ARASYNEWS.COM – Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah An Nisa pada ayat 58-59
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا
innallāha yamurukum an tuaddul-amānāti ilā ahlihā wa iżā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumụ bil-‘adl, innallāha ni’immā ya’iẓukum bih, innallāha kāna samī’am baṣīrā
Artinya. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. an-nisa 58)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
yā ayyuhallażīna āmanū aṭī’ullāha wa aṭī’ur-rasụla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza’tum fī syaiin fa ruddụhu ilallāhi war-rasụli ing kuntum tuminụna billāhi wal-yaumil-ākhir, żālika khairuw wa aḥsanu ta`wīlā
Artinya. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-nisa 59)
Adapun ayat ini menjelaskan tentang persyarikatan atau organisasi agar dapat berjalan dengan baik yang sesuai dengan syariah.
Dalam hal ini, disebutkan tentang Ulil Amri yang berarti seseorang atau sekelompok orang yang mengurus kepentingan umat.
Ketaatan kepada Ulil Amri merupakan suatu kewajiban umat, selama tidak bertentangan dengan nash yang zahir. Seperti tentang ibadah, maka semua persoalan haruslah didasarkan kepada ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya.
Ketaatan kepada Ulil Amri atau Pemimpin sifatnya kondisional (tidak mutlak), karena betapa pun hebatnya Ulil Amri itu maka ia tetap manusia yang memiliki kekurangan dan tidak dapat dikultuskan. Jika produk dari Ulil Amri tersebut sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya maka wajib diikuti, sedangkan jika produk Ulil Amri itu bertentangan dengan kehendak Allah maka tidak wajib ditaati. Dengan demikian, model ketaatan kepada Ulil Amri itu terlaksana, jika ia menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya jika tidak, maka ketaatan itu dengan serta merta tidak mesti adanya. (Referensi “Pengertian Ulil Amri dalam Al-Qur’an dan Implementasinya dalam Masyarakat Muslim”. Jurnal Ushuluddin).
Disebutkan juga bahwa Ulil Amri tidak terbatas hanya pada kepemimpinan politik, melainkan mencakup berbagai aspek kepemimpinan yang bertanggungjawab kepada masyarakat.
Otoritas Ulil Amri juga dapat dimaksud dalam berbagai konteks, misalnya di lingkungan sekolah bahwasanya seperti wali murid yang menjadi Ulil Amri bagi anak-anaknya, atau panglima perang yang menjadi Ulil Amri bagi pasukannya.
Sementara itu, dua ayat tersebut terkandung tentang Ulil Amri atau dalam pengertian zaman sekarang ini sebagai organisasi.
Ulama, baik secara perorangan maupun lembaga, seperti lembaga-lembaga fatwa, juga dianggap sebagai bagian dari Ulil Amri. Artinya, semua pemimpin ataupun perwakilan masyarakat dalam bidangnya masing-masing termasuk dalam lingkup Ulil Amri. Dengan demikian, konsep Ulil Amri tidak hanya berlaku dalam konteks politik, melainkan juga merangkul seluruh spektrum kehidupan masyarakat
Sementara itu, yang masuk dalam organisasi itu diwajibkan bisa menempatkan diri dan menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik yang sejalan dengan syariah.
Untuk ayat 58 surah An Nisa, disinggung tentang kepemimpinan. Dalam ayat ini mengingatkan seorang pemimpin diberi perintah oleh Allah untuk amanah dan tabligh.
Menjalankan organisasi tentunya tidaklah mudah. Orang-orang dalam organisasi mempunyai tantangan yang berat dalam menghadapi persoalan.
Allah dalam ayat tersebut memerintahkan agar para pemimpin dan organisasi membuat keputusan dengan adil.
Dalam ayat berikutnya Allah juga telah menyampaikan pesan kepada para anggota dalam sebuah organisasi.
Jadi ada perintah bagi kita yang memimpin untuk selalu senantiasa patuh mengikuti petunjuk Rasulullah dan patuh kepada pimpinan-pimpinan kita organisasi.
Maka kunci dari kesuksesan organisasi yang tertera dalam Surat An-Nisa ayat 58-59 adalah seorang pemimpin yang amanah dan menjalankan tanggung jawabnya dengan adil dan diikuti oleh para anggota yang mentaati pemimpinnya yang demi kepentingan khalayak ramai. []