Mahaguru dari Minangkabau yang Diakui Pemerintah Kolonial karena Ilmunya

ARASYNEWS.COM – Guru adalah tenaga pendidik profesional yang bertugas mengajar, membimbing, dan mendidik peserta didik. Guru juga berperan sebagai sumber belajar, fasilitator, dan panutan bagi murid-muridnya.

Kata guru berasal dari dua kata dalam bahasa Sanskerta, yaitu gu dan ru. Gu berarti kegelapan, sedangkan ru berarti pemusnah atau penyingkir. Secara keseluruhan, kata guru berarti pemusnah kegelapan atau pembawa terang.

Untuk menjadi guru di Indonesia, seseorang harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya: memiliki kualifikasi akademik, memiliki kompetensi, memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani.

Guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, fasilitator, dan panutan. Maka dari itu, guru harus memberikan contoh yang baik kepada murid dan siswa, serta juga berwatak yang sabar dalam menghadapi segala tingkah laku peserta didik yang bermacam-macam di sekolah.

Di Sumatera Barat, kota Bukittinggi, ada seroang guru yang namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan. Jalan Nawawi, berada di kelurahan Tarok Dipo kecamatan Guguak Panjang kota Bukittinggi.

Beliau adalah Guru terhebat di masanya. Setelah menjadi siswa di Sekolah Raja Kweek School yang kini menjadi SMA N 2 Bukittinggi. Sebagai siswa pintar ia kemudian tumbuh menjadi seorang guru atau tenaga pendidik dialmamaternya.

Bahkan 3 penghargaan sebagai guru pernah ia peroleh, yaitu dari Ratu Kerajaan Belanda, Bintang Oranje Nassaw, dan dari Presiden RI dan Kementerian Pendidikan dan Ibadat di masanya.

Bapak dari 9 orang anak ini bernama lengkap Nawawi Soetan Makmur. Ia menikah dengan Chatimah. Terkenal sebagai guru yang luar biasa.

Rumah peninggalan Guru Nawawi saat ini menjadi Cagar Budaya, berdiri dengan arsitek yang khas di Jalan Nawawai Nomor 8 Bukittinggi. Dan disinilah sebagian masa muda dijalani bersama keluarga.

Engku Nawawi, lahir pada tahun 1859 di Padang Panjang. Lulus dari Sekolah Raja (Kweekschool) Bukittinggi tahun 1877.

Ia juga pernah menjadi guru di Sekolah Melayu di Agam dan memperoleh Hulpacte. Tahun 1883-1916 mengajar dialmamaternya hingga pensiun.

Engku Nawawi meninggal dunia tahun 1928.

Java Bode juga memujinya, “Hikayatnya penuh mengandung arti, bagi kemajuan Sumatra.” Selain itu juga Pandji Poestaka (23/11/1928). Menurut Pandji Poestaka, Nawawi adalah sosok yang manis mulut, rendah hati, dan sifat-sifat baik lain yang menyebabkan orang hormat dan memujinya dalam pergaulan.

Engku Nawawi, merupakan mahaguru di Tanah Minangkabau. Tan Malaka (pahlawan nasional) adalah salah satu muridnya di tahun-tahun terakhir Nawawi menjadi guru di Kweekschool Bukittinggi.

Rekam jejak Engku Nawawi

Setelah lulus dari Sekolah Melayu, Nawawi berangkat ke Fort de Kock (nama kota Bukittinggi pada zaman itu). Ia memenuhi permintaan dari pembesar sekolah “supaya anak-anak yang suka masuk Sekolah Raja datang ke Bukittinggi akan diuji oleh Engku Sutan Raja Emas.”

Pada tahun 1873 itu, Nawawi diuji bersama 14 orang. Ia kemudian diterima sebagai murid Sekolah Raja saat umurnya 14 tahun.

Ia belajar dengan banyak guru di sana, salah satunya adalah Herth van Wijk yang menjabat sebagai guru kepala. Sebelum Nawawi lulus, Wijk dipindahkan ke Betawi dan posisinya sebagai guru kepala digantikan oleh J.L. van der Toorn.

Nawawi dikenal sebagai murid yang lurus dan pendamai yang pandai. Dia juga dituakan diangkatannya.

Kemudian pada tahun 1877, di usia 18 tahun, Nawawi dinyatakan lulus dari Sekolah Raja. Dia sudah boleh menjadi guru dan gelarnya adalah Engku.

