ARASYNEWS.COM – Batang Anai adalah nama sungai yang terdapat di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Sungai ini mengalir di dalam kawasan Cagar Alam Lembah Anai yang aliran airnya berhulu dari tiga gunung, yakni gunung Tandikat, gunung Singgalang, dan gunung Marapi kemudian bermuara di Muaro Anai di dekat kota Padang yang masuk dalam kawasan Padang Pariaman.
Cagar Alam Lembah Anai yang memiliki luas 221 hektare sudah berdiri sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, sekitar 1922
Batang Anai menjadi salah satu Sungai tua yang menjadi nama sebuah kecamatan di daerah itu, melintasi banyak kampung dari hulu hingga muaranya di Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai.
Menurut orang-orang terdahulu, kondisi sungai itu sudah banyak berubah. Airnya dulu mengalir deras, batu besar-besar yang banyak sudah di temui dulunya, sekarang nyaris hilang, sehingga derasnya pun menjadi jauh berkurang. Tetapi ini berbeda dengan kondisi yang saat ini terjadi.
Dulu, saking deras dan dalamnya sungai menjadi sumber kehidupan sebagian masyarakat. Untuk menyeberangi menggunakan sampan. Tapi itu tidak lagi karena sudah banyak dibangun jembatan.
Menurut hitungan orang pintar atau tokoh masyarakat, Sungai Batang Anai ini siklus musiman. Ada besarnya setahun sekali yang seolah-olah wajib membawa petaka, seperti adanya korban meninggal setiap musimannya tiba tersebut.
Terjadi air bah atau galodo yang pernah menghantam pemukiman, menghanyutkan sawah dan ladang masyarakat di sepanjang aliran sungai bersejarah ini.
Memang hitungan demikian tak boleh kita percayai, karena akan merusak keimanan kita kepada Tuhan. Namun, faktanya setiap musiman tiba tak bisa dielakkan.
Sementara itu, kawasan lembah Anai ini ada banyak kisah kelam, diantaranya ada kerja paksa pada zaman kolonial Belanda, ada pertempuran pribumi dengan penjajah, ada kecelakaan kereta api yang merenggut ratusan korban jiwa, hingga pada bencana alam.
Lembah Anai juga terkenal dengan daerahnya yang rawan. Menjadi lokasi persembunyian para penyamun yang merampok pedati. Kawasan ini menjadi satu-satunya rute dari Padang dan Pariaman ke Bukittinggi dan sebaliknya.

Para penunggang pedati biasanya akan mengangkut kelapa ataupun batok kelapa dari daerah pariaman untuk dijual ke Bukittinggi. Sementara dari Bukittinggi mereka akan membawa kapur yang akan digunakan untuk membangun rumah dan akan melewati jalur yang sama.
Bahkan ada juga yang tewas akibat pembunuhan sehingga dipercaya bahwa roh-roh para korban masih menghantui daerah tersebut sehingga menambah kesan angker.
Kisah lainnya, di kawasan ini dulunya pernah ditemukan kebun jeruk yang berbuah lebat. Hanya saja mereka tidak berani untuk membawa hasil jeruk tersebut karena dikhawatirkan akan tersesat. Mereka hanya memakan sekedarnya saja. Kebun itu berada di atas aliran air terjun lembah Anai.
Kisah lainnya lagi ada legenda yang mengisahkan tentang seorang putri cantik yang dikutuk menjadi air terjun karena melanggar janji kepada orang tuanya.
Selain itu, ada juga penduduk sekitar meyakini bahwa air terjun di kawasan ini dialiri oleh air dari Telaga Dewi yang berasal dari gunung Singgalang, tempat mandi para dewi. Siapa pun yang mencuci wajahnya dengan air dari Lembah Anai akan mendapatkan khasiat awet muda.
Untuk diketahui, nama “Lembah Anai” berasal dari bahasa Minangkabau, di mana “Anai” berarti “air terjun”. Nama ini secara harfiah menggambarkan keberadaan air terjun yang spektakuler di lembah tersebut, yang merupakan simbol pariwisata Sumatera Barat. Masyarakat setempat juga menyebutnya dengan sebutan “Air Mancur” karena keindahan aliran airnya.
[]