Bahtera Nabi Nuh yang Diceritakan Dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Keberadaannya

ARASYNEWS.COM – Kapal atau Bahtera Nabi Nuh diceritakan tiap-tiap kitab, dan salah satunya dalam kitab suci Al-Qur’an.

Kapal ini menjadi perhatian semua orang dan juga para peneliti. Banyak yang ingin tahu dimana letak kapal berukuran besar itu, bahkan fosilnya pun masih menjadi pertanyaan keberadaannya sampai saat ini.

Konon, diceritakan ukurannya sangat besar dan bahkan bisa menampung semua fauna darat dan udara yang berpasangan, serta para pengikut Nabi Nuh.

Dalam Al-Qur’an juga telah diceritakan mengenai kisah Nuh yang telah membuat kapal besar di daratan tepatnya di atas bukit yang letaknya jauh dari laut.

Pembuatan kapal

Dalam Al-Qur’an diceritakan, Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera dan memuat sepasang dari setiap jenis binatang (jantan dan betina), serta keluarganya, untuk menyelamatkan mereka dari banjir besar yang akan menenggelamkan orang-orang yang zalim. Instruksi ini berasal dari wahyu langsung Allah dan Nuh tetap meneruskan pembangunan kapal di bawah pengawasan langsung Allah, meskipun diejek oleh kaumnya.

Allah SWT mewahyukan perintah kepada Nabi Nuh untuk membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk-Nya, seperti tercantum dalam Surah Hud.

Nabi Nuh membangun bahtera dengan material yang disediakan, termasuk kayu, besi, dan ter (sejenis aspal), yang juga dijelaskan dalam Al-Qur’an. Waktu pembuatan juga tidak sebentar.

Al-Qur’an surah Hud [11]: 37:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخٰطِبْنِى فِى الَّذِينَ ظَلَمُوٓا ۚ إِنَّهُمْ مُّغْرَقُونَ

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

Al-Qur’an surah al-Mu’minun [23]: 27:

فَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ ۙ فَاسْلُكْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخٰطِبْنِى فِى الَّذِينَ ظَلَمُوٓا ۖ إِنَّهُمْ مُّغْرَقُونَ

“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa adhab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”

Cara pembuatan kapal ini, Nabi Nuh dibimbing langsung oleh Allah baik mengenai bahan, ukuran, bentuk, mulai waktu pembuatan, waktu penggunaan dan seterusnya, yang dijelaskan dalam surah Hud[11]: 37, Al-Mu’minun[23]: 27, dan Al-Qamar[54]: 13.

Berdasarkan informasi Al-Qur’an surah Hud [11]:37, Al-Mu’minun [23]: 27, dapat disimpulkan bahwa sejak zaman Nabi Nuh telah ada industri kapal cukup besar yang dapat memuat banyak orang dan berbagai jenis hewan.
Ada beberapa pendapat mengenai ukuran kapal Nabi Nuh diantaranya:

  • Menurut riwayat Ibnu ‘Abbas, kapal tersebut dibuat selama 2 tahun dengan spesifikasi terdiri atas 3 dek, panjang 300 siku (dzira’), lebar 50 siku, dan tinggi 30 siku.
  • Menurut Imam ath-Thabari, kapal tersebut panjangnya 80 depa. Bagian luar dan bagian dalamnya di cat dengan ter, sedangkan bagian mukanya memiliki lengkungan untuk menerobos air.
  • Menurut Imam Qatadah panjang kapal Nabi Nuh adalah tiga ratus depa dan lebarnya adalah lima puluh depa.
  • Dalam kitab Ibrani dijelaskan bahwa nama kapal Nabi Nuh adalah teevaah (perahu persegi), yang terbuat dari kayu gofir (jenis kayu yang tidak dikenal), ruangannya disebut qinnim (petak: sarang burung), kedap air yang dilapisi kaphar (aspal) pada bagian luar dan dalam, panjang kapal tersebut adalah 300 cubit/ hasta atau 450 kaki (137,2 m), lebarnya adalah 50 cubit/hasta atau 75 kaki (22,8 m), dan tingginya 30 cubit/ hasta atau 45 kaki (13,7 m). Kapal ini terdiri dari satu pintu, satu atap, dan 3 tingkat.

Disebutkan, kapal terbuat dari kayu gofir, namun tidak dapat dipastikan secara pasti karena kata “gofir” (atau gopher) hanya muncul sekali dalam bahasa Ibrani dan belum ada kesepakatan ahli mengenai jenis kayu yang dimaksud. Beberapa ahli memperkirakan kayu ini adalah cemara (cypress), pinus, atau cedar (aras), karena jenis kayu ini tahan air dan umum digunakan untuk pembuatan kapal di Timur Tengah. Namun, ada juga kemungkinan bahwa istilah ini merujuk pada spesies pohon yang sudah punah atau bahkan pada suatu jenis teknik pengolahan kayu.

Isi kapal

Ketika banjir besar yang telah dikabarkan Allah akan tiba, Nabi Nuh memerintahkan para pengikut dan segala jenis fauna darat dan udara secara berpasang-pasangan untuk masuk ke kapal.

Nabi Nuh diperintahkan untuk membawa keluarganya (kecuali yang telah ditakdirkan ditimpa siksaan) dan para pengikutnya yang beriman ke dalam bahtera.

