Setelah Pulang Haji Sebaiknya yang Dilakukan dan yang Perlu Dihindari

ARASYNEWS.com — Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah, jema’ah haji melakukan banyak hal, mulai dari mengadakan syukuran bersama keluarga dan kerabat, hingga pada pembagian cendera mata.

Tradisi open house adalah salah satu yang paling sering dilakukan. Jema’ah yang baru kembali biasanya akan diserbu oleh tamu, mulai dari keluarga besar, tetangga, hingga kolega yang ingin bersilaturahmi sekaligus meminta berkah.

Sebaliknya, ada juga yang menutup diri selama 40 hari setelah pulang dari tanah suci.

Di Indonesia ada banyak tradisi yang dilakukan jema’ah haji dan bahkan menjadi kebiasaan budaya masyarakat. Dan tentunya beberapa diantaranya tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Hadits.

Secara syariah agama, yang dianjurkan justru adalah memperbanyak ibadah, menjaga nilai kemabruran, dan menebar kebaikan kepada sesama.

Dikutip dari saran yang disampaikan PPIH, ada pesan yang disampaikan kepada para jema’ah haji Indonesia. Jemaah diimbau untuk hanya membagikan pengalaman-pengalaman positif yang tujuannya dapat memberi semangat orang lain untuk beribadah dan melakukan perjalanan haji dan mereka tergugah, terpanggil untuk beribadah ke Tanah Suci.

Memberikan nilai-nilai spiritual yang dirasakan selama menjalani rukun Islam kelima tersebut. Nilai kebersamaan, gotong royong, hingga kesetaraan (al-musawah) antar-umat manusia adalah hal-hal indah yang patut disebarluaskan.

Diimbau agar jema’ah tidak menceritakan hal-hal yang bersifat aib, baik yang dialami diri sendiri maupun yang menimpa jema’ah lain yang terlihat saat di Tanah Suci. Ini sebagaimana yang Allah SWT telah tutupi aib-aib hamba-Nya selama di Tanah Suci, sehingga tidak sepatutnya manusia justru mengumbarnya.

Salah satu contoh, jika ada pengalaman tidak menyenangkan atau melihat jema’ah lain yang tiba-tiba lemas, kelelahan, hingga tidak bisa beraktivitas, hal tersebut sebaiknya tidak dijadikan bahan cerita di kampung halaman.

Kenapa itu tidak perlu kita ceritakan? Supaya tidak melahirkan argumentasi dan penilaian yang tidak perlu. Misalkan mengatakan, ‘Oh ini karena di rumahnya mungkin dia tidak baik’, dan sebagainya.

Apa yang dialami itu bisa menjadi ujian jema’ah saat di Tanah Suci untuk membersihkan dosa-dosa mereka. Jika diumbar, dikhawatirkan akan memicu spekulasi atau mitos negatif yang tidak berdasar. Oleh karena itu, diimbau jema’ah untuk bersikap bijak dan proporsional dalam berbagi cerita sekembalinya ke rumah.

Sementara itu, ada juga jema’ah haji yang menutup diri atau membatasi diri dari hal-hal yang bersifat ritual, yang tujuannya untuk hal-hal tertentu untuk menjaga kemurnian ibadah dan fokus bersyukur.

Hal lain yang perlu dilakukan para jema’ah haji setelah pulang dan tiba di kampung halaman yakni:

-Menghindari sikap pamer atau riya atau bercerita secara berlebihan dengan tujuan menyombongkan diri atas ibadah yang telah dilakukan.

-Kembali ke maksiat. Sebaiknya meneruskan kebiasaan baik dari Tanah Suci dan meninggalkan segala bentuk perilaku dosa atau maksiat.

-Berlebihan (Israf). Mengadakan acara syukuran atau memberi makan tetangga diperbolehkan sebagai wujud syukur, namun dilarang jika dilakukan secara berlebihan, memaksakan diri, atau bahkan menimbulkan utang.

Setelah pulang dari perjalanan ibadah haji, jema’ah disunnahkan membaca doa saat memasuki kampung halaman, beristirahat memulihkan fisik dari perjalanan panjang, melakukan silaturahmi, dan fokus melakukan kebiasaan baik dari Tanah Suci seperti menjaga shalat berjemaah di masjid, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

[]

Next Post

No more post

You May Also Like