Tanjak Kuansing, Bermakna dan Bisa Sebagai Oleh-oleh

Produk-produk Khas Kuantan Singingi yang Bermakna Filosofi dan Bisa Sebagai Oleh-oleh

ARASYNEWS.COM – Berbagai daerah di Riau memiliki ciri khas dan produk lokal masing-masing yang berbeda-beda. Berbagai produk khas diantaranya mulai dari batik, kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga pernak-pernik.

Produk khas ini banyak tersedia dan dijual oleh pelaku usaha kecil hingga besar. Dan produk-produk ini juga dapat dimiliki dan dibawa pulang untuk oleh-oleh ataupun kenang-kenangan.

Untuk di Kuantan Singingi (Kuansing) Riau, yang saat ini tengah ramai dikunjungi berbagai masyarakat baik dari lokal, nasional, hingga internasional. Ini karena tengah dilangsungkannya festival Pacu Jalur.

Mereka yang datang ingin melihat jalur atau perahu panjang yang berhiaskan ukiran berlomba di atas air di Sungai Batang Kuantan, tepian Narosa Taluk Kuantan, 20-24 Agustus 2025. Iven tahunan ini telah masuk dalam agenda Kemenpa RI.

Dan yang menariknya, berbagai umkm pelaku usaha turut hadir menjajakan produk-produk khas Kuantan Singingi. Mereka hadir dengan stand-stand di kawasan Tepian Narosa.

Beberapa produk tradisional diantaranya adalah mulai dari batik Kuansing, kuliner khas Kuansing, hingga kerajinan tangan Kuansing.

Salah satu yang ramai dicari adalah tanjak khas Kuansing. Tanjak atau penutup kepala ini merupakan salah satu simbol budaya Melayu Kuansing yang kaya akan sejarah dan makna.

Tanjak Melayu Riau memiliki sejarah yang panjang dan makna yang kaya. Menurut sejarah, tanjak Melayu Riau berasal dari zaman Kerajaan di Riau zaman dahulu dan telah menjadi simbol status dan martabat dalam masyarakat Melayu di Riau, khususnya di Kuantan Singingi.

Tanjak Kuansing, sebagai bagian dari budaya Melayu, ada ciri khas yang membedakannya. Tanjak penutup kepala ini terbuat dari kain, umumnya songket atau tenun, yang dilipat dan dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki bentuk yang khas. Ciri utamanya adalah bentuknya yang runcing ke atas dan memiliki simpul yang melambangkan persatuan dan ikatan.

Tanjak dibentuk dari kain segi empat yang dilipat menjadi segi tiga. Bagian atasnya meruncing ke atas dan biasanya memiliki simpul.

Simpul tanjak memiliki makna filosofis, seperti simpul pernikahan yang menandakan asal-usul atau simpul ketupat palas yang menandakan asal daerah pengguna.

Penggunaan Tanjak bukan hanya sekadar aksesoris, tetapi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas dan budaya masyarakat Kuansing. Tanjak dikenakan dalam berbagai acara adat, upacara resmi, dan kegiatan penting lainnya sebagai simbol kehormatan dan warisan budaya.

Makna Tanjak tidak hanya sebagai hiasan kepala, tetapi juga sebagai simbol budaya, identitas, dan kewibawaan.

Ada berbagai jenis variasi tanjak dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda, seperti Lang Melayang, Lang Menyongsong Angin, Dendam tak Sudah, Balung Ayam, dan lain-lain.

foto. jpnn /istimewa

“Saya lihat banyak sekali pelaku UMKM yang kreatif dan menarik. Tadi saya langsung membeli tanjak khas Kuansing sebagai bentuk dukungan nyata. Mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi bagi pelaku UMKM untuk terus mengembangkan produknya,” ungkap Agung Nugroho, Walikota Pekanbaru, saat datang ke Kuansing melihat perlombaan Pacu Jalur dan menyempatkan diri berkunjung ke stand-stand UMKM.

Menurutnya, keberadaan UMKM sangat penting dalam mendukung perputaran roda ekonomi masyarakat Kuansing.
“Jangan hanya sekadar nonton. Mari ramaikan stand UMKM yang menjual produk lokal Kuantan Singingi. Dengan begitu, ekonomi bisa meningkat dan berputar lebih cepat,” kata Agung.

Kehadiran stand UMKM di kawasan Tepian Narosa memang menjadi daya tarik tersendiri dalam festival kali ini. Dan produk-produk ini seharusnya juga mendapat perhatian khusus pemerintah daerah.

[]

You May Also Like