Penampakan Benda Langit Bercahaya, Berputar Memiliki Orbitnya Sendiri

ARASYNEWS.COM – Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) terus melakukan penelitian dan memperbarui informasi tentang penampakan benda langit yang berputar-putar melintasi Tata Surya.

Banyak yang penasaran dengan objek antarbintang (interstellar object) langka yang melintas ini, bahkan dibicarakan di media sosial yang menjadi dalang terganggunya jaringan komunikasi dan internet. Dan tak sedikit pula yang mengaitkannya dengan beragam teori konspirasi.

Benda langit ini dinamai sebagai komet 3I/ATLAS. Diperkirakan akan berada pada titik terdekat dengan bumi pada 17 Desember 2025.

Namun, komet 3I/ATLAS bukanlah misteri tanpa dasar ilmiah. Lantas, apa itu komet 3I/ATLAS dan apakah berbahaya bagi Bumi?

Tentang Komet 3I/ATLAS

Dalam laman resmi NASA, 3I/ATLAS adalah komet ketiga yang dikonfirmasi berasal dari luar tata surya. Huruf “I” dalam namanya menandakan bahwa ia termasuk dalam kategori interstellar, atau objek yang datang dari sistem bintang lain.

Sebelumnya, hanya dua objek sejenis yang pernah ditemukan: 1I/ʻOumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019.

“Komet 3I/ATLAS adalah objek ketiga yang diketahui berasal dari luar sistem tata surya kita yang ditemukan melintasi wilayah langit kita. Para astronom telah mengklasifikasikan objek ini sebagai objek antarbintang karena bentuk lintasan orbitnya yang hiperbolik,” demikian keterangan NASA.

Asal-usul dan Ciri Fisik Komet

Menurut NASA, komet 3I/ATLAS memiliki lintasan hiperbolik, artinya ia bergerak terlalu cepat untuk terperangkap oleh gravitasi Matahari dan tidak akan kembali setelah melintas. Berdasarkan pengamatan awal, komet ini memiliki kecepatan luar biasa, yakni sekitar 61 kilometer per detik, saat melewati bagian dalam tata surya.

“Saat ditemukan, komet antarbintang tersebut bergerak dengan kecepatan sekitar 137.000 mil per jam (221.000 kilometer per jam, atau 61 kilometer per detik), dan kecepatannya akan meningkat seiring mendekati Matahari,” tulis NASA dalam keterangannya.

Hasil Pengamatan NASA

Pada 1 Juli 2025, teleskop survei ATLAS (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) yang didanai NASA di Rio Hurtado, Chile, pertama kali melaporkan pengamatan komet yang berasal dari ruang antarbintang. Datang dari arah rasi bintang Sagittarius, komet antarbintang ini secara resmi diberi nama 3I/ATLAS. Saat ini, komet tersebut berada sekitar 420 juta mil (670 juta kilometer) dari Bumi.

Sejak laporan pertama tersebut, pengamatan sebelum penemuan telah dikumpulkan dari arsip tiga teleskop ATLAS yang berbeda di seluruh dunia dan Fasilitas Transien Zwicky di Observatorium Palomar di San Diego, California. Pengamatan “pra-penemuan” ini mencakup periode hingga 14 Juni 2025. Sejumlah teleskop telah melaporkan pengamatan tambahan sejak objek tersebut pertama kali dilaporkan.

Apakah Berbahaya bagi Bumi?

NASA memastikan bahwa komet 3I/ATLAS tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi. Jalur lintasannya tidak bersinggungan dengan orbit planet mana pun, termasuk Bumi. Komet ini akan terus melintas menjauhi tata surya setelah mencapai titik terdekatnya pada akhir 2024 lalu.

“Komet 3I/ATLAS tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi dan akan tetap berada jauh. Jarak terdekat yang akan dicapai komet ini dengan Bumi adalah sekitar 1,8 satuan astronomi (sekitar 270 juta kilometer). 3I/ATLAS akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari pada sekitar 30 Oktober 2025, pada jarak sekitar 1,4 au (210 juta kilometer), tepat di dalam orbit Mars,” terang NASA.

