ARASYNEWS.COM – Allah SWT telah memperingatkan kepada orang-orang yang memiliki sikap riya, sombong, angkuh, dan atau pamer
Firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Luqman ayat 18
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman: 18).
Firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Az Zumar 72
قِيلَ ٱدْخُلُوٓا۟ أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ
“Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. Az Zumar: 72)
Di dalam media sosial, pamer dikenal dengan flexing. Dan dapat menimbulkan sifat riya yang sangat dimurkai Allah SWT.
Pamer dapat berbentuk apa saja, seperti pamer akan harta, pamer akan jabatan atau kedudukan, hingga yang pamer akan keberhasilan yang telah dicapai.
Dalam Islam, pamer keberhasilan atau riya’ dilarang dan termasuk perbuatan dosa besar.
Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pamer dalam Islam:
- Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang yang memiliki sikap ria atau sombong dalam QS. Luqman ayat 18.
- Allah SWT mengunci hati setiap orang yang sombong dan berlaku sewenang-wenang.
- Allah SWT menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong.
- Pamer harta kekayaan termasuk sombong, salah satu tindakan yang dilarang dalam Islam.
- Pamer ibadah juga termasuk riya’ yang dilarang dalam Islam.
- Riya’ dapat membatalkan amalan dan mendatangkan murka Allah.
- Harta yang dibanggakan di dunia tidak akan membawa kebaikan jika hanya dipertontonkan kepada orang lain.
- Keberhasilan yang dicapai dipamerkan dan dibanggakan kepada khalayak ramai.
Hukum Pamer dan Membanggakan Diri dalam Islam
Memamerkan sesuatu yang dimiliki dengan tujuan dipuji atau mendapatkan penghargaan tentu dilakukan oleh sebagian orang, baik secara langsung maupun tidak langsung di media sosial.
Pamer kekayaan pun menjadi salah satu hal yang cukup banyak dibuat oleh masyarakat yang disampaikan ke media sosial akhir-akhir ini.
Tidak hanya memamerkan harta benda, terdapat juga orang-orang yang kerap membanggakan atau diri sendiri melalui apa yang telah dilakukannya. Dan bahkan pemimpin atau presiden juga menyampaikan keberhasilannya.
Lalu, bagaimana hukum pamer dan membanggakan diri sendiri dalam Islam? Bolehkah hal-hal itu dilakukan?
- Pamer
Memamerkan sesuatu yang kita miliki dengan tujuan dipuji atau mendapatkan penghargaan lebih dari orang lain adalah salah satu bentuk riya.
Dalam Islam, pamer sangat dilarang walaupun manusia terkadang khilaf dan suka melakukannya. Sehingga perlu diketahui terlebih dahulu seperti apa riya, dan bagaimana jika dilakukan di dalam Islam.
Perbuatan pamer tentunya memiliki motif yang berbeda-beda, maka dosa yang didapatkan juga beratnya tidak sama.
Berikut adalah perbuatan yang biasanya merupakan tindakan ria atau pamer adalah tidak ada tujuan untuk mencari pahala dan hanya untuk mencari pengakuan orang lain.
Kemudian tujuan mencari pahala yang sangat lemah, yakni mencari pahala tapi hanya sedikit, serta tujuan mencari pahala sekaligus riya.
Dalam hadits qudsi, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, menyatakan bahwa Allah tidak suka orang yang riya, dan akan membiarkan orang tersebut bersama sekutunya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: “أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Allah Tabarak awa Ta’ala berfirman: ‘Aku Zat yang paling tidak butuh kepada sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya itu ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku tinggalkan ia bersama sekutunya itu”. (H.R. Muslim).
Bagaimana jika apa yang kita lakukan dipamerkan di media sosial.
إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekah, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah: 271).
Dalam Tafsir At-Thabari, Imam Abu Jakfar, Imam Qatadah, Imam Ar-Rabi’, dan ulama lainnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah sedekah sunah, bukan sedekah wajib atau zakat.
Oleh karena itu, Allah tidak melarang kita menampakkan kebaikan-kebaikan di jalan Allah yang sunah seperti sedekah, tetapi lebih baik kita merahasiakannya karena lebih aman dari riya.
2.Membanggakan Diri
Sikap membanggakan diri sendiri dapat menjerumuskan seseorang pada perilaku riya yang tidak disukai Allah. Sikap ini juga akan membuat seseorang sombong karena merasa lebih baik dan sempurna.
Membanggakan diri atau ujub dan memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain, dapat memunculkan sifat sombong.
Dan hal itu diperingatkan Allah dalam Qur’an Surat Luqman ayat 18.
Selain itu, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sikap membanggakan diri juga merupakan perkara yang membinasakan.
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujub seseorang terhadap dirinya”. (Silsilah Shahihah Nomor 1802).
Allah SWT menjadikan neraka sebagai rumah bagi orang-orang yang sombong. Hal itu difirmankan Allah dalam Qur’an Surah Az Zumar 72
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahanam.
إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ
“Sesungguhnya penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk surga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan”. (Hadis Shahih. Riwayat Ahmad, 2/114: Al-Hakim, 2/499).
Semoga kita semua umat Muslim Muslimah dijauhkan dari sikap dan sifat riya yang mendatangkan kesombongan, angkuh, pamer akan jabatan atau kekayaan dan keberhasilan.
Allahu Akbar
[]