ARASYNEWS.COM – Ada enam buah batu yang dapat mengeluarkan suara-suara. Batu ini dipergunakan sebagai ritual sembari membakar menyan dan memanjatkan doa kepada Tuhan sang pencipta.
Batu ini berjumlah enam buah yang terdapat di Balai Adat Nagari Talang Anau, Nagari Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Batu-batu ini bersusun berjajar beralaskan bambu dan tersimpan dalam sebuah bangunan di halaman.
Batu ini dikenal dengan nama Batu Talempong yang merupakan baru peninggalan masa prasejarah.
Uniknya, suara-suara yang keluar dari batu-batu ini berbeda-beda. Dipergunakan sebagai alat musik, dan suaranya berbunyi nyaring layaknya alat musik pukul seperti Talempong atau Gamelan.
Batu ini disusun berdasarkan urutan tangga nada yang dihasilkan setiap batu.
Selain untuk dimainkan dalam acara adat dengan ritualnya batu ini diyakini juga dapat berbunyi sendiri sebagai pertanda akan ada kejadian atau musibah.
Konon Batu Talempong ini ditemukan oleh salah satu ulama Minangkabau Syekh Syamsudin. Dan dari keterangan penjaga situs cagar budaya ini menyebutkan, syekh Samsudin menemukan batu ini lewat mimpi.
Diceritakan, dalam mimpinya tersebut, Syekh Syamsudin bertemu dengan pria tua bersorban, berjubah putih, dan berjanggut panjang.
Menurut kisahnya, sang pria tua menyuruh Syekh Syamsudin mencari beberapa buah batu yang tersebar di kedalaman hutan dalam keadaan ditumbuhi Talang dan Anau. Apabila dikumpulkan, benda-benda atau batu tersebut bakal memberikan manfaat pada anak cucu masyarakat nantinya.
Dari lokasi penemuan batu di Kawasan Gunung Omeh, Syekh Syamsudin lalu membawa dan mengumpulkan batu-batu di lokasi Jorong Talang Anau.
Dari cerita, membawa batu-batu ini dengan cara menghela seperti orang membawa ternak, disini batu diletakkan di atas mulut goa atau lubang dan jadilah batu ini sebagai alat pengumpul masyarakat dengan membunyikannya
Dalam memainkan batu-batu ini, ada ritual khusus seperti membaca doa-doa, membakar menyan,
Ukuran batu juga berbeda-beda satu sama lainnya. Yang paling pendek sepanjang 1 meter dan yang paling panjang 1,80 meter.
Batu Talempong selain dibunyikan pada acara adat juga dimainkan jika ada warga yang melakukan ritual membayar nazar atau ‘bakaua’.

Selain itu, dari keterangan, batu-batu ini juga diyakini dapat berbunyi sendiri sebagai pertanda akan ada musibah atau kejadian.
Ada sifat magic yang dimiliki oleh batu-batu ini, yaitu sebelum dipukul atau dibunyikan maka batu ini harus diasapi dengan kemenyan putih. Apabila tidak dilakukan tata cara ini, niscaya lempengan batu ini tidak akan menimbulkan bunyi yang nyaring seperti talempong pada umumnya, tetapi akan tetap berbunyi layaknya seperti batu biasa yang dipukul. Lebih celaka lagi apabila orang yang memukul batu tersebut melakukannya dengan rasa tidak percaya akan kegaiban dari batu tersebut serta meremehkannya.
Berdasarkan keterangan orang-orang di sekitar lokasi si pemukul akan terkena kutukan berupa penyakit yang tidak akan bisa disembuhkan dan bisa merenggut nyawanya sendiri.
Sinyal bahaya yang keluar sendiri dari batu berupa suara menderum, menggelegar atau suara yang cukup aneh. Jika suara ini terdengar warga pun langsung waspada dengan ancaman bahaya yang akan datang.
Berdasarkan penelitian sejumlah arkeolog keberadaan batu ini diperkirakan telah tersusun di tempat ini sebelum tahun 1.400 masehi dan diduga telah digunakan saat tahun 2.000 sebelum masehi.
Batu-batu ini telah masuk dalam situs cagar budaya dan terbuka bagi umum atau wisatawan untuk datang melihat atau mencoba keajaibannya.
Batu Talempong tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 18/BCB-TB/A/10/2007.
[]