Tradisi Turun Temurun Perayaan 10 Muharram

ARASYNEWS.COM – Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa di hari Asyura, sebagaimana sabda beliau yang artinya:
“Puasa pada hari Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Pada tahun ini, 10 Muharram jatuh pada hari ini, Ahad, 6 Juli 2025. Dan ada berbagai tradisi yang dilakukan umat Islam di berbagai daerah di dunia dan salah satunya di Indonesia.

10 Muharram dikenal dengan hari Asyura, mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, dan budaya

Beragam tradisi ini turun temurun dilakukan dan berpadu dengan budaya-budaya di masing-masing daerah.

Berikut beberapa tradisi unik yang digelar di berbagai daerah di Indonesia dalam rangka memperingati 10 Muharram:

  1. Tabuik (Pariaman, Sumatera Barat)
    Salah satu tradisi paling meriah dan ikonik dalam memperingati 10 Muharram dapat ditemui di Pariaman, Sumatera Barat.

Tradisi ini dikenal dengan nama Tabuik Pariaman yang berasal dari warisan budaya Islam yang mengalami akulturasi dengan masyarakat Minangkabau.

“Tabuik” merupakan prosesi arak-arakan menara berbentuk kuda bersayap yang disebut Buraq, menggambarkan peristiwa syahidnya Sayyidina Husain di Karbala. Tradisi ini mencerminkan rasa duka dan penghormatan terhadap cucu Nabi Muhammad ﷺ.

  1. Mandi Asyura
    Di Bima (NTB) dan sebagian kawasan pesisir, ada tradisi mandi bersama di sungai atau laut pada pagi hari 10 Muharram. Masyarakat percaya bahwa mandi pada hari itu membawa keberkahan dan mensucikan diri dari dosa.

Meskipun tidak ada dalil khusus yang mengajarkan mandi Asyura, namun selama tidak diyakini sebagai kewajiban syar’i dan dilakukan sebagai bagian dari budaya, maka para ulama membolehkan.

  1. Bubur Asyura
    Di beberapa wilayah seperti Minangkabau, Aceh, dan Kalimantan Selatan, masyarakat membuat makanan khas bernama Bubur Asyura dalam memeriahkan hari Asyura. Bubur ini terbuat dari berbagai macam bahan seperti beras, kacang-kacangan, santan, dan rempah-rempah.

Tradisi ini diyakini sebagai simbol syukur atas keselamatan dan rezeki yang diberikan Allah. Pembuatan bubur dilakukan secara gotong royong di masjid atau mushala, lalu dibagikan kepada warga sekitar.

Untuk umat Islam di Aceh, acara ini disebut “Kanji Asyura”, sedangkan di Sumatera Barat, dikenal sebagai “Bubur Syuro”.

4.Sedekah dan Zikir Bersama
Di berbagai daerah, umat Islam mengisi malam 10 Muharram dengan kegiatan zikir bersama, pembacaan doa akhir tahun dan awal tahun Hijriyah, pengajian hingga shalawat dan tausiyah.

Misalnya di Madura dan Banyuwangi, malam 10 Muharram dikenal dengan kegiatan bancaan yakni doa bersama sambil makan hidangan bersama di masjid dan mushalla.

  1. Lebaran Anak Yatim (Idul Yatama)
    Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Banten, dan Jakarta, 10 Muharram dikenal sebagai Hari Raya Anak Yatim atau Lebaran Yatim.

Ini merujuk pada sabda Nabi Muhammad ﷺ.
“Barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, Allah akan mengangkat derajatnya di surga sebanyak rambut yang diusap.”

Diriwayatkan dalam beberapa kitab hadist walau statusnya dhaif, namun diamalkan dalam konteks sosial.

Masyarakat memanfaatkan momen ini untuk menyantuni anak yatim, mengadakan pengajian dan doa bersama serta memberikan hadiah dan bingkisan.

Tentang tradisi ini, para pemuka agama Islam di Indonesia membolehkan tradisi-tradisi lokal selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar syariat.

Tradisi seperti menyantuni anak yatim, bersedekah, membuat bubur Asyura, atau mengadakan pengajian dinilai positif karena dapat memperkuat ukuwah islamiah, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah dan keluarganya, serta menyemarakkan hari-hari Islam dan menyantuni anak yatim dan fakir miskin.

Namun, jika tradisi disertai dengan keyakinan yang bertentangan dengan akidah, seperti meyakini bahwa 10 Muharram adalah hari sial, melakukan ratapan berlebihan (niyahah), atau membuat ritual baru yang dianggap ibadah wajib, maka hal itu harus dihindari.

[]

You May Also Like