Selain itu, Nuh juga diperintahkan untuk membawa sepasang dari setiap jenis binatang (jantan dan betina) dan burung-burung di udara untuk melestarikan kehidupan di bumi.

Tujuan membawa binatang-binatang ini adalah untuk menjaga keturunan mereka agar tidak punah akibat banjir besar yang menghancurkan seluruh kehidupan di bumi.

Al-Qur’an tidak secara eksplisit menyebutkan hewan tertentu yang dilarang masuk bahtera Nabi Nuh, tetapi secara umum, hewan yang tidak diizinkan adalah binatang laut (ikan) karena tidak memerlukan keselamatan dari banjir global, dan juga makhluk yang tidak memiliki “napas kehidupan” seperti serangga atau serangga lain yang umumnya tidak disertakan dalam kisah tersebut. Nuh diperintahkan untuk membawa setiap jenis binatang dan burung, baik jantan maupun betina, untuk melestarikan jenisnya.

Keberadaan bahtera Nabi Nuh

Al-Qur’an mengisahkan bahwa bahtera ini terdampar di bukit (gunung) Judiyy (daerah Armenia) yang termaktub dalam surah Hud ayat 44. Sedangkan dalam kitab Bibel dikisahkan bahwa bahtera ini setelah terombang ambing ombak dan gelombang pasang, bahtera tersebut terdampar di gunung Ararat.

Setelah dilakukan penelitian, ternyata gunung Ararat pernah berkali–kali berganti nama. Gunung Ararat pernah bernama gunung Guardian dan gunung Armenia atau gunung Judiyy dan dari hasil penelitian tersebut, para ahli sejarah dan ahli agama sepakat, bahwa tempat dimana bahtera Nabi Nuh terdampar adalah gunung Ararat (Injil) atau gunung Judiyy (Al-Qur’an). Karena walaupun memiliki nama berbeda, tetapi letaknya tetap sama.

Penemuan Fosil kapal Nabi Nuh

Beberapa tahun yang lalu, para peneliti mengklaim berhasil menemukan fosil-fosil kapal Nuh, hal tersebut dikutip dari halaman National Geographic yaitu berupa artefak dan fosil-fosil berupa serpihan kayu kapal, tambang dan paku.

Hasil Laboratorium Noah’s Ark Minesteries International, China-Turki, pada uji materi fosil kayu oleh tim ahli tanaman purba, menunjukkan bukti bahwa fosil kayu kapal Nabi Nuh teksturnya sama seperti kayu jati yang ada di Pulau Jawa.

Mereka telah meneliti ratusan sampel kayu purba dari berbagai negara, dan memastikan, bahwa fosil kayu jati yang berasal dari daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah 100 persen cocok dengan contoh fosil kayu kapal Nabi Nuh.

Dr. Whitcomb memperkirakan kapal tersebut terdiri 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis itik/burung,6300 jenis reptilia, 2500 jenis amfibia, sisanya adalah para kaum Nabi Nuh yang percaya akan ajaran yang dibawanya.Total berat kargo/muatan bahtera itu keseluruhan mungkin mencapai kurang lebih 24,300 ton.

Menurut penelitian The Noah’s Ark yang dikutip dari News.com.au, kapal Nabi Nuh tertimbun di bawah salju hampir selama 5000 tahun, sebelum terjadinya sebuah gempa bumi hebat yang melanda daerah sekitar gunung Ararat pada 2 Mei 1988 silam.

Para peneliti juga menemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. Mereka percaya bahwa batu tersebut adalah “drogue-stones”, dimana pada zaman dahulu biasanya dipakai pada bagian belakang perahu besar untuk menstabilkan perahu agar tidak oleng ketika di tempa badai besar.

Para Pengkaji dan Scientist Russia telah menemukan kurang lebih 500 kesan artifak batu baterai elektrik purba yg digunakan untuk menyadurkan logam. Hal tersebut dapat membuktikan bahwa masyarakat zaman Nabi Nuh telah mengenal listrik.

Analisis laboratorium Rodiak dan Kevin Fhecer mengatakan bahwa logam kelengkapan kapal Nuh terdiri atas logam alumunium dan titanium dan juga terdapat daerah pusat terbuka aliran udara atau lubang berongga pada kapal.

Dengan mencermati spesifikasi, waktu yang dibutuhkan serta tonase kapal yang mampu mengangkut sejumlah besar manusia dan berbagai jenis hewan, maka dapat dipastikan bahwa kapal itu membutuhkan teknologi yang memadai untuk bisa berlayar di tengah air bah dan tidak oleng atau karam.

Hukum Archimedes Zaman Nabi Nuh

Dalam membuat kapal tersebut Nabi Nuh telah terlebih dahulu mengetahui konsep fisika mengenai gaya yang dikemukakan Archimedes, walaupun kapal terbuat dari kayu atau besi yang memiliki massa jenis lebih besar dari pada air, kapal tetap akan terapung. Penyebabnya adalah kapal dibuat berongga.

Adanya rongga menyebabkan kapal menjadi lebih ringan, meskipun jumlah air laut yang didesak oleh perut kapal sangat besar, sehingga kapal dapat terapung meskipun membawa muatan yang sangat berat.

[]

Sc. Tausiyah dan Tanwir id

You May Also Like