ARASYNEWS.COM – Berkunjung ke kota Jambi belum lengkap bila belum singgah ke salah satu ikon kebanggaan warga Jambi yakni Masjid Agung Al Falah lebih terkenal dengan Masjid Seribu Tiang.
Di masjid ini selain melakukan ibadah, juga dapat menikmati dan mensyukuri keindahan Allah yang telah menciptakan pola-pola pikir bagi manusia yang kreatif dan inovatif.
Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di Jambi, Indonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang, meskipun jumlah tiangnya hanya 232.
Masjid ini dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980.
Di masjid ini memiliki keunikan tersendiri, yang bangunannya tanpa dinding pembatas antara bagian luar dan dalam masjid, serta banyaknya tiang penyangga masjid dan dengan satu kubah besar diatasnya dihiasi lampu hias berukuran raksasa.
Ini akan mengundang decak kagum bagi siapapun yang berkunjung ke sini.
Di balik julukan Masjid Seribu Tiang, ada fakta menarik yang mungkin banyak orang belum tahu. Salah satunya jumlah tiangnya tidak berjumlah 1.000.
Julukan seribu tiang sendiri bukan dari penduduk Jambi. Tapi dari warga luar Jambi, termasuk mantan Presiden Republik Indonesia saat berkunjung ke Jambi.
Masjid Agung Al Falah dibangun pada 1971 dan selesai delapan tahun kemudian atau tepatnya pada 1979. Desember 1979, Presiden Soeharto meresmikan masjid ini.
Pembangunan masjid ini termasuk lama karena terkendala oleh banyaknya tiang penyangga. Arsitektur Masjid Agung Al Falah juga tercatat menjadi masjid pertama di Pulau Sumatera yang menggunakan pondasi cakar ayam yang diklaim mampu tahan terhadap gempa.
Pada bagian mimbar dan dinding di samping kanan dan kiri mimbar dihiasi ornamen ukiran kayu jati dibalut warna keemasan. Masjid ini mampu menampung hingga 10 ribu jemaah. Dan luas area masjid seluas 2,7 hektare.

Sejarah Masjid Agung Al Falah
Lokasi Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi, bekas istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifuddin. Sedangkan bangunan masjidnya dulu merupakan Istana Tanah Pilih.
Pada tahun 1858, saat terpilih menjadi sultan di Kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi. Saat itu, Belanda sangat marah dan mengancam akan menyerang Istana.
Namun Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe. Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek Istana Tanah Pilih.
Dan kemudian pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan benteng.
Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat pemerintahan Keresidenan.
Kemudian di era kemerdekaan sampai tahun 1970-an lokasi tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971.
Para alim ulama dan tokoh-tokoh Jambi serta pemimpin pemerintah daerah sepakat untuk membangun masjid di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI.
Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid. Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden RI ke II pada tanggal 29 September 1980.
Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri di atas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80 M x 80 M, dan mampu menampung 10 ribu jamaah sekaligus.
Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Sementara renovasi yang pernah dilakukan hanya pada penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid dan juga adanya pergantian pembungkus tiang pada tahun 2008.

Arsitektur Masjid
Masjid agung Al-Falah kota Jambi dibangun menggunakan material beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
Jejeran ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada interior masjid Al-Falah.
Masjid ini dirancang memang terbuka tanpa dinding pembatas ataupun pintu dan jendela. Ini diibaratkan sebagai kemenangan dan kebebasan tanpa kungkungan. Mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
Sementara bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas. Dan juga dihiasi dengan sebuah lampu gantung berukuran besar berbahan tembaga memperindah tampilan ruang di bawah kubah. Selain itu juga ada menara yang menjulang tinggi di kawasan masjid
Tidak ada salahnya jika para traveler berkunjung ke Kota Jambi untuk menyempatkan mengunjungi masjid ini. Sebab selain beragam keunikannya, ketenangan diri saat berada di dalam masjid akan lebih terasa.
[]