ARASYNEWS.COM – Dalam ajaran Islam, hal yang seperti ini sangat dilarang dan termasuk dalam dosa besar. Yang dimaksud adalah suap baik dalam bentuk materi ataupun meminta bantuan dengan cara melicinkan dan menggeser orang lain.
Risywah atau suap adalah pemberian yang diberikan kepada orang lain dengan maksud meluluskan perbuatan tercela.
Dalam Islam, hal seperti ini dinamai dengan Risywah. Dan ini termasuk dosa besar. Hasil yang didapat dari praktek ini juga merupakan hasil yang haram.
Seperti apa hukum suap dalam pandangan Islam?
Kasus Risywah sudah kerap terjadi di zaman sekarang ini. Banyak cara yang dilakukan demi mencapai tujuan yang diharapkan dan sebagian besar tujuannya adalah hal yang bathil.
Tujuan lainnya adalah menjadikan salah perbuatan yang sebetulnya sesuai syari’ah.
Pemberi suap disebut rasyi, penerimanya adalah murtasyi, sedangkan sebutan untuk penghubung antara keduanya adalah ra’isy.
Suap, uang pelicin, money politic dan lainnya disebut risywah jika tujuannya untuk menyalahkan yang benar atau membenarkan yang salah.
Bukan hanya dalam Islam, menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 11 tahun 1980 tentang tindak pidana suap, suap didefinisikan sebagai memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajiban yang menyangkut kepentingan umum.
Dikutip dari buku Etika Bisnis dalam Islam oleh Nandang Ihwanudin dkk, dijelaskan, suatu yang dinamakan risywah adalah jika mengandung unsur pemberian atau athiyah, ada niat untuk menarik simpati orang lain atau istimalah, serta bertujuan untuk membatalkan yang benar demi merealisasikan kebathilan. Dan ini termasuk juga dalam kategori suap jika tujuannya adalah mencari keberpihakan yang tidak dibenarkan, mendapat kepentingan yang bukan menjadi haknya dan memenangkan perkaranya.
Dalil tentang Risywah
Beberapa ayat di dalam Al-Qur’an dan Sabda Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa risywah atau suap merupakan suatu yang diharamkan di dalam syariat, bahkan termasuk dosa besar.
Surat Al-Baqarah Ayat 188
وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.
Surat Al-Ma’idah Ayat 42
سَمَّٰعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحْتِ ۚ فَإِن جَآءُوكَ فَٱحْكُم بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ ۖ وَإِن تُعْرِضْ عَنْهُمْ فَلَن يَضُرُّوكَ شَيْـًٔا ۖ وَإِنْ حَكَمْتَ فَٱحْكُم بَيْنَهُم بِٱلْقِسْطِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ
Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
Imam al-Hasan dan Said bin Jubair menginterpretasikan ‘akkaaluna lissuhti dengan risywah. Jadi risywah (suap) identik dengan memakan barang yang diharamkan oleh Allah SWT.
Suap perbuatan yang laknat
“Rasulullah melaknat penyuap dan yang menerima suap” (HR Khamsah kecuali an-Nasa’i dan dishahihkan oleh at-Tirmidzi).
Mendapat balasan neraka
“Setiap daging yang tumbuh dari barang yang haram (as-suht) nerakalah yang paling layak untuknya.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apa barang haram (as-suht) yang dimaksud?”, “Suap dalam perkara hukum” (Al-Qurthubi 1/ 1708)
Ayat dalam Al-Qur’an dan hadist di atas menjelaskan secara tegas tentang diharamkannya perbuatan Risywah
suap, menyuap dan menerima suap. Begitu juga menjadi mediator antara penyuap dan yang disuap. []
Source. Tausiyah dan detik hikmah