ARASYNEWS.COM – Erupsi dan banjir bandang (Galodo) yang ditimbulkan dari Gunung Marapi menimbulkan duka. Efek yang ditimbulkan menyebabkan banyak kehancuran, diantaranya adalah rumah, lahan pertanian dan perkebunan, kendaraan, infrastruktur seperti jembatan, tempat pendidikan, tempat ibadah, tiang listrik, sarana air bersih dan lainnya. Dan efeknya juga menyebabkan ternak masyarakat seperti sapi, ayam, itik, dan lainnya. Dan juga menyebabkan banyak korban jiwa.
Hingga hari ini, selain melakukan pembersihan area yang terdampak juga terus dilakukannya pencarian korban jiwa yang hilang.
Dikutip dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (23/5/2024), pencarian korban diperluas oleh tim gabungan.
BNPB mencatat total korban meninggal akibat banjir lahar dingin dan longsor, dikenal sebagai galodo, yang menerjang enam kabupaten di Sumatera Barat (Sumbar) menjadi 62 orang per Kamis (23/5/2024)
Data korban terkahir yang ditemukan pada Rabu (22/5/224). Korban yang merupakan warga Nagari Galuang, Kabupaten Agam ditemukan oleh tim SAR gabungan di Jorong Taluak, Nagari Kubang Putih atau sekitar tujuh kilometer dari titik awal kejadian di Nagari Galuang.
Sampai saat ini masih ada 10 orang yang merupakan warga Kabupaten Tanah Datar yang dilaporkan hilang dan masih dalam proses pencarian.
Korban-korban yang ditemukan ada di dalam rumah, dalam tempat usaha, di antara bebatuan, dan lokasi lainnya yang dekat aliran air banjir bandang.
Korban ditemukan juga ada yang jauh yang diakibatkan terseret derasnya aliran air banjir bandang.
Pencarian terus dilakukan dan menyusuri aliran air dan diperluas. Dan sulitnya melakukan pencarian korban dikarenakan area yang sudah banyak tertutup lumpur dan pasir. Pencarian juga dengan mengerahkan anjing pelacak.
Dari keterangan masyarakat, yakni di daerah Jao yang merupakan salah satu lokasi yang terdampak, mengatakan bahwa area pertanian dan perkebunan warga yang terkena bahkan meninggalkan lumpur dengan ketinggian sedada orang dewasa (lebih kurang 1,5 meter).
Dan hingga saat ini, lumpur yang menggenang masih belum mengeras yang diakibatkan hujan yang terkadang masih turun.
Selain itu, air terkadang masih deras mengalir pada waktu-waktu tertentu akibat curah hujan yang masih tinggi di gunung dan area sekitarnya.

Beberapa warga menceritakan bahwa kerap terdengar suara orang minta tolong pada malam hari. Suara itu timbul dari area yang tertimbun pasir dan lumpur.
Warga pun tidak memberikan bantuan atau evakuasi pada suara tersebut. Hal ini lantaran area yang masih tidak memungkinkan.
“Malam hari kadang-kadang terdengar suara orang minta tolong. Suaranya dari arah yang tertimbun material lumpur dan pasir. Kami senteri, tapi tidak terlihat,” ungkap salah seorang pemuda di daerah Jao di Batusangkar, Ahad (19/5/2024).
Ia juga mengungkapkan ada melihat seperti bangkai beruang, yang berkemungkinan satwa itu hanyut terbawa air banjir bandang dari arah gunung Marapi.
Dan selain itu, juga banyak terlihat hewan biawak. Dan dikatakannya, hewan ini bisa saja lebih dahulu mengambil sesuatu.
Selain itu, dari yang ditemukan bahkan ada yang hanya kaki, tangan, dan potongan tubuh lainnya. Dan warga juga pernah menemukan potongan tubuh yang hanya menyisakan bagian pinggang hingga bahu, tanpa kepala.
Tentang adanya potongan tubuh ini terjadi karena banjir bandang yang berasal dari gunung Marapi bukan hanya air, tetapi juga bebatuan yang ikut serta dengan lumpur kecoklatan, bebatuan yang kecil hingga sebesar mobil, dan juga kayu-kayu dan batang pohon.
Hingga kini, warga dan pihak keluarga berharap agar korban jiwa yang masih belum ditemukan dapat ditemukan dan dievakuasi. []