Dikaitkan dengan Pesawat Alien

Spekulasi Komet 3I/Atlas viral di dunia maya. Kemunculan benda langit yang sempat dikhawatirkan berdampak ke bumi itu juga diramaikan oleh sangkaan bahwa meteor itu merupakan pesawat makhluk luar angkasa atau alien.

Profesor riset astronomi dan astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menyatakan dugaan Komet 3I/Atlas sebagai wahana alien tidak beralasan. Meski begitu, dia juga menambahkan bahwa astronom tidak akan berspekulasi tentang objek langit di luar interpretasi fisis hasil observasi.

Berdasarkan hasil observasi, dia menerangkan, obyek 3I/Atlas adalah komet raksasa dari luar tata surya. Kode angka 3 menandakan sebagai obyek langit ketiga yang ditemukan astronom. Kode I berasal dari akronim interstellar atau ruang antar bintang di luar tata surya.

Ada pun Atlas adalah nama teleskop yang pertama kali menemukan kemunculan komet tersebut. “Teleskop Atlas ditujukan penggunaannya untuk survei obyek asteroid yang berpotensi bertumbukan dengan bumi,” ujar Thomas pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Komet ini terpantau memiliki kepala atau disebut koma yang terdiri dari debu dan gas. Besarnya, menurut Thomas, sekitar 25 ribu kilometer atau sekitar dua kali diameter bumi.

Namun, berdasarkan taksiran terbaru, ukuran komet itu jauh lebih besar hingga bergaris tengah 700 ribu kilometer. Rasionya antara lain seukuran separuh matahari atau lima kali lipat diameter planet raksasa Jupiter.

Umur komet yang berasal dari bidang Galaksi Bimasakti itu diperkirakan sekitar 7 miliar tahun atau lebih tua daripada umur tata surya yang 4,5 miliar tahun. Selain itu keunikan lain 3I/Atlas adalah bentuk orbitnya yang hiperbolik, bukan elips atau lonjong seperti kebanyakan komet lainnya.

Thomas memastikan, perjalanan Komet 3I/Atlas yang mendekati matahari dengan kecepatan ditaksir sekitar 215 ribu kilometer per jam tidak membahayakan bumi maupun planet-planet lain di jagat tata surya.

Penduduk bumi bisa menyaksikan komet itu di angkasa. Namun, pada Oktober sampai November, Komet 3I/Atlas berada di arah matahari sehingga tidak bisa diamati.

“Desember baru bisa diamati lagi sebelum semakin redup karena bergerak menjauh,” ujar Thomas, dalam Informasinya yang dikutip.

Komet 3I/Atlas akan terus mengarah ke ruang antar-bintang dan tidak akan kembali ke tata surya.

Sejauh ini, Thomas menambahkan, belum ada benda langit lain yang mengancam kehidupan di bumi hingga 100 tahun mendatang.

Penggiat astronomi dari komunitas Langit Selatan Avivah Yamani di Bandung menerangkan, Komet 3I/Atlas pertama kali dideteksi oleh teleskop Atlas (Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System) di Rio Hurtado, Cile, pada 1 Juli 2025. Untuk mengonfirmasi temuan ini, para astronom maupun astronom amatir melakukan pengamatan dari berbagai belahan dunia seperti di Hawai di Samudra Pasifik, Afrika Selatan, serta di San Diego, California, Amerika Serikat.

”Dari hasil pengamatan obyek ini merupakan komet, bukan pesawat alien seperti yang jadi spekulasi,” katanya.

Komet 3I/Atlas, menurut Avivah, rupanya sudah teramati sejak 14 Juni tapi belum ditemukan karena sedang melintasi area padat bintang di pusat galaksi sehingga sulit dikenali.

[]

You May Also Like