ARASYNEWS.COM – Setiap tahunnya, umat Muslim di berbagai daerah di dunia merayakan Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal. Peringatan ini ditetapkan berdasarkan hari lahir Nabi Muhammad yaitu pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau sekitar tahun 570 masehi
Maulid Nabi diperingati untuk mengenang kelahiran dan suri tauladan, sifat dan perjuangan Baginda Nabi demi memperjuangkan kebenaran jalan Allah.
Dan oleh karena itu, umat Muslim juga diharapkan dapat melakukan penghormatan dan meneladani Nabi Muhammad dengan berbagai amalan.
Nabi Muhammad lahir di kota Mekkah pada 12 Rabiul Awal bertepatan dengan tahun Gajah atau 23 April 571 Masehi, dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Namun, sang ayah meninggal dunia sebelum Nabi Muhammad lahir dan ibunya menghembuskan napas terakhir saat Nabi berusia 6 tahun.
Abdullah adalah putra dari Abdul Muthalib yang merupakan pemimpin suku Quraisy, sementara Aminah merupakan putra dari Wahb, pemimpin Bani Zuhrah. Lahirnya Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang besar dari mulai zaman jahiliyah sampai ke zaman islamiyah.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Muhammad dibesarkan sang kakek, Abdul Muthalib.
Muhammad mendapat hikmah dari Allah SWT melalui malaikat Jibril pada usia 12 tahun. Dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk mengajak kepada seluruh umat manusia untuk berada di jalan Allah SWT yang merupakan jalan yang lurus, jalan kebenaran, jalan tauhid. Perintah Allah langsung disampaikan kepada Nabi Muhammad.
Oleh karena itu, kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa penting untuk dirayakan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Dalam sejarah Islam perayaan Maulid Nabi sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Ada tiga teori asal usul perayaan tersebut.
Pertama, perayaan Maulid diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismailiyah (Rafidhah). Mereka berkuasa di Mesir pada tahun 362-567 hijriyah.
Perayaan dilakukan sebagai salah satu perayaan saja. Selain itu, mereka juga mengadakan perayaan hari Asyura, perayaan Maulid Ali, Maulid Hasan, Maulid Husain, Maulid Fatimah, dan lainnya.
Teori kedua, Maulid Nabi berasal dari kalangan ahlus sunnah oleh Gubernur Irbil di wilayah Irak, Sultan Abu Said Muzhaffar Kukabri. Dikisahkan, saat perayaan Maulid Nabi dilakukan Muzhaffar mengundang para ulama, ahli tasawuf, ahli ilmu, dan seluruh rakyatnya. Ia juga memberikan hidangan, hadiah, hingga sedekah kepada fakir-miskin.
Teori yang terakhir, perayaan Maulid Nabi diadakan pertama kali oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih. Tujuannya untuk meningkatkan semangat jihad kaum Muslimin, dalam rangka menghadapi Perang salib melawan kaum Salibis dari Eropa dan merebut Yarusalem.
Sementara itu, di Indonesia sendiri sejarah Maulid Nabi Muhammad berkembang di tangan Wali Songo atau sekitar tahun 1404 masehi. Perayaan tersebut dilakukan demi menarik hati masyarakat memeluk agama Islam.
Maka dari itu, Maulid Nabi juga dikenal dengan nama perayaan Syahadatin. Selain itu, perayaan ini juga dikenal dengan Gerebeg Mulud karena cara masyarakat merayakan Maulid Nabi dengan menggelar upacara nasi gunungan.
Makna Maulid Nabi, berdasarkan buku ’37 Masalah Populer: Untuk Ukhuwah Islamiyah’ karya H Abdul Bomad, yang bisa dipetik dalam perayaan Maulid Nabi adalah mengingatkan manusia tentang risalah dan sirah dari Rasulullah SAW.
Dengan begitu, umat Islam akan memahami bahwa satu satunya tauladan adalah Rasulullah SAW. Dalil Maulid Nabi.
Berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al A’raf ayat 157, Allah SWT berfirman mengenai keutamaan memuliakan dan mencintai Nabi Muhammad SAW sebagai berikut
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
allażīna yattabi’ụnar-rasụlan-nabiyyal-ummiyyallażī yajidụnahụ maktụban ‘indahum fit-taurāti wal-injīli yamuruhum bil-ma'rụfi wa yan-hāhum 'anil-mungkari wa yuḥillu lahumuṭ-ṭayyibāti wa yuḥarrimu 'alaihimul-khabāiṡa wa yaḍa’u ‘an-hum iṣrahum wal-aglālallatī kānat ‘alaihim, fallażīna āmanụ bihī wa ‘azzarụhu wa naṣarụhu wattaba’un-nụrallażī unzila ma’ahū ulā`ika humul-mufliḥụn.
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung. (QS. Al A’raf : 157)
Selain itu, dikutip dari buku ‘Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi’ karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani berdasarkan hadist riwayat Muslim, dari Abu Qatadah ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW pernah ditanya mengenai puasa di hari Senin.
Lalu, beliau bersabda, “itu adalah hari di mana aku dilahirkan.” Dalil tersebut menjadi salah satu acuan bahwa pentingnya memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan bentuk peribadatan.

Hikmah peringatan Maulid Nabi
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut:
- Kita dapat meneladani sifat dan akhlak Nabi Muhammad SAW dalam hal kesabaran, keteguhan hati, dan terutama perjuangannya di jalan Allah SWT.
- Semua sifat Nabi Muhammad SAW perlu dan wajib untuk diteladani. Nabi Muhammad SAW seperti sosok sempurna cerminan Al-Qur’an yang hadir di tengah-tengah umat manusia dengan kabar gembira.
- Hikmah lain yang dapat diambil yaitu meneguhkan rasa cinta kita terhadap Nabi Muhammad SAW. Kecintaan kepada utusan Allah SWT harus melampaui kecintaan kita kepada segalanya. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW, Maulid Nabi menjadi salah satu pengingat kita untuk selalu memegang teguh prinsip tersebut.
Merayakan hari Maulid Nabi, bagi kita umat muslim, dapat dilakukan dengan membaca sholawat, mengikuti tausiyah di masjid atau mushalla, dan melakukan hal-hal kebajikan lain seperti santunan kepada anak yatim.