ARASYNEWS.COM – Penamaan suatu daerah atau tempat biasanya pada zaman dahulu dikaitkan dengan kisah dan cerita masyrakat. Hal ini juga sebagaI pengingat apa yang telah terjadi dan atau juga sebagaI pelajaran atas kejadian yang pernah terjadi dulu.
Salah satu yang dinamai adalah pantai yang berada di kota Pariaman provinsi Sumatera Barat.
Dari cerita masyarakat, penamaan pantai Gandoriah diambil dari kisah seorang gadis yang bernama Puti Gandoriah.
Kisahnya menceritakan tentang kisah percintaan antara Puti Gandoriah dengan seorang laki-laki yang bernama Anggun Nan Tongga.
Sementara itu, nama Nan Tongga diabadikan sebagai nama hotel di pantai Gandoriah.
Dikisahksan cinta dua orang ini berkhir tanpa adanya kebersamaan.
Dahulunya, Anggun Nan Tongga dan Puti Gandoriah sepasang kekasih, Anggun Nan Tongga ditugaskan untuk mencari tiga orang niniak mamaknya dan melakukan perjalanan yang jauh ke negeri orang. Ia pergi mencari dengan belayar bersama temannya Malin Ciek Ameh. Tetapi ia tak kunjung pulang dari rantauan.
Waktu demi waktu berganti, dan kemudian akhirnya rekan Anggun Nan Tongga yakni Makin Cik Ameh kembali dan bertemu dengan Puti Gandoriah.
Melihat kecantikan Gandoriah, Malin Cik Ameh jatuh cinta, dan ia pun berbohong dengan mengarang cerita bahwasanya Nan Tongga tidak akan kembali lagi karena telah ditawan oleh raja pulau Binuang.
Malin Cik Ameh juga mengatakan bahwa Nan Tongga memintanya untuk menjadi pemimpin di kampungnya.
Sementara itu, sebelumnya dalam perjalanannya, Anggun Nan Tongga menghadapi berbagai rintangan. Sesampainya di Pulau Binuang Sati, kehadirannya ditolak dengan keras oleh raja pulau Binuang. Namun, Nan Tongga tetap bersikeras melanjutkan pencariannya dan berujung dengan perselisihan antara Nan Tongga dengan utusan Raja Pulau Binuang. Tetapi akhirnya perkelahian dimenangkan oleh Nan Tongga.
Nan Tongga kemudian berhasil menemukan niniak mamak Puti Gandoriah namun dua diantaranya pergi entah kemana dan Nan Tongga hanya bertemu dengan salah satu mamaknya yakni Nankondo Rajo.
Nan Tongga mengutus temannya Malin Cik Ameh untuk kembali ke kampungnya mengkabarkan bahwa ia telah bertemu dengan mamak Puti Gandoriah dan Nan Tongga pun melanjutkan perjalanannya mencari kedua ninik mamak puti Gandoriah.
Sesampainya di kampung dan bertemu dengan Puti Gandoriah, Malin Cik Ameh jatuh cinta dengan kecantikan Gandoriah.
Ia pun berbohong dengan mengarang cerita bahwasanya Nan Tongga tidak akan kembali lagi karena telah ditawan oleh raja pulau Binuang. Malin Cik Ameh juga mengatakan bahwa Nan Tongga memintanya untuk menjadi pemimpin di kampungnya.
Mendengar kabar bahwa Nan Tongga tidak akan kembali, Gandoriah menyangka bahwa Nan Tongga telah meninggal. Karena tidak mampu membendung rasa sedihnya, Puti Gandoriah memutuskan untuk bersemedi di Gunung Ledang.

Setelah letih melakukan perjalanan jauh, Nan Tongga akhirnya memutuskan kembali ke kampungnya untuk menemui Puti Gandoriah karena tidak tahan menahan rindunya. Ia pun mendapat kabar bahwa Gandoriah bersemedi di Gunung Ledang.
Nan Tongga menyusul dan membawa pulang Puti Gandoriah dan mereka akhirnya berencana akan melaksanakan pernikahan. Namun mereka baru mengetahui dan mendapat kabar daei ninik mamak bahwa mereka adalah saudara sepersusuan di mana Nan Tongga pernah menyusu pada ibunya Gandoriah.
Karena di agama Islam dan adat Minang saudara sepersusuan adalah mahram dan tidak diperbolehkan menikah. Tetapi mereka terlambat menyadari itu bahwasanya cinta mereka terlarang.
Karena ditentang untuk tidak menikah dan cintanya yang terlarang mereka memutuskan untuk kabur berlari ke laut dan menghilang tenggelam di lautan.
Nama Nan Tongga yang lebih dulu diabadikan dalam nama hotel di dekat Pantai Gandoriah. Dan hal ini yang mendasari penetapan Gandoriah menjadi nama pantai yang ada di kota Pariaman. []