Tercatat Sebagai Orang Pertama yang Menaklukkan Gunung Marapi dan Ditemukan Ada Beberapa Kawah di Puncak

ARASYNEWS.COM – Gunung Marapi yang saat ini berada di provinsi Sumatera Barat tidak diketahui kapan hadirnya. Gunung ini menurut legenda, merupakan tempat yang pertama kali dihuni oleh masyarakat Minangkabau setelah kapal mereka mendarat di gunung yang saat itu masih sebesar telur dan dikelilingi oleh air. Ada sejumlah besar batu pemakaman tegak di wilayah ini yang berorientasi ke arah gunung, yang menunjukkan signifikansi budayanya.

Dalam tambo-nya, orang-orang Minangkabau menyebut silsilah mitologis mereka: dari mano asa niniak kito/ dari puncak Gunuang Marapi.

Gunung api ini meski aktif terapi hampir tak pernah sepi dan menjadi favorit para pendaki dari berbagai daerah. Pasalnya pada puncak terdapat seperti lapangan yang luas. Dan dari puncak dapat terlihat daerah-daerah lainnya dan bahkan gunung-gunung lainnya.

Gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Sumatra dan namanya berarti “Gunung Api”. Ketinggiannya saat ini yang tercatat adalah 2.891 meter (9.465,2 kaki), dan bisa berkemungkinan dahulunya lebih tinggi dari itu.

Ada beberapa kota besar terletak di sekitar gunung ini yakni Bukittinggi, Padang Panjang, dan Batusangkar. Selian itu juga ada banyak daerah dan pemukiman penduduk di sekitar gunung.

Tak seperti gunung lainnya di Indonesia, gunung api ini memiliki beberapa kawah pada puncaknya. Ada beberapa kawah di puncak Marapi, yang dikenal adalah Pakuntan Tua, Pakuntan Tengah dan Pakuntan Bungsu. Pakuntan ini salah satu kosakata unik yang sekarang tidak digunakan orang-orang Minangkabau lagi, jika memang yang dimaksudkan adalah kata kawah.

Pakuntan Tua panjangnya lebih kurang 519 meter, lebar 324 meter dan tinggi dinding kawah 114 meter. Menurut observasi sang naturalis, kawah Marapi yang paling awal ini tak aktif lagi, hanya ada genangan air, dan tak satu pun api yang hidup. Agak berbeda dengan Pakuntan Tengah, yang pada beberapa tempat asap mengepul terus menerus dengan dasar kawah yang kering.
Pakuntan Tengah dalamnya hanya 40 meter dengan diameter sekitar 142 meter.

Seluruh aktivitas vulkanis Marapi yang sekarang terpusat di kawah paling muda, Pakuntan Bungsu, yang dalamnya 153 meter dan diameter 403,2 meter, terletak di ujung Barat Daya puncak Marapi. Pada dindingnya yang curam, 38 sampai 40 derajat, di sela belah-belah batu dan tanah keluar senantiasa uap air dan belerang, tapi tanpa sedikit pun suara. Bahan-bahan dinding kawah selain tanah lempung, ada abu vulkanis, pasir, batu apung dan batu grit. Suhu di ketinggian ini pada saat tengah hari berawan diukur oleh sang ilmuwan 15,7 derajat Celcius.

Penamaan kawah gunung ini adalah dari hasil observasi pertama kali, yaitu Salomon Müller (1804-1863) orang kulit putih pertama berbangsa Jerman yang menaikinya dengan misi ilmiah, beserta Pieter Willem Korthals (1807-1892), botanis Belanda. Bisa berkemungkinan mereka-mereka inilah sebagai orang pertama yang menaklukkan gunung Marapi.

Dirangkum dari berbagai sumber, Salomon Müller ini adalah naturalis yang pernah membuat peta kota misterius Saranjana di Kalimantan tahun 1845. Müller dan Korthals merupakan ilmuwan anggota De Natuurkundige Commissie voor Nederlandsch-Indië (Komisi Ilmiah untuk Hindia Belanda) yang ditahbiskan Raja Willem I tahun 1820 dan beroperasi hingga 1850.

Catatan ekspedisi ilmiah Salomon Müller dan rekan ke Sumatera Barat, di antaranya ke Gunung Marapi, ditulisnya dalam artikel ilmiah: Berigten over Sumatera (Berita tentang Sumatera), terbit di Amsterdam 1837.

