Makna dan Amalan Hari Tasyrik yang Wajib Diketahui Umat Muslim

ARASYNEWS.COM – Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

“Ingatlah Allah di hari-hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203).

Yang dimaksud dengan “hari-hari yang terbilang” adalah tiga hari setelah Idul Adha, yaitu hari tasyrik. Ini merupakan pendapat Ibnu Umar dan mayoritas ulama. Sementara Ibnu Abbas dan Atha berpendapat bahwa “hari-hari yang terbilang” jumlahnya empat hari; Idul Adha dan 3 hari setelahnya. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 314).

Allah Ta’ala mengistimewakan hari tasyrik, dengan Allah jadikan hari ini sebagai waktu istimewa untuk berdzikir. Sehingga Allah perintahkan kaum muslimin untuk memperbanyak dzikir di hari ini.

Hari Tasyrik merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada setelah Idul Adha yaitu hari ke 11,12 dan 13 pada bulan zulhijjah menurut kalender Islam

Hari tasyrik dianggap istimewa selain hari raya. Dan umat Islam yang tengah melangsungkan ibadah haji di Tanah Suci melakukan jumrah di Mina.

Hari tasyrik merupakan salah satu hari di mana umat Islam dilarang berpuasa karena pada hari tasyrik adalah hari untuk makan dan minum. Maka seorang muslim diwajibkan untuk makan dan minum. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah.

Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang wajib dijalankan oleh seluruh jemaah haji.

Di hari yang penuh berkah ini, umat Islam dianjurkan untuk menikmati makanan dan minuman sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan tidak diperkenankan atau bahkan dilarang secara keras untuk beribadah puasa. Adapun alasannya adalah karena waktu tepat untuk menyembelih hewan kurban ini dimulai usai pelaksanaan sholat Idul Adha atau pada tanggal 10 Dzulhijjah hingga matahari terbenam di tanggal 13 Dzulhijjah atau pada akhir Hari Tasyrik.

Selian itu, ada keutamaan Hari Tasyrik yang perlu diketahui agar umat Islam senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari Idul Adha dan yaumul qorr (Hari Tasyrik).” (HR. Abu Daud)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari-hari Tasyrik adalah hari menikmati makanan dan minuman.”

Karena umat Islam dianjurkan untuk menikmati makanan dan minuman sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, maka haram hukumnya seorang muslim berpuasa di hari Tasyrik.

Dari riwayat Abu Hurairah, Rasulullah mengutus Abdullah bin Hudzaifah agar mengelilingi Kota Mina serta menyampaikan, “Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Itulah alasannya. Sebagai gantinya, ada amalan yang syarat akan keutamaan dalam hari Tasyrik tersebut. Dan amalan ini bisa memberi keberkahan bagi siapa saja yang melaksanakan.

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hari tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut tasyrik karena tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging qurban di terik matahari. Dalam hadits disebutkan, hari tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 18).

Amalan di Hari Tasyrik yang pertama, memperbanyak dzikir.

Dari Nubaisyah al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW bersabda: “Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, & banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim).

Dzikir pada hari tasyrik, bisa dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya:

  1. Melakukan Takbiran setiap selesai shalat wajib.
  2. Mengingat Allah dan berdzikir ketika menyembelih hewan kurban.
  3. Mengingat Allah dengan membaca basmalah sebelum makan dan hamdalah setelah makan.
  4. Mengingat Allah dengan melantunkan takbir ketika melempar jumrah di hari tasyrik. Yang hanya dilakukan jamaah haji.
  5. Mengingat Allah dengan memperbanyak takbiran secara mutlak, di manapun dan kapanpun

Selanjutnya, amalan yang kedua adalah memperbanyak berdoa kepada Allah

Doa berikut dianjurkan untuk dibaca pada hari tasyrik:
RABBANAA AATINAA FID-DUN-YAA HASANAH WA FIL AA-KHIRATI HASANAH, WA QINAA ADZAABAN-NAAR.

Ziyad Al-Jasshas meriwayatkan dari Abu Kinanah al-Qurasyi, bahwa beliau mendengar Abu Musa al-Asy’ari berceramah dalam khutbahnya ketika Idul Adha:

Setelah hari raya qurban ada tiga hari, Allah menyebutnya sebagai al-Ayyam al-Ma’dudat (hari-hari yang terbilang), doa pada hari-hari ini, tidak akan ditolak.

Perbanyak dzikir, bisa dilakukan di setiap aktivitas. Ini seperti saat salat wajib, makan dan minum, dan menyembelih hewan kurban. Dan membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih hewan kurban sangat mulia dilakukan.

Bagi yang sedang menunaikan ibadah haji, disarankan untuk berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari Tasyrik. Seperti dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

“Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan banyak mengingat Allah.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i).

Perbanyak syukur, pada hari Tasyrik akan terkumpul berbagai macam nikmat seperi makanan, minuman, dan ketenangan hati dari Allah. Dengan bersyukur, nikmat yang didapat baik saat hari Tasyrik dan hari-hari lainnya akan makin bermakna. Allah juga akan senantiasi melipatgandakan nikmat yang diberikan bagi orang-orang yang rajin bersyukur.

Berkurban, adalah salah satu sunah yang disyariatkan oleh Alquran dan hadits. Berkurban hanya bisa dilakukan pada Idul Adha dan hari Tasyrik. Seseorang yang mampu secara materi dapat melakukan amalan menyembelih hewan kurban seperti kambing, sapi, kerbau, domba, atau unta.

Berkurban mampu mendekatkan diri pada Allah dan menjadi ungkapan rasa syukur atas apa yang telah dimiliki di dunia. Berkurban juga bermakna untuk mensucikan harta yang dimiliki.

Perbanyak doa, keistimewaan hari Tasyrik membuat tiap doa dan permohonan ampun bisa dikabulkan dengan segera. Maka perbanyaklah berdoa di hari Tasyrik. Doa yang bisa dipanjatkan yakni doa sapu jagat untuk memohon keselamatan dunia dan akhirat.

[]

You May Also Like