ARASYNEWS.COM – Tak ada yang selamat dari kesyirikan di dunia ini. Salah satunya mengidolakan orang hingga melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasulnya.
Perbuatan yang secara berlebihan seperti itu dilarang di dalam syariat Islam, bahkan telah diperingatkan Allah.
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah : 24).
Dalam tafsir An-Nukat wal ‘Uyun, Imam Al-Mawardi rohiamuhullah menyebutkan
{فَتَربَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ} فيه وجهان: أحدهما: أنه فتح مكة , قاله مجاهد. والثاني: حتى يأتي الله بأمره من عقوبة عاجلة أو آجلة, قاله الحسن
Artinya: (maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya) Mengenai ini ada 2 tafsiran, Yang pertama : maksudnya adalah penaklukan kota Makkah. Kedua : hingga datang keputusan Allah dengan menurunkan hukuman secara cepat atau lambat. Ini adalah pendapat Al-Hasan. (An-Nukat wal ‘Uyun, jilid 2 halaman 349).
Hal seperti ini mungkin bisa digambarkan atas apa yang dilakukan orang terhadap pemimpinnya, atau seorang penggemar kepada idolanya.
Seharusnya yang harus diidolakan itu adalah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena akhlak beliau yang sangat mulia, sampai-sampai Allah memuji akhlak beliau di dalam Al-Qur’an
Mengidolakan seseorang sebaiknya ada hal yang istimewa di dalam dirinya, seperti rajin dan khusuk beribadah, dermawan menolong orang lain.
Jangan sampai mengidolakan orang-orang yang sama sekali tidak ada hal yang bisa dicontoh darinya seperti mengidolakan artis atau juga orang yang telah memberi kebaikan kepada hidup kita dengan menghalalkan segala cara.
Maka hendaknya seseorang berhati-hati dalam mengidolakan seseorang karena mengidolakan berarti mencintai orang yang diidolakan tersebut.
Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata :
يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ؟» قَالَ: حُبَّ اللهِ وَرَسُولِهِ، قَالَ: «فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا، بَعْدَ الْإِسْلَامِ فَرَحًا أَشَدَّ مِنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِأَعْمَالِهِمْ
Artinya: Wahai Rasulullah kapan terjadi hari kiamat? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapi hari kiamat? Lelaki tersebut berkata : cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Sesungguhnya kamu akan dikumpulkan bersama orang yang kamu cintai. Anas bin Malik berkata : “Kami tidak pernah lebih gembira setelah masuk Islam daripada gembiranya yang disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya engkau bersama yang engkau cintai, maka aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar, dan berharap aku bersama mereka meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka.” (HR. Muslim, hadits no. 2639).
Dalam kitab Zaadul Ma’ad, Imam Ibnul Qayyim rohimuhullah menuliskan
قَرَنَ كُلَّ صَاحِبِ عَمَلٍ بِشَكْلِهِ وَنَظِيرِهِ، فَقَرَنَ بَيْنَ الْمُتَحَابَّيْنِ فِي اللَّهِ فِي الْجَنَّةِ، وَقَرَنَ بَيْنَ الْمُتَحَابَّيْنِ فِي طَاعَةِ الشَّيْطَانِ فِي الْجَحِيمِ
Artinya: Pelaku satu perbuatan dikumpulkan bersama mereka yang sama kelakuannya, maka orang-orang yang saling mencintai karena Allah dikumpulkan bersama-sama di dalam surga, dan orang-orang yang saling mencintai karena ketaatan kepada setan dikumpulkan di dalam neraka. (Zaadul Ma’ad, jilid 4 halaman 248).
Yakinlah, nanti seseorang akan dikumpulkan bersama orang dia cintai. Jika seorang muslim mengidolakan Rasulullah atau tokoh agama Islam, maka Insya Allah, dia akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat kelak. Dan sebaliknya, mereka nanti dikumpulkan dan neraka saat di akhirat kelak. Na’udzubillah.
Untuk diketahui, perbuatan dan sikap seperti ini, dalam Islam disebut dengan ghuluw (berlebihan) terhadap orang. Dan ini nantinya bisa mendatangkan kesyirikan.
Umar Bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, pernah menyampaikan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nasrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari no 3445).
Hadist ini menunjukkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah yang tidak boleh dipuji secara berlebihan, dengan pujian yang hanya layak ditujukan kepada Allah, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul Allah yang tidak boleh didustakan.
Nabi saja melarang umatnya untuk bersikap ghuluw kepadanya, sedangkan beliau adalah manusia yang paling mulia kedudukannya di sisi Allah. Sehingga bersikap ghuluw kepada orang shalih yang kedudukannya di bawah beliau, tentu lebih layak untuk dilarang.
Ada beberapa macam ghuluw yang diharamkan
- berlebihan memuji orang
- membuat gambar atau patung orang dan diagungkan
- tabbaruk atau mengharapkan berkah dari orang, seperti tabbaruk syirik dan tabbaruk bid’ah
- Tabarruk syirik
Yaitu jika seseorang meminta berkah kepada makhluk dan berkeyakinan makhluk tersebutlah yang memberikan berkah dengan sendirinya. Maka perbuatan ini adalah syirik akbar, yang mengeluarkan pelakunya dari islam, karena hanyalah Allah yang menciptakan berkah dan memberikannya kepada para hambaNya yang dikehendaki. - Tabarruk bid’ah
Yaitu jika seseorang meminta berkah kepada sesuatu dimana tidak ada dalil yang membolehkan ber-tabarruk dengannya, walaupun dia berkeyakinan bahwa hanya Allah yang memberikan berkah tersebut. Atau cara ber-tabarruk-nya, yang tidak ada dalilnya. Perbuatan seperti ini jelas haramnya, karena sama saja menjadikan suatu ibadah yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an dan sunnah, dan juga karena perbuatan ini adalah syirik kecil yang dapat mengantarkan kepada syirik besar.
Contoh perbuatan tabarruk yang dilarang adalah mengusap-usap badan atau pakaian orang shalih atau idola dalam rangka mengharapkan berkah, (Lihat tadzhib tashil aqidah islamiyyah, Syaikh Abdullah bin abdul aziz al Jibrin, hal116-124)
Semoga kita semua sebagai umat Muslim-Muslimah senantiasa diberikan keistiqomahan dalam menjalankan syariat Islam islam dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Aamiin. []
Source: muslimorid