ARASYNEWS.COM – Dalam Al-Qur’an dan Hadist kata “bencana” dapat ditemukan dalam istilah yang bervariasi.
Kata musibah berasal dari kata a-ṣāba yang berarti sesuatu yang menimpa kita. Kata musibah dalam Al-Qur’an secara umum mengacu pada sesuatu yang netral, tidak negatif atau positif, sekalipun terdapat beberapa ayat yang mengaitkan dengan sesuatu yang negatif.
Hanya saja kata musibah dalam bahasa Indonesia selalu dikaitkan dengan semua peristiwa yang menyakitkan, menyengsarakan, dan bernilai negatif yang menimpa manusia.
Dalam konteks ini, musibah merupakan peristiwa yang menimpa manusia baik yang berasal dari peristiwa alam maupun sosial yang datang dari manusia.
Dalam istilah Al-Qur’an, apa saja yang menimpa manusia disebut dengan “musibah”, baik yang berwujud kebaikan atau keburukan bagi manusia (QS. Al Hadid: 22-23).
Allah juga menjelaskan bahwa jika “musibah” yang berupa kebaikan, maka hal itu berasal dari Allah, dan bila “musibah” berupa keburukan –yang kemudian disebut dengan bencana, maka karena perbuatan manusia sendiri (QS. An Nisa: 79).
Al-Qur’an juga secara jelas dan sempurna menguraikan bahwa tidak semua musibah adalah bencana. Musibah yang disebut bencana dan bermakna negatif adalah musibah yang mendatangkan keburukan bagi manusia dan hal itu merupakan hasil dari perbuatan manusia sendiri juga, bukan dari Allah, meskipun secara kasat mata musibah itu terjadi di alam (QS. Ghafir: 30).
Ketika musibah diartikan dengan penilaian yang negatif (mendatangkan keburukan), maka manusia dianjurkan untuk memaknainya dengan mengembalikan “esensi” peristiwanya kepada Allah. Dengan demikian, dalam konteks ini, manusia harus menyadari sepenuhnya bahwa dirinya hanyalah “pelaku dan penerima” cobaan Allah berupa sesuatu yang dinilai tidak baik tersebut (QS. Al Baqarah: 156).
Dengan memahami arti kata musibah seperti itu, maka musibah yang bernilai negatif merupakan salah satu cobaan dan ujian yang berupa keburukan. Dalam al-Quran cobaan dan ujian tersebut disebut dengan istilah balā’ (QS. Al Baqarah: 155).
Di samping berfungsi sebagai ujian dan cobaan yang berupa keburukan, balā’ juga merupakan ujian dan cobaan yang berupa kebaikan.
Untuk azab, berasal dari kata ‘a-ża-ba yang artinya sangat bervariasi sesuai dengan konteksnya. Azab bisa bermakna sesuatu yang membuat tersiksa, sebagaimana dalam hadits: Dari Abu Hurairah Ra. bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: “Safar adalah bagian dari siksa. (Ketika safar) salah seorang dari kalian akan terhalang (sulit) makan, minum dan tidur. Maka, jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya” [HR. al-Bukhāri dan Muslim].
Namun ketika kata azab dikaitkan dengan berbagai peristiwa yang menimpa manusia maka kata azab berarti siksaan.
Berbagai peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatan yang melanggar ketetapan Allah disebut dengan azab baik yang berdampak besar maupun kecil (QS. Ad Dukhan: 15-16).
Dengan memperhatikan makna kata azab, maka peristiwa-peristiwa yang merupakan azab berasal dari luar diri manusia atau dalam diri manusia yang berfungsi sebagai ancaman dan hukuman bagi perbuatan manusia yang melanggar ketetapan Allah.
Peristiwa yang masuk dalam kategori azab dapat berupa peristiwa alam yang dahsyat seperti tsunami, tanah longsor, banjir dan banjir bandang, gunung meletus, dan gempa bumi, ataupun berupa peristiwa sosial yang besar seperti peperangan dan ancaman sosial lainnya yang berfungsi sebagai peringatan agar manusia kembali pada ketetapan Allah (QS. Al Sajdah: 21-22).
Dengan memperhatikan penjelasan di atas, kata azab mengacu pada peristiwa akibat kesalahan manusia dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan manusia lain dan alam.
Peristiwa-peristiwa itu bukan merupakan bencana, karena berbagai peristiwa pasti akan terjadi, namun ketika manusia tidak memperhitungkan risiko yang akan ditimbulkan oleh peristiwa tersebut, maka manusia akan mengalami bencana.
Dengan demikian, kesalahan manusia terletak pada tidak dapat memperhitungkan dengan seksama risiko yang dapat ditimbulkan oleh berbagai peristiwa dahsyat tersebut. Oleh karena itu, sebagian ‘ażāb merupakan bencana bagi manusia yang melakukan kesalahan, yakni salah memperhitungkan faktor risiko dari peristiwa alam yang dahsyat itu.
[]