Perjalanan observasinya dilakukan tiga tahun, sebelumnya ia menghabiskan berbulan-bulan di Padang, Bungus dan Lembah Anai. Kemudian pada November 1834, Salomon Müller dan Korthals dengan lima belas orang pemandu pribumi mulai menanjak Gunung Merapi. Perjalanannya itu dilakukan saat masih berlangsungnya perang Belanda dengan kaum Paderi yang peperangannya berhenti pada tahun 1837.

Müller bersama rombongan mulai mendaki tidak dari Koto Baru dan Batu Palano yang saat ini sebagai akses pintu masuk gunung. Mereka berangkat dengan rute dari Batusangkar, Lima Kaum, Parambahan, Sungai Jambu dan terakhir kampung yang disebutnya Limboatan (Labuatan).

Dalam catatan, saat di Labuatan, mereka masuk ke kawasan hutan rimba, dan ada jalur sempit yang menuju ke puncak.

Pada ketinggian 7000 kaki, suhu udara mencapai 25°C, disini hanya ditemukan bambu dan pohon aren, juga semak-semak Rhododendron, Leucocarpa, Gaulteria, Gnaphalium, sedangkan kopi dan kelapa yang merupakan tanaman masyarakat tidak lagi ditemukan.

Untuk jenis satwa, ditemukan Psilopogon pyrolophus, Edolius rotifer, Tisnalia concreta, Pomatorhimis montanus, Muscicapae, Columba ruficeps, Columba Capellei, Izos bimaculatus dan Dicaeum flavum.

Di cadas hingga ke puncak, ditemukan tanaman Thibautia berdaun dongker dan diberati buah, juga tanaman edelweis yang rumput-rumput padi.

Di kawasan hutan, dalam catatannya, tidak lagi ditemukan satwa yang biasa ada pada hutan-hutan rimba.

Müller menyampaikan banyak hal seputar Gunung Marapi, kontur puncak yang seperti terpenggal dan terpadatkan, volume lebar kaki dan pinggang, serta dianalogikan dengan gunung-gunung api lain yang umumnya mengerucut runcing. Menurutnya, gunung ini telah kehilangan setidaknya 600 meter dari ketinggian asal, akibat erupsi pada masa lampau.
Bukti adanya erupsi, tidak ada satu pun mamalia seperti kera di gunung itu bisa jadi semacam trauma fauna akan erupsi gunung yang luar biasa di masa lalu.

Dari hasil perhitungan geometris Müller dan Korthals dengan menggunakan formula Biot, peralatan barometer Fortin, serta thermometer, adapun titik tertinggi gunung Marapi yang merupakan permukaan puncak dinding bukit pasir yang mengelilingi kawah dalam bentuk setengah lingkaran adalah 2.898,2 meter.

Catatannya, ketinggian ini berbeda beberapa meter dari ketinggian Gunung Marapi seperti yang sekarang, yakni 2.891 mdpl.

Kita tidak tahu apakah sudah dilakukan perhitungan-perhitungan ulang ketinggian Marapi, atau hanya hitungan pada 1834 tersebut yang menjadi pedoman, mengingat dalam kurun 200 tahun tentu ada selisih ketinggian signifikan gunung yang terkenal sering erupsi dan dilanda gempa bumi ini.

Dari informasi yang diperoleh Müller dari para pribumi yang mendampinginya mendaki gunung, dipastikan bahwa kegiatan mendaki gunung hingga ke puncak kawah sudah biasa dilakukan oleh orang-orang Minangkabau sejak dulu kala. Bahkan juga pada zaman dahulu juga pernah ada penyelenggaraan pasar di dekat kawah-kawahnya.

Hanya di puncak gunung itu penduduk dari berbagai nagari bisa aman berlalu lintas dan bertransaksi, jalur di bawah sangat tidak aman dengan banyaknya pertikaian, perampokan, dan perampasan karena perang yang sedang terjadi pada masa itu.

Disisi lain, akibat erupsi dan suhu dingin di gunung, membuat banyak korban. Dan untuk menghormati arwah gunung (berggeesten), sebelum diizinkan mendaki, Müller, Korthals dan rekan-rekan pribumi menjalani ritual yang diadakan penduduk. Dalam ritual ini, satu ekor kerbau dibantai dan bakar kemenyan, serta memanjatkan doa-doa untuk keselamatan.

