ARASYNEWS.COM – Ada banyak legenda-legenda yang menceritakan suatu tempat. Beberapa diantaranya dikaitkan dengan keberadaan aliran air sungai. Dan bahkan umumnya mengaitkan dengan kejadian mistis dan tentang asal-usul.
Hanya saja, tentang legenda ini dibaliknya ada pesan moral yang disampaikan kepada kita semua untuk berbuat baik.
Salah satu yang dikisahkan adalah Legenda Batang Tuaka (Sungai luar di Indragiri provinsi Riau). Yang menceritakan terbentuknya akibat air mata seorang ibu yang diusir oleh anaknya yang durhaka.
Dikutip dari ringkasan cerita Batang Tuaka dari Buku Cerita Rakyat Melayu berjudul “Batang Tuaka” yang ditulis oleh Yulia S. Setiawati dan Daryatun yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa, dalam cetakan pertamanya.
Legenda Batang Tuaka merupakan cerita rakyat Melayu di Riau yang bercerita tentang seorang anak durhaka bernama Tuaka.
Batang Tuaka adalah nama sungai (batang) yang berada di Indragiri Riau. Munculnya sungai Batang Tuaka ini merupakan perwujudan dari tangisan seorang ibu yang telah didurhakai oleh anaknya serta tangisan anaknya yang memohon ampun kepada ibunya.
Dikisahkan pada zaman dahulu di daerah Indragiri Riau, hiduplah seorang wanita bersama anak laki-lakinya yang bernama Tuaka. Mereka hidup di sebuah gubuk yang terletak di muara sebuah sungai. Tuaka selalu membantu emaknya yang bekerja keras untuk penghidupan mereka. Sementara itu, ayah Tuaka telah lama meninggal.
Pada suatu hari, mereka (ibu dan Tuaka) pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar agar bisa dijual. Dalam perjalanan pulang dari hutan, mereka melihat 2 ekor ular besar sedang berkelahi. Mereka segera berlindung dan mengamati perkelahian tersebut dari kejauhan.
Terlihat sepertinya 2 ekor ular tersebut sedang memperebutkan benda yang berkilau seperti sebuah permata. Kemudian salah satu ular itu mati dan satunya lagi sangat kesakitan terluka-luka. Tuaka dan ibunya berusaha menolong ular itu dan membawanya pulang untuk dirawat.
Beberapa hari kemudian, ular tersebut mulai sembuh dan tiba-tiba menghilang dari rumah Tuaka. Sementara, permata hasil kemenangan perkelahiannya dahulu ditinggalkan dalam keranjang di rumah Tuaka. Tuaka dan ibunya terheran-heran dan mengamati permata itu dengan kagum.
“Mengapa ular itu meninggalkan permatanya, Mak?” tanya Tuaka.
“Mungkin ular itu ingin berterima kasih kepada kita. Sebaiknya permata itu kita jual dan hasilnya bisa digunakan untuk berdagang,” jawab Emak Tuaka penuh rasa syukur.
Permata itu kemudian dijual Tuaka dengan harga tinggi kepada seorang saudagar, cuma sayangnya uang saudagar tersebut kurang dan kemudian mengajak Tuaka ikut ke Temasik untuk menjemput uang lainnya. Setelah berpamitan dengan emaknya, Tuaka pun pergi ikut saudagar itu ke Temasik (di Singapura).
Sesampai di Temasik, saudagar membayar semua uang kepada Tuaka. Tetapi karena uang berlimpah, Tuaka lupa akan pulang ke kampung halamannya. Dia berdagang dan menetap di Temasik dan menjadi saudagar kaya raya. Memiliki rumah yang megah, kapal yang banyak, dan istri yang cantik. Dia tak ingat lagi dengan ibunya yang hidup sendirian di kampung.
Suatu hari, Tuaka mengajak istrinya berlayar dengan kapal ke suatu tempat. Kapal megah Tuaka akhirnya berlabuh di kampung halamannya. Tetapi, rupanya Tuaka enggan menceritakan kepada istrinya. Tuaka tidak mau istrinya mengetahui bahwa dirinya dahulu adalah anak yang miskin.
Kedatangan Tuaka terdengar sampai ke telinga ibunya. Dan ibunya langsung bergegas menyongsong kedatangan anak lelakinya yang lama telah pergi. Ibunya pun bersampan mendekati kapal megah Tuaka.
“Tuaka anakku. Emak merindukanmu, nak,” teriak emak dari sampan.
“Siapa gerangan wanita tua itu,” tanya istri Tuaka.
Tuaka yang malu mengetahui ibunya yang tua dan miskin datang ke kapal megahnya, pura-pura tidak mengenalinya.
“Hei penjaga, jauhkan wanita tua miskin itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai ibuku,” teriak Tuaka.
Ibu Tuaka pergi menjauh dengan sedih. “Oh Tuhan… ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar menyadari kesalahannya,” ratap ibunya Tuaka.
Rupanya Tuhan mendengar ratapan ibu Tuaka. Dan secara tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor elang dan istrinya menjadi seekor burung punai. Ibu Tuaka terkejut dan juga sedih melihat anaknya berubah menjadi burung.
Tetapi ibunya masih menyayangi anaknya tersebut. Kemudian burung elang dan burung punai itu pun terus berputar-putar sambil menangis di atas ibu Tuaka.

Air mata kedua burung itu terus menetes dan membentuk sungai kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Tuaka (Batang Tuaka).
Jika di suatu siang tampak seekor elang terbang di sekitar muara Batang Tuaka di Indragiri sambil berkulik atau menangis, burung tersebut diyakini masyarakat sekitar sebagai penjelmaan Tuaka yang menjerit memohon ampun kepada emaknya.
Adapun pesan moral dalam legenda ini menegaskan kepada kita semua pentingnya berbakti kepada orang tua dan akibat dari sifat durhaka. []