Balai Sariek.”
Disebutkan, pembangunan masjid dibicarakan dalam musyawarah di rumah Siam Datuk Basa. Pertemuan itu memutuskan, untuk mencari kayu ke Bukit Singkiang.
“Pencarian kayu ini dilakukan oleh beberapa orang ninik mamak, dipimpin oleh St. Mak Jali Tuangku Ambuyut yang dianggap sebagai ulama yang memiliki kiramah. Penebangan kayu yang akan jadi tiang utama atau macu dilakukan oleh Datuk Bandaro Kuniang selaku pucuk pimpinan adat tertinggi di Limo Kaum,” tulis Sutan Mahmoed.
Menurutnya, dalam pembangunan masjid, seluruh unsur masyarakat yang ada di Limo Kaum ikut bergotong royong. “Bagi yang tidak ikut dalam gotong royong. Sanksinya adalah membayar denda satu ekor sapi yang dibayarkan kepada Datuk Rajo Nan Khatib selaku Kepala Nagari Limo Kaum.”
Masjid Limo Kaum memiliki atap yang berundak sebagaimana umumnya masjid kuno di Minangkabau. Yang membuat berbeda, masjid ini memiliki lima undakan atap.
Menurut Safril, pengurus Masjid Limo Kaum, lima tingkat atap itu memiliki dua makna. “Pertama, melambangkan Rukun Islam. kedua, melambangkangkan jumlah kaum yang ada, yaitu: Piliang, Balai Labuah, Kubu Rajo, Balai Batu dan Dusun Tuo,” katanya, saat diwawancarai Januari 2015 lalu.
Awalnya, atap terbuat dari ijuk. Belakangan, saat atap seng sudah masuk ke Minangkabau, atap ijuk diganti dengan seng. Tidak diketahui secara pasti kapan dilakukan proses pergantian atap itu. Bagian pinggiran atap masjid ini membentuk lengkungan seperti yang ada pada atap rumah gadang.
Sutan Mahmoed menulis, Perinciannya adalah: Penghulu ampek jinih 28 x 4 = 112 orang ditambah Datuk Nan Balimo yang bukan Penghulu Ampek Jinih sebanyak dua orang, Pucuk adat Nagari (Datuk Bandaro Kuniang) sebanyak satu orang dan Datuk Nan Salapan (bukan penghulu ampek jinih, tetapi disamakan dengan penghulu ampek jinih) sebanyak empat orang.
Secara teknis, bangunan masjid Limo Kaum ini secara keseluruhan masih mempertahankan bangunan lama, dan di dalam masjid ini masih ada beberapa peninggalan seperti beduk, mimbar, dan tiang-tiang.
Bahkan juga di area masjid yang masih terdapat pemakaman dan nisan-nisan tua yang terawat yang tidak diketahui namanya.
Masjid ini disangga sebanyak 119 tiang kayu yang menyangga bangunan tua itu hingga berusia ratusan tahun saat ini.
Sesungguhnya, tiang-tiang itu melambangkan jumlah penghulu adat yang ada di Nagari Limo Kaum.
Dari keterangan berbagai masyarakat dan catatan sejarah, pembangunan masjid ini seluruhnya menggunakan material kayu. Sementara bagian atap menggunakan ijuk. Hanya bagian tangga akses masuk saja yang saat ini sudah menggunakan batu semen, dan atap sekarang yang terlihat sudah diganti menggunakan seng.

Tiang-tiang masjid
Dari semua tiang yang ada di masjid, terdapat satu tiang utama yang disebut tunggak tuo. Tiang ini berada di tengah masjid dengan tinggi lebih kurang 40 meter. Tiang ini melambangkan pucuk adat nagari yang ada di Limo Kaum, yaitu Datuk Bandaro Kuniang.
Di sekeliling tunggak tuo ini terdapat banyak tiang yang terhubung antara satu dengan yang lainnya dan juga ke tunggak tuo.
Hal ini memiliki makna bahwa antara satu penghulu dengan penghulu lainnya di wilayah Limo Kaum berada dalam satu kesatuan. Kesatuan ini berada di bawah naungan Datuk Bandaro Kuniang sebagai pucuk adat tertinggi.
Tunggak tuo ini dikisahkan dahulunya diangkut dari sebuah bukit di dalam hutan. Diangkat secara bergotong royong, tetapi karena berat, maka duduklah Datuak di atas kayu itu sehingga akhirnya dapat diangkat.
Selain 119 tiang, masih ada 15 tiang lainnya yang disebut dengan tiang gantung. Tiang ini tidak sampai ke tanah, hanya dari loteng hingga atap.
Tiang gantung ini merupakan lambang atau kiasan dari angku 15.
Menurut Sutan Mahmoed, Angku 15 adalah sebutan bagi lima belas orang yang berasal dari masing-masing kaum. Lima kaum masing-masing mengirim tiga perwakilan untuk menduduki posisi imam, khatib dan bilal.
Akan tetapi, tiang yang berjumlah sebanyak 119 buah, kini tidak dapat lagi temui secara lengkap. Hal ini karena adanya pengurangan jumlah tiang dengan cara dipotong yang dilakukan oleh pengurus masjid sebelumnya. Itu dilakukan untuk menambah ruang di dalam masjid.
Mihrab yang ada di Masjid Limo Kaum ini merupakan mihrab bentuk baru setelah direnovasi pada tahun 1968.
Masjid ini sebenarnya memiliki 28 jendela dengan daun pintu dari kayu yang melambangkan jumlah suku yang ada di Limo Kaum. Namun, jendela kini hanya tinggal 20 dengan menggunakan kaca. Pengurangan dan pergantian bentuk ini diperkirakan guna meningkatkan intensitas cahaya yang masuk ke dalam masjid.
Hal lain yang membedakan masjid Limo Kaum dengan masjid kuno lainnya adalah menara. Pada masjid lainnya, menara biasanya terpisah dengan bangunan induk. Di Masjid Limo Kaum, menyatu dengan atap masjid. Persis berada di puncak atap masjid.
Menara berbentuk segi delapan dengan jendela kaca dua daun di setiap sisinya. Atap menara berbentuk kubah. Kemuncak berbentuk susunan berundak dan paling atas runcing.
Untuk mencapai puncak menara ini, terdapat tangga spiral yang ada di sekeliling tunggak tuo atau tiang macu. Tangga untuk mencapai puncak berjumlah 99 buah anak tangga. Jumlah tangga yang 99 buah ini merupakan makna atau kiasan dari asmaul husna.
Atap, tiang, menara jendela hingga lantai masjid yang merupakan panggung seperti rumah gadang, sangat terpengaruh oleh adat Minangkabau maupun adat salingka nagari Limo Kaum kabupaten Tanah Datar.
Dengan kearifan masa lalu, para orang tua zaman dahulu mendekatkan masjid dalam kehidupan masyarakat yang beradat lewat simbol-simbol jumlah dalam adat dan juga bentuk.
Memiliki banyak kisah sejarah dibaliknya, masjid ini masih memiliki pesona dan dimanfaatkan untuk tempat beribadah bagi umat muslim muslimah. []