Lubang-lubang Besar yang Tembus di Riau dan Sumatera Barat, Menjadi Destinasi Wisata

ARASYNEWS.COM – Lubang atau gua secara umum ada yang terbentuk secara alami dan ada juga yang dengan bantuan tenaga manusia ataupun alat.

Gua atau lubang terbagi dua yakni gua horizontal dan vertikal. Beberapa keindahan penampakan hasil ciptaan Allah SWT yang ada dalamnya pada dasarnya sama, banyak ditemukan tanah, bebatuan dengan segala jenisnya, air, hingga stalagtit dan stalakmit.

Akses masuk ke dalam gua atau lubang berbeda-beda, baik vertikal ataupun horizontal, dan bahkan ada juga yang di dalamnya terdapat aliran air.

Selain itu, ada juga gua atau lubang yang tembus yang terbentuk secara alami ataupun hasil tangan manusia.

Untuk di wilayah provinsi Sumatera Barat banyak terdapat lubang yang tembus yang terbentuk dari hasil tangan manusia dan juga terbentuk secara alami.

Gua Pacualan di Agam. Gua ini memiliki dua mulut gua yang bisa saling tembus, menawarkan keindahan bebatuan alam yang unik untuk dijelajahi di Nagari Tigo Koto Silungkang.

Gua Tarang di Kamang, Agam. Ada tiga pintu dan yang satunya cukup gelap. Lokasinya berada di salah satu bukit di dekat area persawahan milik warga. Gua ini dahulunya pernah dipergunakan sebagai tempat persembunyian pada masa penjajahan dahulu. Di dalamnya terdapat beberapa stalagtit dengan bentuk yang bermacam-macam, bahkan ada yang seperti bunga yang mekar.

Ngalau Pangian di kabupaten Tanah Datar. Gua ini sangat indah dengan ornamen stalaktit dan stalakmit. Jika ditelusuri lebih dalam, konon bisa tembus di Nagari Barulak, tapi membutuhkan waktu dan perjalanan kaki yang cukup panjang di dalam rimba.

Lubang Jepang di Bukittinggi. Dahulunya terowongan ini dibuat untuk pertahanan militer Jepang. Memiliki jalur yang panjang dan berliku, ada juga ruangan-ruangan di dalamnya. Ini menjadi destinasi wisata sejarah populer di dekat Ngarai Sianok.

Lubang Jepang Padang Besi di kota Padang. Situs sejarah di Kota Padang yang juga merupakan terowongan peninggalan Jepang. Dan di wilayah kota Padang lainnya juga ada beberapa lubang-lubang yang tembus yang dipergunakan sebagai pemantau, pertahanan masa penjajahan Jepang dan sebagai gudang senjata, seperti Lubang Jepang di Lubuk Minturun, lubang Jepang Gunung Pangilun.

Lubang PLTA Danau Singkarak, menembus perbukitan dengan panjangnya mencapai 19 kilometer. Menghubungkan PLTA Danau Singkarak dengan Lubuk Alung. Dipergunakan untuk aliran air serta keperluan pihak PLTA terkait. Ukuran lubang ini bahkan bisa masuk bus.

Lubang buatan lainnya yang juga tembus juga terdapat di Cagar Alam Lembah Anai, di Sawahlunto, dan di Sijunjung. Panjangnya juga beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan meter. Lubang ini sengaja dibuat dengan tenaga manusia dan bahkan dengan dikerja paksa. Dibuat untuk menghubungkan dan mempermudah dari satu daerah ke daerah lainnya. Sebagai akses perlintasan kereta api. Sedangkan di Sawahlunto, ada juga lubang yang dibuat tembus yang dipergunakan untuk tambang batubara, dikenal dengan lubang tambang Mbah Suro.

Sementara itu untuk di Riau ada lubang yang tembus yang terbentuk dari hasil karya manusia. Lokasinya berada di wilayah Kabupaten Kampar, tepatnya di Desa Marangin. Dikenal dengan Lubang Kalam, hasil karya manusia pada masa penjajahan Kolonial Belanda. Panjangnya kurang dari 100 meter, dan kendaraan roda empat hingga lebih bisa masuk melintasinya.

[]

You May Also Like