Hampir sepekan penelitian, mereka dihadapi akan cuaca hujan, dingin dan kabur di kawasan puncak.

Ekspedisi tersebut membawa pengetahuan yang sangat signifikan tentang gunung Marapi. Tidak hanya catatan komprehensif tentang flora dan fauna di gunung itu, tapi catatan geografis, geologis dan bahkan budaya.

Meskipun Marapi adalah gunung api yang penuh mistis, tetapi menjadi bagian dari silsilah mitologis orang-orang Minangkabau. Para pribumi pemberani mendaki ke puncaknya, memberi nama kawah-kawah dan bahkan mengadakan pasar sekali seminggu di atas sana.

Data Erupsi Gunung Marapi

Karakter letusan Gunung Marapi berupa letusan secara eksplosif maupun efusif dengan masa istirahat rata-rata 4 tahun.

Kegiatannya tidak selalu terjadi pada kawah yang sama, tetapi bergerak membentuk garis lurus dengan arah timur – barat daya antara Kawah Tuo hingga Kawah Bongsu.

Sejak awal 1987 sampai sekarang letusannya bersifat eksplosif dan sumber letusannya hanya berpusat di Kawah Verbeek. Letusan disertai suara gemuruh, abu, pasir, lapili dan kadang-kadang juga diikuti oleh lontaran material pijar dan bom vulkanik.

Pada tanggal 8 September 1830 dilaporkan Gunung Marapi mengeluarkan awan yang berbentuk kembang kol abu-abu kehitaman dengan ketebalan 1.500 m di atas kawahnya, disertai dengan suara gemuruh.

Pada tanggal 30 April 1979, menurut laporan pers disebutkan 60 orang tewas akibat letusan Gunung Marapi dan disebutkan juga 19 orang pekerja penyelamat terperangkap oleh tanah longsor. Letusan tersebut dikatakan juga mengeluarkan batu dan lumpur yang menyebabkan kerusakan sedikitnya pada lima daerah kawasan pemukiman penduduk setempat.

Memasuki akhir tahun 2011 hingga awal tahun 2014, Gunung Marapi menampakkan peningkatan aktivitasnya melalui letusan yang menyemburkan abu dan awan hitam. Pernah diakhir tahun 2011 semburan abu terbawa angin ratusan kilometer jaraknya hingga mencapai Kabupaten Padang Pariaman. Dan sejak itulah ditetapkan berstatus level II waspada.

Pada tanggal 3 Desember 2023, gunung berapi tersebut meletus, menyebabkan 23 pendaki tewas. Abu mencapai ketinggian 3.000 meter (9.800 kaki) dan jatuh di wilayah terdekat. Zona eksklusi seluas 3 kilometer (1,9 mil) sebelumnya telah diumumkan.

Kawah Gunung Marapi

Dalam berbagai sumber, kawah gunung Marapi di Sumatera Barat tak hanya satu, tapi memiliki lima kawah dengan nama kawah yang berbeda. Nama kawah itu di antaranya Kaldera Bancah (A), Kapundan Tuo (B), Kabun Bungo (C), Kapundan Bongso (D), Kawah Verbeek atau Kapundan Tenga (D4)

Letak Geografis

Dilansir dari laman vsi.esdm.go.id, nama lain gunung ini ialah Sorieg Berapi, Seret Berapi. Secara administrasi, gunung ini berada di dua kabupaten yaitu Agam dan Tanah Datar.

Gunung Marapi terletak di 0o 22′ 47,72″ LS,100o 28′ 16,71″ BT. Gunung ini memiliki ketinggian 2891,3 mdpl.

Kemudian, nama kawah yang ada di Gunung Marapi adalah Kaldera Bancah (A), Kapundan Tuo (B), Kabun Bungo (C), Kapundan Bongso (D), Kawah Verbeek atau Kapundan Tenga (D4).

Kota terdekat dengan Gunung Marapi yaitu Bukittinggi dan Padang Panjang. Pos pengamatan ada di Batang Agam, Jalan Prof Hazairin 168 Bukittinggi, koordinat 00°18’46,64″ LS, 100°22’08,53″ BT. Tinggi: 924 mdpl. []

Source. Berbagai sumber

You May Also Like