ARASYNEWS.COM – Sekjen Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Rantau (Ampera) Sumatra Barat, Ferdy Andika menyebutkan proses vaksinasi yang tujuan awalnya untuk memperkuat daya tahan tubuh kesehatan masyarakat dari virus Corona dan mengurangi penyebaran virus telah gagal paham di pikiran masyarakat.
Ia mengatakan polemik ini terjadi disebabkan oleh beberapa hal, yang pertama adalah tidak tuntasnya proses sosialisasi vaksin kepada masyarakat. Kedua, akibat gagalnya proses yang pertama pemerintah melakukan intervensi melalui alat kekuasan.
“Sebagai contoh proses intervensi vaksinasi kepada masyarakat melalui kekuasaan ialah, untuk menerima bantuan bagi si penerima bantuan dari pemerintah harus menunjukan kartu vaksinasi minimal pertama,” kata Ferdy, dalam keterangan yang disampaikannya melalui WAG, Jum’at (6/8/2021).
“Kegagalan proses vaksinasi ialah, pemerintah tidak mampu mengurasi konsep vaksinasi dan menarasikan maksud dan tujuan dengan baik. Masyarakat tidak bisa menyerap informasi dengan utuh. Faktor lain, mengingat dunia teknologi hari ini dan informasi yang berseliweran di media sosial telah membuat rancu di pikiran masyarakat,” kata Ferdy.
“Sosialisasi vaksinasi yang ada saat ini lebih cenderung pekerjaan simbolis yang tidak mencerdaskan. Sebagai contoh, kegiatan vaksinasi tidak diseminarkan dengan baik, malahan masyarakat di ajak untuk vaksinasi iming-iming sembako dan hadiah,” terangnya.
“Disinilah konsep vaksinasi pemerintah gagal dan cenderung prosesnya adalah pembodohan massal,” imbuhnya.
Dikatakannya, masyarakat hadir vaksin tidak dan atas dasar kesadaran bahwa vaksin itu bisa meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus. Tetapi masyarakat hadir untuk mengikuti vaksin karena berbagai administrasi di pemerintahan yang banyak dihubungkan prasyarat harus menunjukan kartu vaksin.
Selain itu, imbauan ke masyarakat bukan dengan pencerdasan namun melalui hadiah-hadiah yang diberikan oleh pemerintah agar ikut vaksin.
Dikatakannya, vaksinasi yang seharusnya memperkuat daya tahan tubuh dengan harapan pemulihan ekonomi malahan terjadi pembengkakan pengeluaran pada proses vaksinasi. Karena banyak titik vaksinasi harus diikuti oleh pembiayaan lebih.
“Jadi, proses vaksinasi ini gagal membangun kesadaran bahayanya virus terhadap kesehatan. Jikapun proses vaksinasi tuntas diselesaikan, hendaknya, anggaran dana yang dihabiskan tidak melalui ‘pembodohan massal’ pemberian sembako dan hadiah untuk mengajak masyarakat vaksin. Namun, melalui kegiatan yang mencerdaskan dan membangun kesadaran,” pungkasnya. [Rls]