ARASYNEWS.COM – Menteri BUMN Erick Thohir berencana dan menyampaikan akan menaikkan gaji karyawan BUMN yang menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal ini langsung mendapat tanggapan, kritik, dan protes dari masyarakat di Indonesia.
Kebanyakan masyarakat protes karena pegawai BUMN sendiri sudah mendapat kesejahteraan dengan gaji yang mereka dapatkan. Dan juga masih banyak masyarakat Indonesia yang menjadi susah akibat kenaikan harga BBM ini yang menyebabkan naiknya sejumlah harga kebutuhan barang dan jasa.
Salah satu yang ikut protes adalah Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat. Ia menilai, pernyataan kenaikan gaji yang diutarakan Erick Thohir di tengah kondisi masyarakat yang menjerit akibat kenaikan harga BBM adalah satu tindakan yang tak tepat.
“Ini sama sekali tidak memiliki empati pada penderitaan rakyat. Di saat masyarakat yang semakin menderita akibat kenaikan harga BBM ini para pegawai perusahaan negara justru akan dinaikkan gajinya. Padahal gaji mereka saat ini pun sudah tinggi. Lalu di mana rasa keadilannya,” ujar Achmad dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (10/9/2022).
Adapun dari keputusan Pemerintah menaikan harga BBM di tengah harga minyak dunia turun dipertanyakan banyak pihak. Sebab keputusan menaikkan harga BBM tersebut memicu multiplier effect, terhadap kenaikan berbagai komoditas lainnya.
“Lalu di tengah gejolak kenaikan harga BBM ini Erick Thohir menyampaikan pegawai BUMN akan dinaikkan gajinya. Sungguh tindakan yang amoral, ibarat menari di atas penderitaan orang lain,” tegasnya.
Achmad lebih lanjut mengatakan, BUMN-BUMN saat ini lebih banyak menyedot keuangan negara dari APBN daripada menyetor keuntungan ke negara.
“BUMN-BUMN ini harusnya sadar keberadaan mereka harusnya memberi kontribusi bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya memikirkan kesejahteraan karyawan, direksi dan komisarisnya saja dan tidak peduli jika negara harus bangkrut dan masyarakat menderita sekali pun,” tandasnya. []