Begitulah mulanya bagaimana Nawawi jadi guru, seperti tersurat dalam Kesepakatan Para Ambtenaar Bukittinggi.

Untuk Mengenang Jasa-jasa Paduka Engku Nawawi Sutan Makmur Guru Terkenal di Sekolah Raja Bukittinggi (1929), terbitan panitia yang dipimpin Engku Sutan Baheramsyah.

AH Nasution dan Tan Malaka, merupakan aumni Sekolah Guru. Kehidupan Engku Nawawi pun berlanjut di Agam, di mana ia jadi guru untuk pertama kalinya di sebuah Sekolah Melayu (setara Sekolah Dasar dengan bahasa pengantar Melayu). Gajinya 20 gulden per bulan.

Menjadi guru, dia tak berhenti belajar. Dia belajar berbagai macam bahasa, salah satunya bahasa Belanda yang dibantu guru-guru Belanda di almamaternya.

Menurut catatan surat kabar Java Bode (20/11/1928), pada tahun 1882, dari catatan panitia yang dipimpin Baheramsyah, Nawawi sempat berada di Betawi. Di sana dia lulus ujian Hulpacte dan memperoleh ijazah. Jadilah dia “orang Minangkabau yang mula-mula sekali peroleh surat ijaazah.”

Pertengahan tahun 1883, dia tidak lagi jadi guru di Sekolah Melayu di Agam. Nawawi sudah diangkat jadi Guru Bantu di Sekolah Raja, almamaternya. Gajinya bukan lagi 20 gulden, tapi berlipat menjadi 150 gulden.

Bahasa Melayu dan bahasa Belanda dipergunakan dalam pengajaran di sekolah itu.

Kemudian, setelah Nawawi mengajar di Sekolah Raja, pada 1884 datanglah Inspektur pendidikan bernama Verkerk Pistorius. Sang inspektur hendak meniadakan bahasa Belanda dari Kurikulum karena dianggap tak ada faedahnya.

Namun, Nawawi tak setuju bahasa Belanda dihapus. Nawawi merasa sangat perlu Bahasa Belanda bagi kemajuan orang yang bakal menjadi guru. Tapi usaha Nawawi meyakinkan sang inspektur tak berbuah hasil.

Selama 20 tahun, sejak 1884 hingga 1904, murid Sekolah Raja tidak lagi belajar bahasa Belanda. Ketika sekolah dasar berbahasa Belanda yang menjadi Hollandsche Inlandsche School (HIS) mulai diadakan, Nawawi menerjemahkan Gedenboek Kweekschool Fort de Kock pada perayaan 35 tahun Kweekschool Bukittinggi di tahun 1908.

Di masa Engku Nawawi hidup, perempuan kurang mendapat akses dalam pendidikan. Salah satu hal hebat yang dia lakukan terkait dunia perempuan adalah membiarkan anak perempuannya sekolah. Sembilan tahun sebelum Engku Nawawi pensiun sebagai guru, putrinya bersekolah di situ. Syarifah, putri Engku Nawawi, yang masuk tahun 1907, adalah murid perempuan pertama.

Menurut Java Bode, Nawawi di Kweekschool Fort de Kock, pemerintah kolonial mengirimkan anak-anak Aceh untuk belajar di Bukittinggi.

Nawawi juga banyak membantu orang, salah satunya van Toom dalam menyusun kamus Minangkabau. Juga pada tahun 1901 bersama Moehammad Taib Sutan Ibrahim, kut membantu Ch.A. van Ophuijsen dalam menyusun ejaan bahasa yang belakangan menjadi Ejaan van Ophuijsen.

Tak heran atas jasanya itu, Engku Nawawi mendapat bintang dari kerajaan Belanda, Oranje Nassau.

Java Bode juga memujinya. “Hikayatnya penuh mengandung arti, bagi kemajuan Sumatra.” Tak hanya Java Bode yang mengenangnya, tapi juga Pandji Poestaka (23/11/1928). Menurut Pandji Poestakan, Nawawi adalah sosok yang “Manis mulut, rendah hati dan sifat-sifat baik yang lain menyebabkan orang hormat dan memuji beliau dalam pergaulan.”

Engku Nawawi meninggal dunia di usia senja pada 1928. Bagi para guru di Bukittinggi, kabar itu adalah sebuah kehilangan besar. []

Source. Tirto id

You May Also Like