Kompleks Bangunan Tua Bersejarah di Tepi Sungai Siak, Pernah Jadi Tempat Pertahanan dan Pengasingan

ARASYNEWS.COM – Sebuah bangunan tua bergaya Eropa masih berdiri kokoh di tepi sungai Siak. Lokasinya berada di Jalan Benteng Hulu, Kampung Benteng, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak.

Bangunan ini dikenal dengan nama Tangsi Militer Belanda yang dibangun sekitar tahun 1860. Bangunan ini lebih tua jika dibandingkan dengan Istana Siak yang dibangun pada tahun 1889.

Kompleks bangunan ini ada sebanyak enam bangunan. Tempatnya berseberangan dengan pusat kesultanan Siak yang berada di Kampung Dalam Siak.

Di Siak pada zaman penjajahan Belanda, difungsikan sebagai tempat perlindungan dan pertahanan bagi para tentara Belanda, serta pengasingan.

Dalam tangsi terdapat berbagai macam bangunan yang antara lain berfungsi sebagai penjara, asrama, kantor, gudang senjata, dan lainnya.

Benteng peninggalan belanda yang berdiri ditepian sungai ini menurut cerita dibangun tak lama setelah Istana Siak.

Tangsi ini dilengkapi dengan meriam. Meriam Siak terletak di Benteng Istana lama yang dikendalikan oleh suku Bintan pada zaman dahulu. Setiap hari serdadu Belanda mengadakan patroli kekampung-kampung guna menakut-nakuti rakyat. Dahulu fungsi dari Benteng Belanda ini untuk memata-matai pergerakan Sultan Siak yang ada di seberang. Mereka takut kalau sewaktu-waktu sultan melakukan penyerangan mendadak, maka mereka membuat benteng ini sebagai tempat berlindung dan pertahanan mereka.

Setiap ruangan yang ada pada benteng ini juga memiliki fungsi tersendiri. Pada lantai atas biasanya Belanda menggunakan sebagai asrama atau tempat peristirahatan atau kamar tidur. Sedangkan fungsi setiap ruangan bawah pada bangunan Benteng Belanda ini bermacam-macam antara lain sebagai berikut.

  1. Sebagai kantor pusat pemerintahan Belanda di Siak

Kantor pusat ini adalah ruang utama pada benteng Belanda yang berfungsi untuk menerima maupun memberi informasi serta sebagai tempat atau pun wadah yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan melindungi aset berupa dokumen-dokumen Belanda. Ruang kantor ini sekarang banyak terdapat kerusakan terutama lantai dan atapnya.

  1. Sebagai ruang pertemuan atau musyawarah Belanda dalam mencapai kesepakatan.

Ada 2 ruang pertemuan pada benteng Belanda ini yang letaknya bersebelahan. Ruang pertemuan atau ruangan untuk musyawarah ini bisa juga dibilang sebagai ruang rapat. Di ruangan inilah tempat berkumpulnya kolonial Belanda untuk membahas suatu masalah.

  1. Sebagai ruang penjara

Ruang penjara berfungsi untuk memenjarakan masyarakat yang memberontak pada Belanda sehingga ditangkap dan diringkus didalam tahanan ini. Menurut informasi yang penulis dapat, yang dipenjara pada penjara ini bukan hanya masyarakat Siak saja, tetapi juga berasal dari masyarakat dari luar Siak

  1. Sebagai tempat untuk penyimpanan senjata

Ruang senjata ini berfungsi untuk menyimpan senjata kolonial Belanda. Senjatanya meliputi senapan, pistol, meriam dan lainnya. Ruang senjata ini sempat roboh dan menewaskan 2 orang remaja yang kala itu sedang duduk-duduk dibawah bangunan ini.

Pada zaman penjajahan dahulu, sejak Belanda hengkang dari Siak hanya ada 2 pasukan yang sempat memanfaatkan bangunan-bangunan khas itu.

Pada 1942, Jepang pernah memanfaatkan bangunan-bangunan ini. Namun tidak lama hanya 3,5 tahun karena Jepang kalah setelah Hiroshima dan Nagasakhi dibumihanguskan.

Sejak saat itu, bangunan-bangunan ini diambil alih tentara PRRI selama masa gejolak. Hingga akhirnya kalah perang melawan TNI. Sejak 1960 an hingga sekarang, bangunan-bangunan itu hanyalah onggokan sejarah masa lalu tanpa dimanfaatkan.

Bangunan-bangunan ini sempat terlihat terbengkalai memprihatinkan, tapi kini telah berubah. Dan bangunan ini masuk sebagai tempat wisata bersejarah berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan SK Kementrian PUPR

Benteng ini sudah diakui sebagai peninggalan sejarah dan telah menjadi hal milik daerah untuk sebagai objek wisata. Saat ini pemeliharaannya diawasi oleh Dinas Pariwisata setempat.

Tempat ini pernah mendapat pemugaran dengan dana APBN sebesar Rp 5 miliar pada 2018 lalu.

Kini Tangsi Belanda dimanfaatkan juga sebagai media untuk proses pembelajaran bagi masyarakat baik dari sisi sejarah, sosial budaya dan arsitekturnya. []

You May Also Like