Kunker ke Inggris, Presiden Dapat Sambutan Sangat Meriah

ARASYNEWS.COM, LONDON – Dalam kunjungan ke kantor PM Inggris Keir Starmer di London, pada Selasa (20/1/2026), Presiden RI Prabowo Subianto mendapat sambutan yang sangat meriah.

Sambutan itu bahkan dengan mengangkat poster dengan berbagai macam tulisan dan gambar, serta juga diiringi orasi menggunakan pengeras suara.

Ternyata, mereka (warga di Inggris sekitar ratusan orang) melakukan Kampanye Free West Papua dan Kalimantan.

Mereka memprotes kunjungan Prabowo ke Inggris Raya. Menurut kampanye tersebut, pemerintah Inggris tak boleh menyambut sosok yang mereka gambarkan sebagai penjahat perang, yang diklaim terlibat dalam pembantaian di Timor Timur dan Papua Barat.

Mereka menyatakan bahwa dia seharusnya berada di depan Pengadilan Kriminal Internasional, bukan di Gedung 10 Downing Street.

Kampanye yang dilakukan warga tersebut menuduh Prabowo terlibat dalam kekerasan besar-besaran di Timor Timur dan Papua Barat.

Sebagai Panglima Kopassus, dia dikatakan telah memimpin pembantaian di Kraras, di mana lebih dari 300 orang Timor Timur yang tidak bersalah tewas. Beberapa laporan menyatakan bahwa dia secara langsung menyiksa para korban selama pendudukan Indonesia di Timor Timur.

Kampanye tersebut berpendapat bahwa Inggris tidak dapat membuat kesepakatan iklim dengan Indonesia sementara negara tersebut diduga menghancurkan hutan Papua Barat melalui proyek penghilangan hutan yang diklaim sebagai yang terbesar dalam sejarah dunia.

Seperti yang diketahui, Indonesia baru-baru ini merasakan dampak bencana terkait iklim, seperti banjir besar di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat dan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang serta menghancurkan banyak rumah warga, lahan pertanian warga, mata pencaharian, dan ternak warga, serta merusak bangunan fasilitas umum seperti masjid-musholla, sekolah, dan lainnya.

Untuk mendukung apa yang disebut kampanye sebagai “kerusakan iklim”, lebih dari 80.000 personel keamanan Indonesia diduga ditempatkan di berbagai kota dan desa di Papua Barat, termasuk 56.000 prajurit dan 26.000 petugas polisi.

Dampak yang diklaim adalah terjadinya perpindahan massal warga sipil Papua Barat sebagian besar perempuan, anak-anak, dan lansia.

Dikatakan bahwa lebih dari 105.000 orang Papua Barat saat ini menjadi pengungsi akibat operasi militer Indonesia, hidup di tengah hutan tanpa akses ke makanan, perawatan kesehatan, atau pendidikan bagi anak-anak. Ribuan orang diklaim telah meninggal karena kelaparan atau penyakit.

[]

sc. trending buzz

You May Also Like