Berbagai Tradisi yang Berkembang dalam Menyambut Bulan Muharram

ARASYNEWS.COM – Tanggal 27 Juni 2025 merupakan awal bulan Muharram atau dikenal dengan Tahun Baru Islam. Berbagai cara dilakukan dalam menyambut tahun baru ini bagi umat Islam di dunia dan bahkan di Indonesia.

Ada berbagai tradisi yang turun temurun hingga saat ini dalam menyambut bulan Muharram atau tahun baru Islam bagi masyarakat di Indonesia.

Beberapa tradisi yang unik ini mungkin dianggap “aneh” oleh sebagian orang yang melibatkan unsur-unsur spiritual, budaya lokal, dan bahkan kepercayaan mistis.

Beberapa tradisi unik dan mungkin “aneh” dalam menyambut bulan Muharram:

  1. Tapa Bisu di Yogyakarta. Dengan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tradisi ini dipercaya sebagai bentuk introspeksi diri dan memperkuat spiritualitas.
  2. Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Surakarta. Tradisi ini melibatkan kirab atau arak-arakan benda pusaka keraton, seperti keris dan tombak. Kebo Bule (kerbau bule) seringkali dilibatkan dalam kirab sebagai simbol kekuatan dan perlindungan. Tradisi ini mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai Islam dengan budaya Jawa.
  3. Pawai Obor. Tradisi ini umum terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Masyarakat, terutama anak-anak, berjalan membawa obor sambil melantunkan selawat dan takbir. Pawai obor melambangkan semangat hijrah dan penerangan di tahun baru Islam.
  4. Sedekah Gunung Merapi. Ini dilakukan dengan memberikan sesaji atau makanan ke alam sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan. Meskipun tidak secara langsung berkaitan dengan Muharram, tradisi ini seringkali bertepatan dengan perayaan 1 Suro.
  5. Ziarah ke Makam Keramat. Beberapa masyarakat meyakini bahwa bulan Muharram adalah waktu yang tepat untuk berziarah ke makam leluhur atau tempat-tempat keramat. Mereka berdoa dan memohon berkah di tempat-tempat tersebut.
  6. Tradisi Bubur Suro. Bubur Suro adalah makanan khas yang dibuat pada bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 (Asyura).
    Isi bubur yang beragam melambangkan keberagaman dan berkah. Bubur Suro dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan fakir miskin.
  7. Berbelanja Ember dan Gayung. Ini tradisi dilakukan masyarakat Bugis-Makassar di bulan Muharram. Tradisi ini mungkin berkaitan dengan kepercayaan membersihkan diri secara lahir dan batin.
  8. Tradisi Mabit (Bermalam di Masjid). Ini dilakukan sebagai bentuk ibadah dan memperbanyak amal di bulan Muharram.
  9. Larangan Menikah. Beberapa masyarakat di Indonesia masih meyakini larangan menikah di bulan Muharram karena dianggap sebagai bulan keramat. Namun, larangan ini tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
  10. Tradisi Tabot/Tabuik. Tradisi ini berkembang di Bengkulu dan Pariaman. Tabot atau Tabuik adalah miniatur bangunan yang diarak keliling kota. Tradisi ini memperingati gugurnya cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali, dalam peristiwa Karbala.

Penting untuk diingat bahwa beberapa tradisi mungkin memiliki akar budaya lokal yang kuat tetapi ada yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Penting untuk memahami makna di balik setiap tradisi dan tidak terjebak dalam praktik yang irasional atau bertentangan dengan syariat.

Momen Muharram adalah waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah, sedekah, introspeksi diri, mempererat tali silaturahmi, dan lainnya.

[]

You May Also Like